23.6 C
Kediri
Monday, August 15, 2022

Terdampak Longsor, Pipa 15 Meter Putus

- Advertisement -

NGETOS, JP Radar Nganjuk – Bencana longsor yang memakan korban jiwa pada 2017 menjadi sejarah kelam warga Desa Kepel, Kecamatan Ngetos. Hingga kemarin, bekas tanah longsor itu masih jadi ancaman yang membahayakan.

Kamis (14/1) lalu, sekitar pukul 17.00 warga di sekitar lokasi bencana tersebut dikagetkan suara gemuruh yang bersumber dari titik longsor. Arif, 36, warga Desa Blongko, Ngetos, sempat mengetahui melorotnya material itu.

“Karena tahu ada longsor susulan saya langsung sampaikan ke Babinsa lalu diteruskan ke BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Red),” kata pria yang juga perangkat desa tersebut. Sore itu juga, tim BPBD ke lokasi untuk melakukan asesmen.

Saat itu anggota BPBD baru terima laporan masuk malam. Tiba di lokasi pukul 22.09, mereka kesulitan memantau langsung. Selain situasi gelap, juga sedang hujan. “Asesmen kami lanjutkan hari ini (kemarin, Red),” ucap Nugroho, Kabid Pencegahan atau Mitigasi dan Kesiapsiagaan BPBD Nganjuk.

Baca Juga :  Sudah Gabah Murah, Mau Impor Pula
- Advertisement -

Hasil asesmen, diketahui longsor susulan sepanjang 15 meter. Yang memprihatinkan, lokasinya berada tepat di atas mahkota longsor 2017. Karena kondisi berbahaya, pemantauan hanya bisa di arah Desa Blongko.

Dampak longsor ini tidak hanya menimbun lahan pertanian di bawahnya. Pipa sepanjang 15 meter yang baru dipasang warga untuk air minum terputus. “Pipa yang putus tidak mengnggu air minum warga,” ungkap Nugroho. Dia mengklaim, pipa yang terputus hanya alternatif. Bukan sumber pipa utama.

Selain itu, yang cukup mengejutkan, mahkota longsor saat ini sudah mengalami penurunan tanah. Amblesnya dari 15 sentimeter sampai 30 sentimeter. Peristiwa alam itu disebabkan dampak hujan dengan intensitas lebat.

Baca Juga :  Objek Wisata Ditutup 12 Hari

Dampak longsor mengakibatkan lahan padi tertutup. Maka BPBD mengimbau warga tidak beraktivitas di sekitar lokasi sementara waktu. “Terutama saat terjadi hujan, sebaiknya berhenti beraktivitas di sekitar longsor,” tutur Nugroho.

Dia mengatakan, akibat kejadian 2017 longsor di wilayah Nganjuk masuk peta nasional rawan longsor. Bahkan untuk Desa Kepel sampai kini masuk zona merah. Karena berpotensi terjadi longsor susulan, warga diminta tidak lagi beraktivitas di sana.

- Advertisement -

NGETOS, JP Radar Nganjuk – Bencana longsor yang memakan korban jiwa pada 2017 menjadi sejarah kelam warga Desa Kepel, Kecamatan Ngetos. Hingga kemarin, bekas tanah longsor itu masih jadi ancaman yang membahayakan.

Kamis (14/1) lalu, sekitar pukul 17.00 warga di sekitar lokasi bencana tersebut dikagetkan suara gemuruh yang bersumber dari titik longsor. Arif, 36, warga Desa Blongko, Ngetos, sempat mengetahui melorotnya material itu.

“Karena tahu ada longsor susulan saya langsung sampaikan ke Babinsa lalu diteruskan ke BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Red),” kata pria yang juga perangkat desa tersebut. Sore itu juga, tim BPBD ke lokasi untuk melakukan asesmen.

Saat itu anggota BPBD baru terima laporan masuk malam. Tiba di lokasi pukul 22.09, mereka kesulitan memantau langsung. Selain situasi gelap, juga sedang hujan. “Asesmen kami lanjutkan hari ini (kemarin, Red),” ucap Nugroho, Kabid Pencegahan atau Mitigasi dan Kesiapsiagaan BPBD Nganjuk.

Baca Juga :  Hari Ini Vonis 5 Camat

Hasil asesmen, diketahui longsor susulan sepanjang 15 meter. Yang memprihatinkan, lokasinya berada tepat di atas mahkota longsor 2017. Karena kondisi berbahaya, pemantauan hanya bisa di arah Desa Blongko.

Dampak longsor ini tidak hanya menimbun lahan pertanian di bawahnya. Pipa sepanjang 15 meter yang baru dipasang warga untuk air minum terputus. “Pipa yang putus tidak mengnggu air minum warga,” ungkap Nugroho. Dia mengklaim, pipa yang terputus hanya alternatif. Bukan sumber pipa utama.

Selain itu, yang cukup mengejutkan, mahkota longsor saat ini sudah mengalami penurunan tanah. Amblesnya dari 15 sentimeter sampai 30 sentimeter. Peristiwa alam itu disebabkan dampak hujan dengan intensitas lebat.

Baca Juga :  Pemkab Sebut Situs Tondowongso Terawat selama Pandemi Korona

Dampak longsor mengakibatkan lahan padi tertutup. Maka BPBD mengimbau warga tidak beraktivitas di sekitar lokasi sementara waktu. “Terutama saat terjadi hujan, sebaiknya berhenti beraktivitas di sekitar longsor,” tutur Nugroho.

Dia mengatakan, akibat kejadian 2017 longsor di wilayah Nganjuk masuk peta nasional rawan longsor. Bahkan untuk Desa Kepel sampai kini masuk zona merah. Karena berpotensi terjadi longsor susulan, warga diminta tidak lagi beraktivitas di sana.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/