25.6 C
Kediri
Friday, July 1, 2022

Aset Desa yang Kena Dampak Tol Kediri-Kertosono Harus Tukar Guling

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Proyek pembangunan jalan Tol Kediri-Kertosono akan memakan tanah kas desa di Kabupaten Nganjuk. Karena tol sepanjang 20,75 kilometer itu akan melewati 17 desa di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Prambon, Tanjunganom dan Sukomoro. Dari 17 desa itu kemungkinan besar, tanah kas desa setempat akan terkena dampak pembangunan tol yang menuju Bandara Kediri. “Berapa luas tanah kas desa yang akan terkena Tol Kediri-Kertosono, kami belum mengetahui karena penentuan lokasi (penlok) belum dilakukan,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Nganjuk Tri Wahju Kuntjoro kemarin.

Untuk tanah kas desa, mayoritas adalah sawah. Ini menjadi bengkok bagi perangkat desa. Estimasi untuk lahan efektif untuk Tol Kediri-Kertosono yang dibutuhkan adalah 179 hektare. Kecamatan Prambon yang paling banyak terkena dampak tol, yaitu 90,11 hektare. Kemudian, Kecamatan Tanjunganom seluas 64,75 hektare dan Kecamatan Sukomoro hanya 24,64 hektare (selengkapnya lihat tabel, Red).

Baca Juga :  Kota Kediri Tak Mendapat Jatah SP 36

Tri mengatakan, untuk tanah kas desa yang terkena dampak tol tidak boleh dibeli. Karena itu merupakan aset desa. “Mekanisme untuk tanah kas desa adalah tukar guling. Tidak jual beli,” tandasnya.

Tukar guling ini bisa dengan cara tanah kas desa yang terkena tol ditukar dengan aset yang juga ada di desa tersebut. Lalu yang kedua, dapat juga ditukar dengan aset tanah di luar desa. “Diutamakan tetap berada di satu desa tersebut untuk memudahkan prosesnya,” ujar Tri.

Pejabat yang secara definitif sebagai Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Nganjuk ini berharap, proses tukar guling nanti tidak akan mengganggu proyek tol atau menimbulkan gejolak. Karena tujuan tol itu untuk meningkatkan perekonomian masyarakat dan mencegah kemacetan. “Semoga semua proses berjalan dengan lancar,” harapnya.

Baca Juga :  Batasi Mobilitas Warga, Pemkot Kediri Tak Ingin Covid-19 Melonjak

Sementara itu, Kepala Desa Sugihwaras Sutrisno mengatakan, Desa Sugihwaras yang paling banyak terkena dampak tol. Untuk lahan efektif yang harus digusur karena ada tol adalah 29,83 hektare. Hanya, dia belum mengetahui, berapa luas tanah kas desa yang terkena dampak tol tersebut. “Tanah kas desa yang kena tol itu mana saja kami belum tahu,” ungkapnya.

Sutrisno mengatakan, dia masih menunggu penlok. Rencananya, penlok akan dilaksanakan pada 17 November. Setelah patok tol dipasang, maka mana saja yang akan kena tol akan terlihat. “Sampai saat ini kami mendukung pembangunan tol dan kondisi tetap kondusif,” ujarnya.

- Advertisement -

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Proyek pembangunan jalan Tol Kediri-Kertosono akan memakan tanah kas desa di Kabupaten Nganjuk. Karena tol sepanjang 20,75 kilometer itu akan melewati 17 desa di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Prambon, Tanjunganom dan Sukomoro. Dari 17 desa itu kemungkinan besar, tanah kas desa setempat akan terkena dampak pembangunan tol yang menuju Bandara Kediri. “Berapa luas tanah kas desa yang akan terkena Tol Kediri-Kertosono, kami belum mengetahui karena penentuan lokasi (penlok) belum dilakukan,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Nganjuk Tri Wahju Kuntjoro kemarin.

Untuk tanah kas desa, mayoritas adalah sawah. Ini menjadi bengkok bagi perangkat desa. Estimasi untuk lahan efektif untuk Tol Kediri-Kertosono yang dibutuhkan adalah 179 hektare. Kecamatan Prambon yang paling banyak terkena dampak tol, yaitu 90,11 hektare. Kemudian, Kecamatan Tanjunganom seluas 64,75 hektare dan Kecamatan Sukomoro hanya 24,64 hektare (selengkapnya lihat tabel, Red).

Baca Juga :  Warga Guyangan Tolak Praktik Prostitusi

Tri mengatakan, untuk tanah kas desa yang terkena dampak tol tidak boleh dibeli. Karena itu merupakan aset desa. “Mekanisme untuk tanah kas desa adalah tukar guling. Tidak jual beli,” tandasnya.

Tukar guling ini bisa dengan cara tanah kas desa yang terkena tol ditukar dengan aset yang juga ada di desa tersebut. Lalu yang kedua, dapat juga ditukar dengan aset tanah di luar desa. “Diutamakan tetap berada di satu desa tersebut untuk memudahkan prosesnya,” ujar Tri.

Pejabat yang secara definitif sebagai Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Nganjuk ini berharap, proses tukar guling nanti tidak akan mengganggu proyek tol atau menimbulkan gejolak. Karena tujuan tol itu untuk meningkatkan perekonomian masyarakat dan mencegah kemacetan. “Semoga semua proses berjalan dengan lancar,” harapnya.

Baca Juga :  Dewan Desak Plt Kepsek Didefinitifkan

Sementara itu, Kepala Desa Sugihwaras Sutrisno mengatakan, Desa Sugihwaras yang paling banyak terkena dampak tol. Untuk lahan efektif yang harus digusur karena ada tol adalah 29,83 hektare. Hanya, dia belum mengetahui, berapa luas tanah kas desa yang terkena dampak tol tersebut. “Tanah kas desa yang kena tol itu mana saja kami belum tahu,” ungkapnya.

Sutrisno mengatakan, dia masih menunggu penlok. Rencananya, penlok akan dilaksanakan pada 17 November. Setelah patok tol dipasang, maka mana saja yang akan kena tol akan terlihat. “Sampai saat ini kami mendukung pembangunan tol dan kondisi tetap kondusif,” ujarnya.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/