23.3 C
Kediri
Wednesday, July 6, 2022

Lolos Seleksi P3K, Christian Budi Lestari Jadi ASN di Usia 50 Tahun

REKIAN, Kota. JP Radar Kediri

“Bukan gaji yang membuat saya bertahan, tapi kecintaan saya pada anak-anak,” ujar Christian Budi Lestari membuka cerita tentang perjalanannya sebagai pendidik. Ditemui di SDN 6 Mojoroto, tempatnya mengabdi sebagai guru, perempuan asal Desa Sukorejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri itu tengah mengajar siswa kelas 1.

          Tidak banyak pendidik yang siap mengajar anak-anak berusia 6-7 tahun. Sebab, di usia itu mereka masih sulit diatur. Butuh kesabaran ekstra. Apalagi, tidak sedikit yang untuk sekadar buang air kecil saja masih harus dibimbing.

          Tetapi, Tari, demikian Christian Budi Lestari biasa disapa, bisa dengan sabar menghadapi mereka selama belasan tahun. Sepanjang karirnya menjadi guru, dia hanya mendapat kesempatan dua kali mengajar anak kelas 2. Selebihnya, dia menjadi guru kelas 1 di sekolah yang terletak di Jl Jaksa Agung Suprapto, Mojoroto tersebut. “Kuncinya memang kesabaran. Kalau tidak bisa mengatur emosi, anak-anak akan menganggap gurunya galak,” lanjutnya sambil tersenyum.

          Tak hanya kesabaran yang membuat Tari enjoy bersama anak-anak. Melainkan, mendidik siswa baginya merupakan panggilan hati. Karena itu pula, dia tidak mempermasalahkan gaji minim yang diterimanya. Dalam sebulan dia hanya mendapat gaji Rp 600 ribu. Jumlah itu belum termasuk tunjangan dari Pemprov Jatim sebesar Rp 300 ribu per bulan yang dirapel sekali dalam setahun.

Baca Juga :  Copot APK yang Langgar Aturan

          Ibu satu anak itu bersyukur karena dia bukanlah tulang punggung keluarga. Pendapatan Happy Kurniawan, suaminya, yang menjadi pegawai perusahaan swasta sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dukungan keuangan dari suami itu pula yang membuat Tari semakin leluasa menjalani aktivitasnya di sekolah.

          Ditambah lagi, sang suami memberi dukungan penuh agar dia tetap menjadi guru. Sang suami pula yang terus memberi semangat agar dia mengikuti tes CPNS setiap kali ada lowongan. Karenanya, alumnus Universitas Nusantara PGRI Kediri ini kembali menjajal keberuntungan di tes pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (P3K) tahun ini. Dia tak menyerah meski sebelumnya pernah lima kali gagal.

          Dalam tes P3K 2019 lalu, Tari nyaris berhasil. Nilainya hanya kurang satu poin dari passing grade. “Sempat kecewa, tapi setelah bertemu anak-anak di sekolah saya jadi semangat lagi. Mereka itu obat,” bebernya sambil tersenyum.

          Dia semakin semangat lagi setelah dalam peringatan ulang tahunnya ke-50, pada 8 Oktober lalu dia mendengar kabar kelulusannya dalam seleksi P3K. Baginya, itu merupakan kado ulang tahun terindah sepanjang hidupnya. Meski, masa kerjanya tinggal tersisa 10 tahun atau akan pensiun di usia 60 tahun.

Baca Juga :  Kalingga Pecah, yang di Kepung Tak Langsung Punah

          Selama sisa masa pengabdiannya, Tari bertekad untuk terus mendidik siswanya dengan sepenuh hati. Tujuannya, agar anak-anak yang berasal dari berbagai latar belakang itu bisa belajar dengan suasana hati yang riang.

          Tari memang berbeda dengan guru kebanyakan. Dia tidak sekadar menyampaikan materi pelajaran. Melainkan juga menyelami karakter anak didiknya. Treatment yang diberikan kepada anak-anak disesuaikan dengan kondisi mereka.

          Misalnya, anak yang broken home akan lebih diperhatikan dibanding siswa lain. Metode mendidiknya juga berbeda. “Sikap mereka akan berbeda. Makanya saya dampingi agar tidak menjadi korban bullying dan lainnya,” tutur Tari optimistis anak-anak dengan latar belakang masalah keluarga pun bisa mandiri jika dibimbing dengan baik.

          Dengan pola pendekatan itu, Tari tidak hanya akrab dengan anak didiknya. Melainkan juga dengan orang tuanya. Tak heran, dia sering jadi tempat curhat para orang tua.

          Lewat cerita mereka itu pula, Tari bisa memahami masalah yang dihadapi anak didiknya. “Saya berusaha memberikan solusi sebisa saya. Intinya, jangan sampai masalah itu menghambat pembelajaran di sekolah,” bebernya. (ut)

- Advertisement -

REKIAN, Kota. JP Radar Kediri

“Bukan gaji yang membuat saya bertahan, tapi kecintaan saya pada anak-anak,” ujar Christian Budi Lestari membuka cerita tentang perjalanannya sebagai pendidik. Ditemui di SDN 6 Mojoroto, tempatnya mengabdi sebagai guru, perempuan asal Desa Sukorejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri itu tengah mengajar siswa kelas 1.

          Tidak banyak pendidik yang siap mengajar anak-anak berusia 6-7 tahun. Sebab, di usia itu mereka masih sulit diatur. Butuh kesabaran ekstra. Apalagi, tidak sedikit yang untuk sekadar buang air kecil saja masih harus dibimbing.

          Tetapi, Tari, demikian Christian Budi Lestari biasa disapa, bisa dengan sabar menghadapi mereka selama belasan tahun. Sepanjang karirnya menjadi guru, dia hanya mendapat kesempatan dua kali mengajar anak kelas 2. Selebihnya, dia menjadi guru kelas 1 di sekolah yang terletak di Jl Jaksa Agung Suprapto, Mojoroto tersebut. “Kuncinya memang kesabaran. Kalau tidak bisa mengatur emosi, anak-anak akan menganggap gurunya galak,” lanjutnya sambil tersenyum.

          Tak hanya kesabaran yang membuat Tari enjoy bersama anak-anak. Melainkan, mendidik siswa baginya merupakan panggilan hati. Karena itu pula, dia tidak mempermasalahkan gaji minim yang diterimanya. Dalam sebulan dia hanya mendapat gaji Rp 600 ribu. Jumlah itu belum termasuk tunjangan dari Pemprov Jatim sebesar Rp 300 ribu per bulan yang dirapel sekali dalam setahun.

Baca Juga :  Laka di Tulungagung, Mantan Dewan Meninggal

          Ibu satu anak itu bersyukur karena dia bukanlah tulang punggung keluarga. Pendapatan Happy Kurniawan, suaminya, yang menjadi pegawai perusahaan swasta sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dukungan keuangan dari suami itu pula yang membuat Tari semakin leluasa menjalani aktivitasnya di sekolah.

          Ditambah lagi, sang suami memberi dukungan penuh agar dia tetap menjadi guru. Sang suami pula yang terus memberi semangat agar dia mengikuti tes CPNS setiap kali ada lowongan. Karenanya, alumnus Universitas Nusantara PGRI Kediri ini kembali menjajal keberuntungan di tes pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (P3K) tahun ini. Dia tak menyerah meski sebelumnya pernah lima kali gagal.

          Dalam tes P3K 2019 lalu, Tari nyaris berhasil. Nilainya hanya kurang satu poin dari passing grade. “Sempat kecewa, tapi setelah bertemu anak-anak di sekolah saya jadi semangat lagi. Mereka itu obat,” bebernya sambil tersenyum.

          Dia semakin semangat lagi setelah dalam peringatan ulang tahunnya ke-50, pada 8 Oktober lalu dia mendengar kabar kelulusannya dalam seleksi P3K. Baginya, itu merupakan kado ulang tahun terindah sepanjang hidupnya. Meski, masa kerjanya tinggal tersisa 10 tahun atau akan pensiun di usia 60 tahun.

Baca Juga :  Dhito-Dewi Langsung Ngebut di 100 Hari Pertama

          Selama sisa masa pengabdiannya, Tari bertekad untuk terus mendidik siswanya dengan sepenuh hati. Tujuannya, agar anak-anak yang berasal dari berbagai latar belakang itu bisa belajar dengan suasana hati yang riang.

          Tari memang berbeda dengan guru kebanyakan. Dia tidak sekadar menyampaikan materi pelajaran. Melainkan juga menyelami karakter anak didiknya. Treatment yang diberikan kepada anak-anak disesuaikan dengan kondisi mereka.

          Misalnya, anak yang broken home akan lebih diperhatikan dibanding siswa lain. Metode mendidiknya juga berbeda. “Sikap mereka akan berbeda. Makanya saya dampingi agar tidak menjadi korban bullying dan lainnya,” tutur Tari optimistis anak-anak dengan latar belakang masalah keluarga pun bisa mandiri jika dibimbing dengan baik.

          Dengan pola pendekatan itu, Tari tidak hanya akrab dengan anak didiknya. Melainkan juga dengan orang tuanya. Tak heran, dia sering jadi tempat curhat para orang tua.

          Lewat cerita mereka itu pula, Tari bisa memahami masalah yang dihadapi anak didiknya. “Saya berusaha memberikan solusi sebisa saya. Intinya, jangan sampai masalah itu menghambat pembelajaran di sekolah,” bebernya. (ut)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/