24.7 C
Kediri
Sunday, July 3, 2022

Kualitas Udara di Kediri Kian Membaik

Pandemi korona tak melulu berimbas pada ketakutan. Ada sisi positif yang terjadi. Yaitu meningkatnya kualitas udara akibat mobilitas warga yang menurun. Mampukah kondisi ini bertahan di Kediri?

 

Sejak wabah korona ditetapkan sebagai pandemi, berbagai aturan dikeluarkan Pemerintah. Imbasnya adalah menurunnya volume kendaraan di jalanan. Mengurangi tingkat kemacetan.

Sektor industri pun demikian. Beberapa perusahaan memilih mengurangi jumlah karyawan. Sebagian dirumahkan sementara. Dampaknya, aktivitas pabrik pun berkurang.

Kondisi itu memicu terjadinya perbaikan kualitas udara. Hasil pengukuran indeks kualitas udara (IKU) di Kediri sejak pandemi menegaskan hal itu. Pada 2021  IKU di Kota Kediri masuk dalam kategori baik.

“IKU Kota Kediri di angka 92,27 persen. Di rentang 70-90 itu masuk kategori baik,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri Anang Kurniawan.

Anang memerinci, pengukuran sulfur dioksida pada Juli lalu menunjukkan hasil 8,36 mikrogram per kubik. Kemudian, pada awal Oktober turun menjadi 4,28 mikrogram per kubik. Memang, tidak ada ambang batas dalam pengukuran itu. Namun, angka-angka di atas menunjukkan adanya perbaikan kualitas udara.

“Tahun lalu IKU makin baik. Salah satu faktornya, aktivitas masyarakat menurun,” tuturnya.

Sejak diterapkan pembatasan, jumlah polusi, terutama yang disumbangkan dari gas buang kendaraan, makin berkurang. Selama ini polusi dari kendaraan mendominasi penyumbang berkurangnya kualitas udara. Sebagai kota dengan aktivitas masyarakat sehari-hari yang tergolong padat, gas buang kendaraan menyumbang polusi udara paling banyak.

Baca Juga :  Langsung Ada Tambahan 9 Positif Korona di Kota Kediri

Nah, ketika mobilitas masyarakat dibatasi otomatis berkurang pula aktivitas kendaraan di jalanan yang membuat polusi udara juga berkurang.

Berkurangnya mobilitas warga bukan menjadi satu-satunya faktor pembaik kualitas udara. Kondisi ini juga disumbang oleh bertambahnya ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Kediri dari tahun ke tahun. Taman-taman baru terus dimunculkan pemkot. Baik taman aktif berskala besar maupun taman-taman pasif di median jalan.

Terlebih pemkot mewajibkan setiap kelurahan harus memiliki satu RTH. Selain untuk menyiasati keterbatasan lahan di Kota Kediri juga untuk menjaga IKU.

Sampai 2019, tercatat sudah ada delapan kelurahan yang sudah merealisasikan RTH tersebut. Yaitu Kelurahan Betet, Burengan, Dandangan, Gayam, Manisrenggo, Mojoroto, Pakelan, dan Sukorame. Selain itu juga menambahkan RTH di depan Lapangan Gajahmada di Kecamatan Pesantren.

Sebelum pandemi Covid-19, RTH yang telah dibangun tersebut ramai didatangi oleh warga. Namun, kini relatif sepi mengingat anak-anak tidak dianjurkan ke luar rumah.

Anang mengungkapkan, sebenarnya pada 2020 pemkot harus mewujudkan delapan RTH di delapan kelurahan. Kemudian pada 2021 menambah empat RTH. Sehingga total akan ada 12 RTH baru. “Namun karena anggaran diprioritaskan untuk penanggulangan Covid-19 di Kota Kediri maka belum terealisasi sepenuhnya, jadi target pada 2022 ada penambahan RTH menjadi 15,” tuturnya.

Ruang terbuka hijau di Kota Kediri saat ini telah mencapai 16.95 persen. Menurutnya itu sudah melebihi target yaitu 16.92 persen. “Jadi RTH Kota Kediri sudah seluas seribu hektare lebih,” terangnya.

Baca Juga :  Kala Pohon Pelindung di Jalur Hijau Kota Kediri Justru Jadi Ancaman

Jumlah itu baru yang dikelola dan dikembangkan pemkot langsung. Jika dihitung RTH yang disumbangkan swasta, jumlahnya bisa lebih dari 20 persen.

”Misalnya, di perumahan atau kampus,” ujarnya. Perumahan memang wajib menyediakan fasum untuk RTH. Sementara itu, contoh kampus bisa dilihat di Uniska dan Unik.

Hal serupa juga terjadi di Kabupaten Kediri. Berkurangnya pergerakan kendaraan bermotor di jalanan mengurangi sumber pencemar. Kenaikan indeks kebersihan udara (IKU) terjadi di Kabupaten Kediri dalam dua tahun terakhir, pada 2019 dan 2020. Sayang, tahun lalu terjadi penurunan.

“Penyebab (peningkatan kualitas udara, Red) salah satunya adanya pandemi Covid-19. Karena adanya penurunan intensitas pengendara dan penurunan mobilitas,” ucap Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kediri Putut Agung Subekti.

Dalam menentukan IKU, juga mempertimbangkan kondisi alam dan cuaca. Tidak semata-mata hasil dari penurunan mobilitas kendaraan dan pabrik saja. Namun, kedua hal itu memang menjadi salah satu yang menjadikan IKU meningkat.

Sepanjang 2019 dan 2020 di Kabupaten Kediri mengalami kenaikan IKU sebanyak 0,42 poin. Namun pada 2021, mengalami penurunan. Angkanya juga masih berada di sekitar 77-76. Namun data tersebut belum diverifikasi oleh KLHK sehingga masih belum bisa di-publish secara nasional.(ica/syi/fud)

 

- Advertisement -

Pandemi korona tak melulu berimbas pada ketakutan. Ada sisi positif yang terjadi. Yaitu meningkatnya kualitas udara akibat mobilitas warga yang menurun. Mampukah kondisi ini bertahan di Kediri?

 

Sejak wabah korona ditetapkan sebagai pandemi, berbagai aturan dikeluarkan Pemerintah. Imbasnya adalah menurunnya volume kendaraan di jalanan. Mengurangi tingkat kemacetan.

Sektor industri pun demikian. Beberapa perusahaan memilih mengurangi jumlah karyawan. Sebagian dirumahkan sementara. Dampaknya, aktivitas pabrik pun berkurang.

Kondisi itu memicu terjadinya perbaikan kualitas udara. Hasil pengukuran indeks kualitas udara (IKU) di Kediri sejak pandemi menegaskan hal itu. Pada 2021  IKU di Kota Kediri masuk dalam kategori baik.

“IKU Kota Kediri di angka 92,27 persen. Di rentang 70-90 itu masuk kategori baik,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri Anang Kurniawan.

Anang memerinci, pengukuran sulfur dioksida pada Juli lalu menunjukkan hasil 8,36 mikrogram per kubik. Kemudian, pada awal Oktober turun menjadi 4,28 mikrogram per kubik. Memang, tidak ada ambang batas dalam pengukuran itu. Namun, angka-angka di atas menunjukkan adanya perbaikan kualitas udara.

“Tahun lalu IKU makin baik. Salah satu faktornya, aktivitas masyarakat menurun,” tuturnya.

Sejak diterapkan pembatasan, jumlah polusi, terutama yang disumbangkan dari gas buang kendaraan, makin berkurang. Selama ini polusi dari kendaraan mendominasi penyumbang berkurangnya kualitas udara. Sebagai kota dengan aktivitas masyarakat sehari-hari yang tergolong padat, gas buang kendaraan menyumbang polusi udara paling banyak.

Baca Juga :  Berani Target Menang Besar

Nah, ketika mobilitas masyarakat dibatasi otomatis berkurang pula aktivitas kendaraan di jalanan yang membuat polusi udara juga berkurang.

Berkurangnya mobilitas warga bukan menjadi satu-satunya faktor pembaik kualitas udara. Kondisi ini juga disumbang oleh bertambahnya ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Kediri dari tahun ke tahun. Taman-taman baru terus dimunculkan pemkot. Baik taman aktif berskala besar maupun taman-taman pasif di median jalan.

Terlebih pemkot mewajibkan setiap kelurahan harus memiliki satu RTH. Selain untuk menyiasati keterbatasan lahan di Kota Kediri juga untuk menjaga IKU.

Sampai 2019, tercatat sudah ada delapan kelurahan yang sudah merealisasikan RTH tersebut. Yaitu Kelurahan Betet, Burengan, Dandangan, Gayam, Manisrenggo, Mojoroto, Pakelan, dan Sukorame. Selain itu juga menambahkan RTH di depan Lapangan Gajahmada di Kecamatan Pesantren.

Sebelum pandemi Covid-19, RTH yang telah dibangun tersebut ramai didatangi oleh warga. Namun, kini relatif sepi mengingat anak-anak tidak dianjurkan ke luar rumah.

Anang mengungkapkan, sebenarnya pada 2020 pemkot harus mewujudkan delapan RTH di delapan kelurahan. Kemudian pada 2021 menambah empat RTH. Sehingga total akan ada 12 RTH baru. “Namun karena anggaran diprioritaskan untuk penanggulangan Covid-19 di Kota Kediri maka belum terealisasi sepenuhnya, jadi target pada 2022 ada penambahan RTH menjadi 15,” tuturnya.

Ruang terbuka hijau di Kota Kediri saat ini telah mencapai 16.95 persen. Menurutnya itu sudah melebihi target yaitu 16.92 persen. “Jadi RTH Kota Kediri sudah seluas seribu hektare lebih,” terangnya.

Baca Juga :  Libur yang Tak Diharapkan  

Jumlah itu baru yang dikelola dan dikembangkan pemkot langsung. Jika dihitung RTH yang disumbangkan swasta, jumlahnya bisa lebih dari 20 persen.

”Misalnya, di perumahan atau kampus,” ujarnya. Perumahan memang wajib menyediakan fasum untuk RTH. Sementara itu, contoh kampus bisa dilihat di Uniska dan Unik.

Hal serupa juga terjadi di Kabupaten Kediri. Berkurangnya pergerakan kendaraan bermotor di jalanan mengurangi sumber pencemar. Kenaikan indeks kebersihan udara (IKU) terjadi di Kabupaten Kediri dalam dua tahun terakhir, pada 2019 dan 2020. Sayang, tahun lalu terjadi penurunan.

“Penyebab (peningkatan kualitas udara, Red) salah satunya adanya pandemi Covid-19. Karena adanya penurunan intensitas pengendara dan penurunan mobilitas,” ucap Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kediri Putut Agung Subekti.

Dalam menentukan IKU, juga mempertimbangkan kondisi alam dan cuaca. Tidak semata-mata hasil dari penurunan mobilitas kendaraan dan pabrik saja. Namun, kedua hal itu memang menjadi salah satu yang menjadikan IKU meningkat.

Sepanjang 2019 dan 2020 di Kabupaten Kediri mengalami kenaikan IKU sebanyak 0,42 poin. Namun pada 2021, mengalami penurunan. Angkanya juga masih berada di sekitar 77-76. Namun data tersebut belum diverifikasi oleh KLHK sehingga masih belum bisa di-publish secara nasional.(ica/syi/fud)

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/