22.6 C
Kediri
Tuesday, June 28, 2022

Tekan DB melalui Kerja Sama Warga

KEDIRI KOTA- Jumlah pasien demam berdarah dengue (DBD) di Kota Kediri lebih sedikit dibanding Kabupaten Kediri. Per Januari tahun ini, jumlahnya hanya sebelas pasien. Kondisi itu tak lepas dari langkah pencegahan yang melibatkan perangkat kelurahan, warga, hingga kader jumantik.

“Sejak masuk musim hujan saya sudah berikan imbauan ke warga melalui RT,” kata Rohmat Setyo Rianto, kepala Kelurahan Kampungdalem.

Menurutnya, warga ditekankan untuk sadar lingkungan. Menjaga kebersihan lingkungan sekaligus tidak membuang sampah sembarangan. Terutama kemasan kaleng dan botol yang rentan jadi genangan air. Yang bisa digunakan nyamuk bertelur.

Rohmat  menceritakan bila salah satu yang rutin dilakukan warga di kelurahannya adalah kerja bakti. Biasanya pada Minggu pagi. “Masih sebatas itu yang kami lakukan untuk pencegahan. Dan selalu ada kader jumantik. Minggu ini kami ingatkan lagi melalui rapat pleno pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK),” terang ayah satu anak ini.

Baca Juga :  Idham Chalik, Seniman Paper Quilling asal Kediri

Rohmat menjelaskan bila pola pencegahan demikian adalah alternatif lain selain fogging. “Karena (fogging) kurang efektif juga. Jadi pencegahannya lebih ke pola hidup bersih saja,” imbuhnya.

Tri Muniarti, kader jumantik di kelurahan tersebut menjelaskan bila pengecekan jentik-jentik di kamar mandi rumah warga awalnya adalah inisiatif. Namun semenjak musim hujan merupakan sinergi pencegahan  DBD. “ Sebenarnya ngecek tidak harus Minggu, hari biasa juga dilakukan. Kecuali rumah pegawai dan karyawan yang hanya libur hari Minggu,” paparnya.

Ia juga mengakui untuk Kampungdalem belum ditemukan warga yang menderita DB. “Kebetulan saat kami ngecek bejana kamar mandi pada bersih-bersih. Kalau ada jentiknya kami ingatkan untuk segera dikuras dan diberi abate,” terangnya.

Bambang Supriyanta, kepala Kelurahan Manisrenggo, Kota Kediri juga mengungkapkan hal yang serupa. “Yang jelas memaksimalkan kegiatan  kerja kader jumantik. Karena bak kamar mandi rentan untuk perkembangbiakan nyamuk,” katanya. Ia juga menjelaskan sosialisasi dan penyuluhan disampaikan pula saat kegiatan keagamaan.

Baca Juga :  Kisah Siti Asmonah, setelah Atap Rumahnya Lepas Tersapu Puting Beliung

Sementara itu Koordinator Bidang Advokasi Lembaga Perlindungan Anak (LPA), Heri Nurdianto menekankan perlunya kesadaran dan kepedulian  orang tua untuk mengantisipasi hal buruk yang terjadi. Seperti dalam kasus serangan DBD. Karena anak-anak rentan mengalaminya. “Selama ini lingkungan yang sehat itu bagian dari hak hidup anak,” tegasnya.

Selain itu, laki-laki ini juga berharap pemerintah mengevaluasi kader jumantik. Mereka harus lebih sering melakukan pengecekan dari hari biasanya“Pemerintah juga harus menjamin layanan anak-anak yang terkena DBD. Hal ini sebagai bentuk pemenuhan hak anak pada sektor kesehatan,” ingat Heri.

 

- Advertisement -

KEDIRI KOTA- Jumlah pasien demam berdarah dengue (DBD) di Kota Kediri lebih sedikit dibanding Kabupaten Kediri. Per Januari tahun ini, jumlahnya hanya sebelas pasien. Kondisi itu tak lepas dari langkah pencegahan yang melibatkan perangkat kelurahan, warga, hingga kader jumantik.

“Sejak masuk musim hujan saya sudah berikan imbauan ke warga melalui RT,” kata Rohmat Setyo Rianto, kepala Kelurahan Kampungdalem.

Menurutnya, warga ditekankan untuk sadar lingkungan. Menjaga kebersihan lingkungan sekaligus tidak membuang sampah sembarangan. Terutama kemasan kaleng dan botol yang rentan jadi genangan air. Yang bisa digunakan nyamuk bertelur.

Rohmat  menceritakan bila salah satu yang rutin dilakukan warga di kelurahannya adalah kerja bakti. Biasanya pada Minggu pagi. “Masih sebatas itu yang kami lakukan untuk pencegahan. Dan selalu ada kader jumantik. Minggu ini kami ingatkan lagi melalui rapat pleno pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK),” terang ayah satu anak ini.

Baca Juga :  Bahu-membahu Bantu Sembako Lingkungan Terdampak Covid-19

Rohmat menjelaskan bila pola pencegahan demikian adalah alternatif lain selain fogging. “Karena (fogging) kurang efektif juga. Jadi pencegahannya lebih ke pola hidup bersih saja,” imbuhnya.

Tri Muniarti, kader jumantik di kelurahan tersebut menjelaskan bila pengecekan jentik-jentik di kamar mandi rumah warga awalnya adalah inisiatif. Namun semenjak musim hujan merupakan sinergi pencegahan  DBD. “ Sebenarnya ngecek tidak harus Minggu, hari biasa juga dilakukan. Kecuali rumah pegawai dan karyawan yang hanya libur hari Minggu,” paparnya.

Ia juga mengakui untuk Kampungdalem belum ditemukan warga yang menderita DB. “Kebetulan saat kami ngecek bejana kamar mandi pada bersih-bersih. Kalau ada jentiknya kami ingatkan untuk segera dikuras dan diberi abate,” terangnya.

Bambang Supriyanta, kepala Kelurahan Manisrenggo, Kota Kediri juga mengungkapkan hal yang serupa. “Yang jelas memaksimalkan kegiatan  kerja kader jumantik. Karena bak kamar mandi rentan untuk perkembangbiakan nyamuk,” katanya. Ia juga menjelaskan sosialisasi dan penyuluhan disampaikan pula saat kegiatan keagamaan.

Baca Juga :  Kisah Siti Asmonah, setelah Atap Rumahnya Lepas Tersapu Puting Beliung

Sementara itu Koordinator Bidang Advokasi Lembaga Perlindungan Anak (LPA), Heri Nurdianto menekankan perlunya kesadaran dan kepedulian  orang tua untuk mengantisipasi hal buruk yang terjadi. Seperti dalam kasus serangan DBD. Karena anak-anak rentan mengalaminya. “Selama ini lingkungan yang sehat itu bagian dari hak hidup anak,” tegasnya.

Selain itu, laki-laki ini juga berharap pemerintah mengevaluasi kader jumantik. Mereka harus lebih sering melakukan pengecekan dari hari biasanya“Pemerintah juga harus menjamin layanan anak-anak yang terkena DBD. Hal ini sebagai bentuk pemenuhan hak anak pada sektor kesehatan,” ingat Heri.

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/