29.1 C
Kediri
Wednesday, July 6, 2022

Atasi Demam Berdarah, Tak Boleh Asal Fogging

KEDIRI KABUPATEN Fogging atau pengasapan adalah salah satu upaya untuk menangkal serangan nyamuk aedes aegypti. Namun, untuk melakukannya tak bisa asal-asalan. Bila dilakukan sembarangan justru bisa berbahaya.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kediri sendiri mengaku telah melakukanupaya itu. Fogging dilakukan di beberapa titik. Baik di wilayah timur maupun barat sungai.

“Pada awal bulan ini sudah kami lakukan fogging. Sudah banyak kok (lokasinya). Setahu saya ada di daerah Ngadiluwih dan Ringinrejo,” terang Kasi Pemberantasan dan Pengendalian Penyakit Menular (P3M) Nur Munawaroh kepada Jawa Pos Radar Kediri saat ditemui di rumahnya, Jumat (11/1).

Nur mengatakan, pihak yang berwenang memberikan keputusan fogging adalah puskesmas. Sebelum itu ada serangkaian tahapan yang harus dilakukan. Khususnya setelah ada laporan penderita demam berdarah dengue (DBD) di satu wilayah tertentu.

Berdasar laporan tersebut petugas puskesmas kemudian melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) di lokasi. Tujuannya untuk mengetahui potensi penularan dan penyebaran DBD lebih lanjut. Kemudian memutuskan tindakan penanggulangan apa yang perlu dilakukan di wilayah sekitar tempat tinggal penderita.

“Setelah ada hasil dari penyelidikan tersebut barulah bisa diputuskan akan diambil tindakan apa. Kalau memang perlu fogging ya akan kami lakukan. Kalau tidak ya cukup program pemberantasan nyamuk (PSN) saja,” paparnya.

Baca Juga :  Jamaah Bisa Menarik Uang Pelunasan

Menurutnya, fogging tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Selama tidak melalui sistem yang telah ditetapkan, pihak puskesmas tidak akan mengeluarkan keputusan tersebut. Pasalnya, banyak efek negatif apabila dilakukan fogging secara sembarangan.

Salah satunya adalah bisa membuat nyamuk lebih kuat. Yaitu bila dilakukan tidak dalam waktu yang tepat. Nyamuk akan kebal dengan zat dalam dalam asap tersebut.

Selain itu, bagaimana pun juga fogging terbuat dari bahan kimia. Apabila terpapar secara berlebihan juga akan buruk bagi kesehatan.

Kandungan dalam zat untuk fogging adalah insektisida. Yang dibuat dari zat pyrethroid sintetis. Zat kimia ini adalah bahan yang umum ditemui dalam semprotan pembunuh nyamuk dan serangga yang dijual di toko-toko. Gas untuk fogging nyamuk sudah diracik sedemikian rupa sehingga tidak membahayakan manusia atau hewan peliharaan. Kandungan insektisida dalam gas tersebut sangat minimal. Sehingga hanya mampu membunuh serangga sekecil nyamuk.

“Tetapi kalau dihirup dalam jumlah yang berlebihan, gas ini bisa menimbulkan efek samping kurang baik untuk manusia. Oleh karena itu tidak bisa sembarangan dilakukan fogging,” ingatnya.

Baca Juga :  Wah, Siap Ajukan Perizinan demi Legalitas Tambang Ngobo

Tingkat keberhasilan fogging dalam menangkal kasus DBD juga sangat dipengaruhi beberapa aspek teknis. Jika tidak dilakukan sesuai prosedur, efektivitas fogging akan berkurang. Imbasnya pencegahan menjadi tidak maksimal.

Untuk diketahui, meskipun telah dilakukan upaya fogging, jumlah tersangka dan penderita DBD telah mencapai sekitar 132 kasus. Untuk penderita yang sudah dipastikan positif mencapai 33 orang. Sedangkan dari data terakhir, telah enam anak-anak yang meninggal akibat penyakit tersebut.

Menurutnya, masih tingginya laporan terkait tersebut juga disumbang oleh faktor kurang sadarnya masyarakat. Seperti halnya upaya untuk menghalau jentik-jentik nyamuk juga kurang disadari sebagai sebuah hal penting. Selain itu, militansi juru pemantau jentik (jumantik) juga dinilainya masih perlu ditingkatkan.

 

 

Fogging Kurang Ampuh Bila:

1.     Dosis kurang tepat

2.     Kurangnya pengecekan alat

3.     Radius fogging kurang dari 200 meter

4.     Tidak dilakukan sesegera mungkin

5.     Kurangnya sosialisasi dengan masyarakat

 

Jumlah Kasus Per Jumat (11/1)

Laporan               Status

132                       Tersangka dan penderita DBD

33                         Positif menderita DBD

6                           Meninggal dunia

 

- Advertisement -

KEDIRI KABUPATEN Fogging atau pengasapan adalah salah satu upaya untuk menangkal serangan nyamuk aedes aegypti. Namun, untuk melakukannya tak bisa asal-asalan. Bila dilakukan sembarangan justru bisa berbahaya.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kediri sendiri mengaku telah melakukanupaya itu. Fogging dilakukan di beberapa titik. Baik di wilayah timur maupun barat sungai.

“Pada awal bulan ini sudah kami lakukan fogging. Sudah banyak kok (lokasinya). Setahu saya ada di daerah Ngadiluwih dan Ringinrejo,” terang Kasi Pemberantasan dan Pengendalian Penyakit Menular (P3M) Nur Munawaroh kepada Jawa Pos Radar Kediri saat ditemui di rumahnya, Jumat (11/1).

Nur mengatakan, pihak yang berwenang memberikan keputusan fogging adalah puskesmas. Sebelum itu ada serangkaian tahapan yang harus dilakukan. Khususnya setelah ada laporan penderita demam berdarah dengue (DBD) di satu wilayah tertentu.

Berdasar laporan tersebut petugas puskesmas kemudian melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) di lokasi. Tujuannya untuk mengetahui potensi penularan dan penyebaran DBD lebih lanjut. Kemudian memutuskan tindakan penanggulangan apa yang perlu dilakukan di wilayah sekitar tempat tinggal penderita.

“Setelah ada hasil dari penyelidikan tersebut barulah bisa diputuskan akan diambil tindakan apa. Kalau memang perlu fogging ya akan kami lakukan. Kalau tidak ya cukup program pemberantasan nyamuk (PSN) saja,” paparnya.

Baca Juga :  Dor, Dor, Dor! Tiga Spesialis Curanmor Asal Kediri Ditangkap

Menurutnya, fogging tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Selama tidak melalui sistem yang telah ditetapkan, pihak puskesmas tidak akan mengeluarkan keputusan tersebut. Pasalnya, banyak efek negatif apabila dilakukan fogging secara sembarangan.

Salah satunya adalah bisa membuat nyamuk lebih kuat. Yaitu bila dilakukan tidak dalam waktu yang tepat. Nyamuk akan kebal dengan zat dalam dalam asap tersebut.

Selain itu, bagaimana pun juga fogging terbuat dari bahan kimia. Apabila terpapar secara berlebihan juga akan buruk bagi kesehatan.

Kandungan dalam zat untuk fogging adalah insektisida. Yang dibuat dari zat pyrethroid sintetis. Zat kimia ini adalah bahan yang umum ditemui dalam semprotan pembunuh nyamuk dan serangga yang dijual di toko-toko. Gas untuk fogging nyamuk sudah diracik sedemikian rupa sehingga tidak membahayakan manusia atau hewan peliharaan. Kandungan insektisida dalam gas tersebut sangat minimal. Sehingga hanya mampu membunuh serangga sekecil nyamuk.

“Tetapi kalau dihirup dalam jumlah yang berlebihan, gas ini bisa menimbulkan efek samping kurang baik untuk manusia. Oleh karena itu tidak bisa sembarangan dilakukan fogging,” ingatnya.

Baca Juga :  Wah, Siap Ajukan Perizinan demi Legalitas Tambang Ngobo

Tingkat keberhasilan fogging dalam menangkal kasus DBD juga sangat dipengaruhi beberapa aspek teknis. Jika tidak dilakukan sesuai prosedur, efektivitas fogging akan berkurang. Imbasnya pencegahan menjadi tidak maksimal.

Untuk diketahui, meskipun telah dilakukan upaya fogging, jumlah tersangka dan penderita DBD telah mencapai sekitar 132 kasus. Untuk penderita yang sudah dipastikan positif mencapai 33 orang. Sedangkan dari data terakhir, telah enam anak-anak yang meninggal akibat penyakit tersebut.

Menurutnya, masih tingginya laporan terkait tersebut juga disumbang oleh faktor kurang sadarnya masyarakat. Seperti halnya upaya untuk menghalau jentik-jentik nyamuk juga kurang disadari sebagai sebuah hal penting. Selain itu, militansi juru pemantau jentik (jumantik) juga dinilainya masih perlu ditingkatkan.

 

 

Fogging Kurang Ampuh Bila:

1.     Dosis kurang tepat

2.     Kurangnya pengecekan alat

3.     Radius fogging kurang dari 200 meter

4.     Tidak dilakukan sesegera mungkin

5.     Kurangnya sosialisasi dengan masyarakat

 

Jumlah Kasus Per Jumat (11/1)

Laporan               Status

132                       Tersangka dan penderita DBD

33                         Positif menderita DBD

6                           Meninggal dunia

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/