25 C
Kediri
Thursday, July 7, 2022

Dewan Soroti Akses Tol di Semampir

KOTA, JP Radar Kediri-Studi analisa dampak lingkungan (amdal) proyek tol Kediri-Tulungagung yang sekarang sedang berlangsung, jadi perhatian DPRD Kota Kediri. Mereka meminta ancaman kemacetan di jalur nasional Semampir diantisipasi sejak dini. Demikian juga di Mojoroto dan beberapa lokasi lain yang terdampak.

          Untuk diketahui, sesuai basic design atau desain dasar, akses masuk tol akan dimulai di Jl Mayor Bismo. Tepatnya di sebelah utara kantor Gudang Garam unit I. Membentang ke arah barat, tol akan memiliki interchange di wilayah Mojoroto. Ada dua opsi lokasi simpang susun tersebut. Yakni, di Kelurahan Bujel dan Kelurahan Mojoroto.

          Anggota Komisi III DPRD Kota Kediri Ayub Wahyu Hidayatullah mengungkapkan, dengan desain tersebut, ruas jalan yang terdampak proyek strategis nasional (PSN) itu harus segera diantisipasi. “Jalan terdampak tol ini  harus jadi pertimbangan karena jalan di sana sudah sesak,” terangnya.

 Dia mencontohkan kondisi wilayah Mojoroto yang juga sudah sering macet. Menurutnya, rekayasa lalu lintas jadi hal penting yang rawan jadi masalah jika tidak diatasi.

Baca Juga :  Stok Telur Ayam Melimpah, Harga Makin Murah

Lebih jauh Ayub menjelaskan, selain ancaman kemacetan, saat ini tidak sedikit warga yang mulai khawatir rumah dan sawah mereka terdampak tol. Tidak sedikit yang berusaha menjual tanah mereka karena khawatir jika berada di dekat tol harganya justru turun.

Pantauan koran ini sebelumnya, di Mojoroto memang sudah mulai muncul beberapa banner penjualan tanah. Sayangnya, saat koran ini berusaha menghubungi nomor yang tertera di sana, pemasang banner tersebut enggan memberi penjelasan lebih lanjut.

Sementara itu, sumber koran ini di Pemkot Kediri menjelaskan, basic design yang sekarang beredar masih sangat memungkinkan berubah. “Makanya ini dibahas terus. Nanti masih bisa bergeser. Ini masih sangat awal,” bebernya.

Seperti lokasi interchange. Dari dua opsi lokasi simpang susun di Kelurahan Sukorame dan Kelurahan Bujel, pemkot menginginkan lokasinya bisa digeser lagi ke arah barat. Hal tersebut masih terus dibahas dalam pertemuan yang berlangsung selama beberapa hari terakhir.

Baca Juga :  Gus Ab Tegaskan Tidak Maju Pilwali

Terkait kemacetan, dia menegaskan jika hal tersebut sudah jadi kajian dalam studi amdal. Selain mendalami dampak lingkungan, menurutnya juga dilakukan studi andalalin atau analisa dampak lalu lintas. “Rekayasa lalu lintasnya sudah disiapkan,” lanjutnya mewanti-wanti agar namanya tak dikorankan.

Terpisah, Leader PT Karsa Buana Lestari Titin Setyorini mengaku belum bisa menjelaskan upaya rekayasa lalu lintas yang akan diterapkan pascapembangunan tol. Dia pun menyebut hal itu masih akan dikaji oleh timnya.

“Saat ini, masih dilakukan pendalaman analisis dampak lalu lintas (andalalin),” terang Titin sembari menyebut kajian andalalin disiapkan untuk sidang rencana pengelolaan lingkungan hidup (RKL) dan rencana pemantauan lingkungan hidup (RPL).

Sayang, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Pemkot Kediri Didik Catur belum bisa dikonfirmasi terkait pencegahan kemacetan akibat keberadaan tol Kediri-Tulungagung. Saat dihubungi koran ini tidak diangkat. Pesan yang dikirim Jawa Pos Radar Kediri via WhatsApp juga tidak dibalas. (rq/ut) 

- Advertisement -

KOTA, JP Radar Kediri-Studi analisa dampak lingkungan (amdal) proyek tol Kediri-Tulungagung yang sekarang sedang berlangsung, jadi perhatian DPRD Kota Kediri. Mereka meminta ancaman kemacetan di jalur nasional Semampir diantisipasi sejak dini. Demikian juga di Mojoroto dan beberapa lokasi lain yang terdampak.

          Untuk diketahui, sesuai basic design atau desain dasar, akses masuk tol akan dimulai di Jl Mayor Bismo. Tepatnya di sebelah utara kantor Gudang Garam unit I. Membentang ke arah barat, tol akan memiliki interchange di wilayah Mojoroto. Ada dua opsi lokasi simpang susun tersebut. Yakni, di Kelurahan Bujel dan Kelurahan Mojoroto.

          Anggota Komisi III DPRD Kota Kediri Ayub Wahyu Hidayatullah mengungkapkan, dengan desain tersebut, ruas jalan yang terdampak proyek strategis nasional (PSN) itu harus segera diantisipasi. “Jalan terdampak tol ini  harus jadi pertimbangan karena jalan di sana sudah sesak,” terangnya.

 Dia mencontohkan kondisi wilayah Mojoroto yang juga sudah sering macet. Menurutnya, rekayasa lalu lintas jadi hal penting yang rawan jadi masalah jika tidak diatasi.

Baca Juga :  Pastikan Imbauan #DiRumah Aja, Tim Patroli Terus Pagi hingga Malam

Lebih jauh Ayub menjelaskan, selain ancaman kemacetan, saat ini tidak sedikit warga yang mulai khawatir rumah dan sawah mereka terdampak tol. Tidak sedikit yang berusaha menjual tanah mereka karena khawatir jika berada di dekat tol harganya justru turun.

Pantauan koran ini sebelumnya, di Mojoroto memang sudah mulai muncul beberapa banner penjualan tanah. Sayangnya, saat koran ini berusaha menghubungi nomor yang tertera di sana, pemasang banner tersebut enggan memberi penjelasan lebih lanjut.

Sementara itu, sumber koran ini di Pemkot Kediri menjelaskan, basic design yang sekarang beredar masih sangat memungkinkan berubah. “Makanya ini dibahas terus. Nanti masih bisa bergeser. Ini masih sangat awal,” bebernya.

Seperti lokasi interchange. Dari dua opsi lokasi simpang susun di Kelurahan Sukorame dan Kelurahan Bujel, pemkot menginginkan lokasinya bisa digeser lagi ke arah barat. Hal tersebut masih terus dibahas dalam pertemuan yang berlangsung selama beberapa hari terakhir.

Baca Juga :  Tes CPNS Kediri: Pemkab Usulkan Tes Lagi

Terkait kemacetan, dia menegaskan jika hal tersebut sudah jadi kajian dalam studi amdal. Selain mendalami dampak lingkungan, menurutnya juga dilakukan studi andalalin atau analisa dampak lalu lintas. “Rekayasa lalu lintasnya sudah disiapkan,” lanjutnya mewanti-wanti agar namanya tak dikorankan.

Terpisah, Leader PT Karsa Buana Lestari Titin Setyorini mengaku belum bisa menjelaskan upaya rekayasa lalu lintas yang akan diterapkan pascapembangunan tol. Dia pun menyebut hal itu masih akan dikaji oleh timnya.

“Saat ini, masih dilakukan pendalaman analisis dampak lalu lintas (andalalin),” terang Titin sembari menyebut kajian andalalin disiapkan untuk sidang rencana pengelolaan lingkungan hidup (RKL) dan rencana pemantauan lingkungan hidup (RPL).

Sayang, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Pemkot Kediri Didik Catur belum bisa dikonfirmasi terkait pencegahan kemacetan akibat keberadaan tol Kediri-Tulungagung. Saat dihubungi koran ini tidak diangkat. Pesan yang dikirim Jawa Pos Radar Kediri via WhatsApp juga tidak dibalas. (rq/ut) 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/