26.2 C
Kediri
Tuesday, July 5, 2022

Situs Adan-Adan Kediri: Terkuak Candi Budha Terbesar di Jatim

Penggalian hingga kali kelima tak hanya membuka cerita tentang peradaban kuno di Kediri. Temuan demi temuan yang terjadi menjadi penguat dugaan situs Adan-Adan sebagai candi Budha terbesar di Jatim.

Tak ada stupa. Juga, masih belum terlihat arca-arca yang menggambarkan Budha dalam berbagai posisi semedinya. Toh, para peneliti kian yakin bahwa Situs Adan-Adan di Kecamatan Gurah merupakan candi Budha terbesar di Jatim. 

Tentu saja, dugaan para peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) itu baru terbukti bila proses ekskavasi sudah tuntas. Dan, bila melihat kondisi saat ini, proses itu masih jauh. Butuh berbagai penggalian lagi. Termasuk harus membebaskan lahan penduduk. 

“Rencananya tahun depan masih ada satu lagi proses ekskavasi,” terang Sukawati Susetyo, ketua Tim Ekskavasi Puslit Arkenas, tim yang melakukan penelitian di situs ini.

Sementara, saat ini proses ekskavasi sudah yang kelima kalinya. Bila tahun depan kembali berlangsung maka itu menjadi yang keenam. Padahal, dari sisi wujud, Situs Adan-Adan belum menampakkan sebagai sebuah candi besar.

Baca Juga :  DLH Perlu TPST di Tiap Kecamatan

Candi Adan-Adan sendiri, diperkirakan, masih tersimpan di kedalaman tanah. Sekitar dua sampai tiga meter dari permukaan. Beberapa ornamen dan bagian candi sudah ditemukan dalam proses ekskavasi sebelumnya. Seperti makara, kepala kala, arca dwarapala, serta fragmen arca dan keramik.

Candi ini berbahan batu andesit dan bata merah. Bagian luarnya dibentuk dari batu-batuan. Sedangkan di bagian dalam diperkuat pasangan bata merah.

Situs yang berada di Dusun Candi, Desa Adan-Adan, Kecamatan Gurah ini merupakan peninggalan masa Hindu-Budha. Lokasinya berada di antara gunung-gunung. Yaitu Gunung Kelud, Gunung Wilis, dan Gunung Anjasmara. “Ini menunjukan tempat suci. Itulah sebabnya dipilih nenek moyang untuk bangunan suci,” terang  Sukawati. 

Tak jauh dari tempat itu juga ada beberapa situs lain. Yakni Candi Gurah, Candi Tondowongso, Candi Sumbercangkring, Prasasti Tangkilan, dan Prasasti Tirukidul.

Tahun ini, ekskavasi yang dilakukan tim Puslit Arkenas mulai menguak ukuran candi. Bentuknya persegi, dengan ukuran 25 x 25 meter. Ukuran inilah yang menguatkan dugaan bahwa Candi Adan-Adan merupakan candi besar. 

Baca Juga :  Wayang Cekli dengan Dalang Cilik Ramaikan Lomba Kliping Kreatif

“Kalau dilihat dari temuan arca yang bersifat Buddhist, dapat dikatakan Candi Adan-Adan adalah Candi Budha Terbesar di Jawa Timur,” imbuh perempuan yang akrab disapa Wati itu. 

Lalu dari masa apa candi tersebut berasal? Wati mengungkapkan, candi tersebut kemungkinan berasal dari masa Kadhiri. Dugaan itu ditopang dengan fakta bahwa candi menggunakan satu pintu, makara yang besar dan tinggi, dwarapala yang juga tinggi, serta bentuk candi utama yang persegi.

“Merupakan candi Budha karena ada arca Dhyani Budha dan arca Bodhisattva,” jelas perempuan berkaca mata ini. 

Selain itu, candi ini meruapakn gaya peralihan antara Jawa Tengah dan gaya Kadhiri atau Singhasari. Memiliki kemiripan dengan Candi Tegawangi dan Surawana yang sama-sama berbahan batu andesit dan susunan bata.  (wi/fud)

- Advertisement -

Penggalian hingga kali kelima tak hanya membuka cerita tentang peradaban kuno di Kediri. Temuan demi temuan yang terjadi menjadi penguat dugaan situs Adan-Adan sebagai candi Budha terbesar di Jatim.

Tak ada stupa. Juga, masih belum terlihat arca-arca yang menggambarkan Budha dalam berbagai posisi semedinya. Toh, para peneliti kian yakin bahwa Situs Adan-Adan di Kecamatan Gurah merupakan candi Budha terbesar di Jatim. 

Tentu saja, dugaan para peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) itu baru terbukti bila proses ekskavasi sudah tuntas. Dan, bila melihat kondisi saat ini, proses itu masih jauh. Butuh berbagai penggalian lagi. Termasuk harus membebaskan lahan penduduk. 

“Rencananya tahun depan masih ada satu lagi proses ekskavasi,” terang Sukawati Susetyo, ketua Tim Ekskavasi Puslit Arkenas, tim yang melakukan penelitian di situs ini.

Sementara, saat ini proses ekskavasi sudah yang kelima kalinya. Bila tahun depan kembali berlangsung maka itu menjadi yang keenam. Padahal, dari sisi wujud, Situs Adan-Adan belum menampakkan sebagai sebuah candi besar.

Baca Juga :  Tradisi di Tunglur: Bancakan Seribu Encek Lele

Candi Adan-Adan sendiri, diperkirakan, masih tersimpan di kedalaman tanah. Sekitar dua sampai tiga meter dari permukaan. Beberapa ornamen dan bagian candi sudah ditemukan dalam proses ekskavasi sebelumnya. Seperti makara, kepala kala, arca dwarapala, serta fragmen arca dan keramik.

Candi ini berbahan batu andesit dan bata merah. Bagian luarnya dibentuk dari batu-batuan. Sedangkan di bagian dalam diperkuat pasangan bata merah.

Situs yang berada di Dusun Candi, Desa Adan-Adan, Kecamatan Gurah ini merupakan peninggalan masa Hindu-Budha. Lokasinya berada di antara gunung-gunung. Yaitu Gunung Kelud, Gunung Wilis, dan Gunung Anjasmara. “Ini menunjukan tempat suci. Itulah sebabnya dipilih nenek moyang untuk bangunan suci,” terang  Sukawati. 

Tak jauh dari tempat itu juga ada beberapa situs lain. Yakni Candi Gurah, Candi Tondowongso, Candi Sumbercangkring, Prasasti Tangkilan, dan Prasasti Tirukidul.

Tahun ini, ekskavasi yang dilakukan tim Puslit Arkenas mulai menguak ukuran candi. Bentuknya persegi, dengan ukuran 25 x 25 meter. Ukuran inilah yang menguatkan dugaan bahwa Candi Adan-Adan merupakan candi besar. 

Baca Juga :  Hujan Ganggu Ekskavasi Candi Klotok di Kediri

“Kalau dilihat dari temuan arca yang bersifat Buddhist, dapat dikatakan Candi Adan-Adan adalah Candi Budha Terbesar di Jawa Timur,” imbuh perempuan yang akrab disapa Wati itu. 

Lalu dari masa apa candi tersebut berasal? Wati mengungkapkan, candi tersebut kemungkinan berasal dari masa Kadhiri. Dugaan itu ditopang dengan fakta bahwa candi menggunakan satu pintu, makara yang besar dan tinggi, dwarapala yang juga tinggi, serta bentuk candi utama yang persegi.

“Merupakan candi Budha karena ada arca Dhyani Budha dan arca Bodhisattva,” jelas perempuan berkaca mata ini. 

Selain itu, candi ini meruapakn gaya peralihan antara Jawa Tengah dan gaya Kadhiri atau Singhasari. Memiliki kemiripan dengan Candi Tegawangi dan Surawana yang sama-sama berbahan batu andesit dan susunan bata.  (wi/fud)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/