23.2 C
Kediri
Saturday, August 13, 2022

Sembilan Bulan Event Organizer dan Pengusaha Hiburan Terpukul Korona

- Advertisement -

Tahun 2020 merupakan masa kelam bagi event organizer (EO) dan pengusaha hiburan lainnya. Wabah Covid-19 membuat usaha mereka terhenti. Omzet ratusan juta rupiah pun melayang.

Lina Dyah Retnoningsih, 39, salah satu pemilik EO di Nganjuk menuturkan, pada kondisi normal dia bisa memiliki lima kegiatan dalam sebulan. Omzet tiap acara itu beragam. Paling kecil Rp 25 juta hingga mencapai Rp 200 juta. “Sejak ada Covid-19 ini berhenti total,” ujar pemilik Nilina Organizer ini.

Pandemi Covid-19 yang belum diketahui kapan akan berakhir ini membuat perempuan yang akrab disapa Mak Lin ini harus mengambil sikap. Terutama terhadap para karyawannya.

Mereka diberi dua opsi. Yakni, berhenti kerja atau menjadi karyawan freelance. “Hanya dibayar kalau ada job. Mau bagaimana lagi,” lanjutnya sembari menyebut mayoritas karyawannya memilih menjadi pekerja freelance.

- Advertisement -

Dari berbagai event yang biasa ditangani oleh Mak Lin, saat ini yang masih berjalan adalah acara pernikahan. Dari sana, mereka lantas beralih ke Wedding Organizer (WO). Jika selama beberapa bulan acara pernikahan sempat ramai, kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) Jawa-Bali yang digulirkan Januari ini membuatnya resah.

Baca Juga :  Buka Mata, Buka Telinga

Perempuan berjilbab itu khawatir acara pernikahan kembali dilarang. “Kalau sampai dilarang lagi ya pasti sepi job,” keluh perempuan yang biasanya ceria ini.  

Sementara itu, Covid-19 tak hanya memukul para pengusaha EO. Melainkan juga pengusaha hiburan. Termasuk bioskop yang sejak pandemi Maret 2020 lalu baru mulai buka pada Senin (4/1) lalu.

New Star Cineplex (NSC), satu-satunya bioskop di Nganjuk pun harus melakukan penyesuaian. “Kalau tidak ada produksi film baru, kami juga tidak bisa jalan,” ujar Manajer NSC Loceret Agus Setiawan.

NSC, jelas Wawan, sapaan akrab Agus Setiawan, dibuka dengan protokoler ketat. Jumlah penonton hanya dibatasi maksimal 50 orang dari total 206 kursi yang tersedia. Mereka juga membatasi operasional hingga pukul 19.00.

Meski tanpa aturan pembatasan penonton, menurutnya jumlah penonton tidak pernah mencapai ratusan. Bahkan, sejak mulai dibuka hingga sekarang jumlah penontonnya tidak pernah lebih dari 20 orang. Padahal, ada dua studio yang siap dioperasikan. “Dulu enam kali show. Sekarang maksimal empat kali show,” tuturnya.

Baca Juga :  Pelamar K2 Kesulitan Mendaftar

Selama pandemi Covid-19, Wawan mengaku sudah kehilangan omzet sekitar Rp 120 juta. Tetapi, bukan itu yang menjadi fokusnya sekarang. Dalam benaknya dia harus bisa mengatur jam kerja pegawainya agar mereka tetap bisa menerima gaji setiap bulannya. “Yang penting itu,” jelasnya sembari berharap pandemi segera berlalu.

 

Pengusaha EO dan Hiburan Terpukul Pandemi:

-EO sepi job setelah acara yang menghentikan massa dalam jumlah banyak dihentikan total.

-Omzet total miliaran rupiah selama sembilan bulan terakhir menguap

-Efisiensi dilakukan dengan mengurangi pekerja dan mengganti dengan sistem freelance.

-Pengusaha bioskop yang mulai buka harus menerapkan protokol kesehatan ketat

-Jumlah penonton tetap tidak bisa sebanyak sebelum pandemi terjadi

- Advertisement -

Tahun 2020 merupakan masa kelam bagi event organizer (EO) dan pengusaha hiburan lainnya. Wabah Covid-19 membuat usaha mereka terhenti. Omzet ratusan juta rupiah pun melayang.

Lina Dyah Retnoningsih, 39, salah satu pemilik EO di Nganjuk menuturkan, pada kondisi normal dia bisa memiliki lima kegiatan dalam sebulan. Omzet tiap acara itu beragam. Paling kecil Rp 25 juta hingga mencapai Rp 200 juta. “Sejak ada Covid-19 ini berhenti total,” ujar pemilik Nilina Organizer ini.

Pandemi Covid-19 yang belum diketahui kapan akan berakhir ini membuat perempuan yang akrab disapa Mak Lin ini harus mengambil sikap. Terutama terhadap para karyawannya.

Mereka diberi dua opsi. Yakni, berhenti kerja atau menjadi karyawan freelance. “Hanya dibayar kalau ada job. Mau bagaimana lagi,” lanjutnya sembari menyebut mayoritas karyawannya memilih menjadi pekerja freelance.

Dari berbagai event yang biasa ditangani oleh Mak Lin, saat ini yang masih berjalan adalah acara pernikahan. Dari sana, mereka lantas beralih ke Wedding Organizer (WO). Jika selama beberapa bulan acara pernikahan sempat ramai, kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) Jawa-Bali yang digulirkan Januari ini membuatnya resah.

Baca Juga :  Dispertabun Kab Kediri Bangun Lima BPP untuk Tingkatkan Produktivitas

Perempuan berjilbab itu khawatir acara pernikahan kembali dilarang. “Kalau sampai dilarang lagi ya pasti sepi job,” keluh perempuan yang biasanya ceria ini.  

Sementara itu, Covid-19 tak hanya memukul para pengusaha EO. Melainkan juga pengusaha hiburan. Termasuk bioskop yang sejak pandemi Maret 2020 lalu baru mulai buka pada Senin (4/1) lalu.

New Star Cineplex (NSC), satu-satunya bioskop di Nganjuk pun harus melakukan penyesuaian. “Kalau tidak ada produksi film baru, kami juga tidak bisa jalan,” ujar Manajer NSC Loceret Agus Setiawan.

NSC, jelas Wawan, sapaan akrab Agus Setiawan, dibuka dengan protokoler ketat. Jumlah penonton hanya dibatasi maksimal 50 orang dari total 206 kursi yang tersedia. Mereka juga membatasi operasional hingga pukul 19.00.

Meski tanpa aturan pembatasan penonton, menurutnya jumlah penonton tidak pernah mencapai ratusan. Bahkan, sejak mulai dibuka hingga sekarang jumlah penontonnya tidak pernah lebih dari 20 orang. Padahal, ada dua studio yang siap dioperasikan. “Dulu enam kali show. Sekarang maksimal empat kali show,” tuturnya.

Baca Juga :  Pedestrian Jadi Pantauan Satpol PP

Selama pandemi Covid-19, Wawan mengaku sudah kehilangan omzet sekitar Rp 120 juta. Tetapi, bukan itu yang menjadi fokusnya sekarang. Dalam benaknya dia harus bisa mengatur jam kerja pegawainya agar mereka tetap bisa menerima gaji setiap bulannya. “Yang penting itu,” jelasnya sembari berharap pandemi segera berlalu.

 

Pengusaha EO dan Hiburan Terpukul Pandemi:

-EO sepi job setelah acara yang menghentikan massa dalam jumlah banyak dihentikan total.

-Omzet total miliaran rupiah selama sembilan bulan terakhir menguap

-Efisiensi dilakukan dengan mengurangi pekerja dan mengganti dengan sistem freelance.

-Pengusaha bioskop yang mulai buka harus menerapkan protokol kesehatan ketat

-Jumlah penonton tetap tidak bisa sebanyak sebelum pandemi terjadi

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/