26.4 C
Kediri
Monday, August 15, 2022

Hampir Rp 0,5 M untuk Dua Taman Kelurahan

- Advertisement -

Ruang terbuka hijau (RTH) tidaklah taman semata. Dalam UU 26/2007 tersebut, RTH merupakan area memanjang, jalur, dan atau mengelompok. Yang penggunaannya lebih bersifat terbuka. Menjadi tempat tumbuh tanaman. Baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam.

Bila berkaca pada kriteria tersebut, ada 19 rincian lahan eksisting yang termasuk kategori RTH. Lapangan, sempadan sungai, sempadan rel, jalur hijau, sumber mata air, bahkan makam termasuk RTH publik.

“Taman hanya salah satu dari banyak RTH,” ungkap Kepala DLHKP Didik Catur.

Khusus taman, Didik mengatakan sebanyak 23 taman yang dikelola pemkot. Total seluruh taman tersebut memiliki luasan sekitar 181 ribu meter persegi. Luasan itu belum termasuk taman yang berada di beberapa kelurahan.

Baca Juga :  Kandang Sapi Dilalap si Jago Merah

Selain taman, DLHKP juga mengelola sumber mata air yang dimanfaatkan sebagai RTH. Ada lima titik mata air di wilayah Kecamatan Mojoroto, dua titik di wilayah Kecamatan Kota, lalu enam titik lainnya di Kecamatan Pesantren. Dari sebelas sumber mata air tersebut mencapai luasan 57.886 meter persegi.

- Advertisement -

Didik mengaku bahwa telah memiliki proyeksi untuk kembali membangun taman kelurahan. Rencananya, taman tersebut akan berada di dua kelurahan yang ada di Kecamatan Kota. Yaitu di Kelurahan Dermo dan Sukorame.

“Perkiraan anggarannya sekitar Rp 200 juta untuk masing-masing taman di dua kelurahan tersebut,” terangnya. Sedangkan untuk luasan, Didik mengaku memproyeksikan taman tersebut sekitar 200-300 meter persegi.

Lebih lanjut, ia mengamini bahwa belum bisa menargetkan pembangunan RTH secara besar-besaran karena kondisi masih dalam pandemi Covid-19. Situasi yang membuat keuangan daerah tersedot ke penanganan kesehatan dan pemulihan ekonomi.

Baca Juga :  Jadi Destinasi Wisata Sejarah yang Potensial

Bahkan, seluruh taman kota terpaksa ditutup untuk umum sejak awal masa pandemi. Hanya di Alun-alun Kota Kediri saja yang relatif masih terpantau interaksi atau aktivitas masyarakat.

Meskipun dilakukan penutupan, Didik menegaskan bahwa pihaknya tidak mengabaikan kondisi taman kota tersebut. Tim DLHKP tetap rutin melaksanakan tugasnya di masing-masing taman kota. “Perawatan tetap kami lakukan secara rutin setiap harinya,” tandasnya.

Perawatan tersebut meliputi menyiram tanaman, memupuk, menyapu daun dan dahan yang tua, dan lain sebagainya. Didik menegaskan bahwa hal tersebut tetap menjadi tanggung jawab pihaknya. (tar/fud)

- Advertisement -

Ruang terbuka hijau (RTH) tidaklah taman semata. Dalam UU 26/2007 tersebut, RTH merupakan area memanjang, jalur, dan atau mengelompok. Yang penggunaannya lebih bersifat terbuka. Menjadi tempat tumbuh tanaman. Baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam.

Bila berkaca pada kriteria tersebut, ada 19 rincian lahan eksisting yang termasuk kategori RTH. Lapangan, sempadan sungai, sempadan rel, jalur hijau, sumber mata air, bahkan makam termasuk RTH publik.

“Taman hanya salah satu dari banyak RTH,” ungkap Kepala DLHKP Didik Catur.

Khusus taman, Didik mengatakan sebanyak 23 taman yang dikelola pemkot. Total seluruh taman tersebut memiliki luasan sekitar 181 ribu meter persegi. Luasan itu belum termasuk taman yang berada di beberapa kelurahan.

Baca Juga :  Koordinasi untuk Recovery Ekonomi

Selain taman, DLHKP juga mengelola sumber mata air yang dimanfaatkan sebagai RTH. Ada lima titik mata air di wilayah Kecamatan Mojoroto, dua titik di wilayah Kecamatan Kota, lalu enam titik lainnya di Kecamatan Pesantren. Dari sebelas sumber mata air tersebut mencapai luasan 57.886 meter persegi.

Didik mengaku bahwa telah memiliki proyeksi untuk kembali membangun taman kelurahan. Rencananya, taman tersebut akan berada di dua kelurahan yang ada di Kecamatan Kota. Yaitu di Kelurahan Dermo dan Sukorame.

“Perkiraan anggarannya sekitar Rp 200 juta untuk masing-masing taman di dua kelurahan tersebut,” terangnya. Sedangkan untuk luasan, Didik mengaku memproyeksikan taman tersebut sekitar 200-300 meter persegi.

Lebih lanjut, ia mengamini bahwa belum bisa menargetkan pembangunan RTH secara besar-besaran karena kondisi masih dalam pandemi Covid-19. Situasi yang membuat keuangan daerah tersedot ke penanganan kesehatan dan pemulihan ekonomi.

Baca Juga :  Kandang Sapi Dilalap si Jago Merah

Bahkan, seluruh taman kota terpaksa ditutup untuk umum sejak awal masa pandemi. Hanya di Alun-alun Kota Kediri saja yang relatif masih terpantau interaksi atau aktivitas masyarakat.

Meskipun dilakukan penutupan, Didik menegaskan bahwa pihaknya tidak mengabaikan kondisi taman kota tersebut. Tim DLHKP tetap rutin melaksanakan tugasnya di masing-masing taman kota. “Perawatan tetap kami lakukan secara rutin setiap harinya,” tandasnya.

Perawatan tersebut meliputi menyiram tanaman, memupuk, menyapu daun dan dahan yang tua, dan lain sebagainya. Didik menegaskan bahwa hal tersebut tetap menjadi tanggung jawab pihaknya. (tar/fud)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/