30.2 C
Kediri
Monday, July 4, 2022

Ratusan Sopir Truk Demo di Bagor dan Begadung

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Ratusan sopir di Kabupaten Nganjuk dan sekitarnya melakukan aksi mogok di Exit Tol Kelurahan Begadung, Kecamatan Nganjuk dan di Kelurahan Guyangan, Kecamatan Bagor kemarin. Dalam aksi mogok tersebut, sopir memprotes larangan tentang kendaraan Over Dimension Over Loading (ODOL).

          Dari pantauan koran ini, sekitar pukul 09.00 hingga pukul 12.00 WIB, ratusan sopir melakukan aksi mogok di dua tempat yang berbeda. Tempat pertama berada di Exit Tol Nganjuk yang masuk Kelurahan Begadung, Kecamatan Nganjuk. Sedangkan tempat kedua berada di timbangan yang berada di Kelurahan Guyangan, Kecamatan Bagor.

          Di Exit Tol Nganjuk, ratusan sopir tampak memarkir truk mereka di tepi jalan. Mulai dari pintu exit tol hingga ke arah timur sekitar 2 kilometer. Tak hanya sopir cowok, sopir truk cewek juga ikut aksi tersebut. 

Baca Juga :  Kapolresta-Dandim Blusukan ke Kampung

          Intan Rosita, salah satu sopir truk cewek mengatakan, dia dan puluhan sopir truk dari Desa Mancon, Kecamatan Wilangan bergabung demo. Karena dia menganggap larangan ODOL itu merugikan sopir truk. “Jika kami tidak mengangkut muatan melebihi kapasitas maka kami akan rugi. Karena harus kerja dua kali,” ujarnya.

          Perempuan berusia 28 tahun tersebut mengatakan, larangan ODOL juga membuat sopir truk bingung. Karena pembeli selalu minta barang yang dibawa itu lebih banyak. Sehingga, mau tidak mau sopir truk harus menambah muatannya.

Terkait bahaya kecelakaan, Intan menganggap jika itu sudah risiko pekerjaan. Dia dan sopir truk sudah siap dengan risiko terburuk. “Kami kerja di jalan. Jadi harus siap dengan apapun yang terjadi,” ujarnya.

Baca Juga :  JNE Dorong UKM Kediri Bangkit di Era Pandemi

Intan berharap, persoalan larangan ODOL bisa segera ditemukan solusi. Sehingga, tidak ada yang dirugikan.

          Sementara itu, KBO Satlantas Polres Nganjuk Iptu Hery Buntoro mengatakan bahwa aksi mogok tersebut dilakukan secara damai. “Semua berlangsung tertib dan aman,” ujarnya. 

          Terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Lalu Lintas Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Nganjuk Budi Legowo mengatakan bahwa pihak Dishub Nganjuk sudah melakukan mediasi dengan beberapa sopir. Dalam mediasi tersebut, Budi mencatat beberapa tuntutan yang diberikan oleh ratusan sopir tersebut.

          Nantinya, tuntutan tersebut akan dijadikan evaluasi oleh pihak Dishub Nganjuk bersama Satlantas Polres Nganjuk. Namun demikian, Budi mengatakan bahwa keputusan peraturan larangan ODOL adalah kewenangan pemerintah pusat. “Semoga masalah ini segera ada titik temunya,” harapnya. (wib/tyo)

 

- Advertisement -

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Ratusan sopir di Kabupaten Nganjuk dan sekitarnya melakukan aksi mogok di Exit Tol Kelurahan Begadung, Kecamatan Nganjuk dan di Kelurahan Guyangan, Kecamatan Bagor kemarin. Dalam aksi mogok tersebut, sopir memprotes larangan tentang kendaraan Over Dimension Over Loading (ODOL).

          Dari pantauan koran ini, sekitar pukul 09.00 hingga pukul 12.00 WIB, ratusan sopir melakukan aksi mogok di dua tempat yang berbeda. Tempat pertama berada di Exit Tol Nganjuk yang masuk Kelurahan Begadung, Kecamatan Nganjuk. Sedangkan tempat kedua berada di timbangan yang berada di Kelurahan Guyangan, Kecamatan Bagor.

          Di Exit Tol Nganjuk, ratusan sopir tampak memarkir truk mereka di tepi jalan. Mulai dari pintu exit tol hingga ke arah timur sekitar 2 kilometer. Tak hanya sopir cowok, sopir truk cewek juga ikut aksi tersebut. 

Baca Juga :  Di Kota Kediri Hanya 38 Tempat Kos yang Bayar Pajak

          Intan Rosita, salah satu sopir truk cewek mengatakan, dia dan puluhan sopir truk dari Desa Mancon, Kecamatan Wilangan bergabung demo. Karena dia menganggap larangan ODOL itu merugikan sopir truk. “Jika kami tidak mengangkut muatan melebihi kapasitas maka kami akan rugi. Karena harus kerja dua kali,” ujarnya.

          Perempuan berusia 28 tahun tersebut mengatakan, larangan ODOL juga membuat sopir truk bingung. Karena pembeli selalu minta barang yang dibawa itu lebih banyak. Sehingga, mau tidak mau sopir truk harus menambah muatannya.

Terkait bahaya kecelakaan, Intan menganggap jika itu sudah risiko pekerjaan. Dia dan sopir truk sudah siap dengan risiko terburuk. “Kami kerja di jalan. Jadi harus siap dengan apapun yang terjadi,” ujarnya.

Baca Juga :  Mendag Optimistis Indonesia Jadi Pusat Industri Produk HalalĀ 

Intan berharap, persoalan larangan ODOL bisa segera ditemukan solusi. Sehingga, tidak ada yang dirugikan.

          Sementara itu, KBO Satlantas Polres Nganjuk Iptu Hery Buntoro mengatakan bahwa aksi mogok tersebut dilakukan secara damai. “Semua berlangsung tertib dan aman,” ujarnya. 

          Terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Lalu Lintas Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Nganjuk Budi Legowo mengatakan bahwa pihak Dishub Nganjuk sudah melakukan mediasi dengan beberapa sopir. Dalam mediasi tersebut, Budi mencatat beberapa tuntutan yang diberikan oleh ratusan sopir tersebut.

          Nantinya, tuntutan tersebut akan dijadikan evaluasi oleh pihak Dishub Nganjuk bersama Satlantas Polres Nganjuk. Namun demikian, Budi mengatakan bahwa keputusan peraturan larangan ODOL adalah kewenangan pemerintah pusat. “Semoga masalah ini segera ada titik temunya,” harapnya. (wib/tyo)

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/