26 C
Kediri
Tuesday, August 9, 2022

Pedagang Pasar Bendo Waswas

KEDIRI KABUPATEN – Beberapa pedagang yang menghuni kios Pasar Bendo tidak langsung menempati tempat penampungan pedagang sementara (TPPS), kemarin (7/3). Sebagian memilih melakukan rehab di beberapa sisi. Menyesuaikan kebutuhan dagangannya masing-masing.

Namun, pedagang yang lain telah menempati TPPS yang dibuatkan pemkab. Tomi Abhan, 41, termasuk pedagang yang merehab terlebih dahulu kiosnya. Rehab itu karena merasa kurang puas dengan kios TPPS. Salah satunya karena desain bagian depan yang kurang cocok untuk menaruh etalase.

“Kalau tidak dibongkar, nanti dagangan yang ada di etalase tidak bisa terlihat,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Kediri, kemarin.

Pedagang perlengkapan listrik tersebut mengaku, lebih baik mengeluarkan biaya tambahan asal bisa berjualan dengan nyaman. Rehab TPPS sejatinya memang tidak dilarang. Hanya saja, biaya bahan bangunan dan pekerja menjadi tanggung jawab masing-masing pedagang.

Baca Juga :  Diduga Korsleting Mobil, Garasi Rumah Terbakar

Seperti yang dilakukan Tomi. Bermodalkan sekitar Rp 2 juta, ia melakukan beberapa rehab. Di antaranya, di sisi depan dan bagian dalam. Sisi depan direhab untuk memudahkannya menjajakan dagangan. Sedangkan sisi bagian dalam difokuskan untuk faktor keamanan.

Tomi menggunakan material seng galvalum pada bagian dalam di kedua sisinya. Itu selebar kerangka TPPS yang berukuran 3 x 3 meter. “Kalau tidak ditambah seng galvalum saya khawatir mudah dibobol. Aslinya kan materialnya hanya tripleks,” ungkap pedagang asal Desa Darungan tersebut.

Tomi mengaku, khawatir dengan faktor keamanan di sana. Pasalnya harga barang dagangannya relatif mahal. Seperti kompor, magic jar dan semacamnya. Oleh karena itu, ia rela mengeluarkan dana tambahan untuk memastikan keamanan kiosnya.

Selain menambah seng galvalum di sisi kanan dan kiri, pintu kios bagian dalam juga dilapisinya. Tomi juga menambah beberapa grendel dan selot pintu di beberapa titik. “Lha satu barang hilang saja sudah lumayan. Sekitar Rp 500 ribu melayang,” ujarnya.

Baca Juga :  Fandra Mendapat Santunan Kematian Rp 50 Juta

Oleh karena itu, Tomi mendukung jika ada wacana urunan untuk mempekerjakan pihak keamanan di TPPS. Itu untuk berjaga malam saat tidak ada pedagang. Pasalnya, ia sering mendengar ada kasus kehilangan di TPPS bagian dalam. Namun begitu, ia belum mengetahui apakah para pedagang lain setuju. Sejauh yang ia ketahui belum ada pembicaraan.

Terkait keamanan TPPS, Pemkab Kediri telah melakukan sosialisasi pada pedagang. Disampaikan bahwa keamanan menjadi tanggung jawab pedagang. “Namun kami juga akan berdiskusi dengan keamanan desa setempat agar lebih baiknya,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Industri dan Perdagangan (Disdag) Kabupaten Kediri Tutik Purwaningsih melalui WhatsApp, kemarin siang.

- Advertisement -

KEDIRI KABUPATEN – Beberapa pedagang yang menghuni kios Pasar Bendo tidak langsung menempati tempat penampungan pedagang sementara (TPPS), kemarin (7/3). Sebagian memilih melakukan rehab di beberapa sisi. Menyesuaikan kebutuhan dagangannya masing-masing.

Namun, pedagang yang lain telah menempati TPPS yang dibuatkan pemkab. Tomi Abhan, 41, termasuk pedagang yang merehab terlebih dahulu kiosnya. Rehab itu karena merasa kurang puas dengan kios TPPS. Salah satunya karena desain bagian depan yang kurang cocok untuk menaruh etalase.

“Kalau tidak dibongkar, nanti dagangan yang ada di etalase tidak bisa terlihat,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Kediri, kemarin.

Pedagang perlengkapan listrik tersebut mengaku, lebih baik mengeluarkan biaya tambahan asal bisa berjualan dengan nyaman. Rehab TPPS sejatinya memang tidak dilarang. Hanya saja, biaya bahan bangunan dan pekerja menjadi tanggung jawab masing-masing pedagang.

Baca Juga :  Diduga Korsleting Mobil, Garasi Rumah Terbakar

Seperti yang dilakukan Tomi. Bermodalkan sekitar Rp 2 juta, ia melakukan beberapa rehab. Di antaranya, di sisi depan dan bagian dalam. Sisi depan direhab untuk memudahkannya menjajakan dagangan. Sedangkan sisi bagian dalam difokuskan untuk faktor keamanan.

Tomi menggunakan material seng galvalum pada bagian dalam di kedua sisinya. Itu selebar kerangka TPPS yang berukuran 3 x 3 meter. “Kalau tidak ditambah seng galvalum saya khawatir mudah dibobol. Aslinya kan materialnya hanya tripleks,” ungkap pedagang asal Desa Darungan tersebut.

Tomi mengaku, khawatir dengan faktor keamanan di sana. Pasalnya harga barang dagangannya relatif mahal. Seperti kompor, magic jar dan semacamnya. Oleh karena itu, ia rela mengeluarkan dana tambahan untuk memastikan keamanan kiosnya.

Selain menambah seng galvalum di sisi kanan dan kiri, pintu kios bagian dalam juga dilapisinya. Tomi juga menambah beberapa grendel dan selot pintu di beberapa titik. “Lha satu barang hilang saja sudah lumayan. Sekitar Rp 500 ribu melayang,” ujarnya.

Baca Juga :  Sembuh, Pasien Tetap Harus Pakai Masker

Oleh karena itu, Tomi mendukung jika ada wacana urunan untuk mempekerjakan pihak keamanan di TPPS. Itu untuk berjaga malam saat tidak ada pedagang. Pasalnya, ia sering mendengar ada kasus kehilangan di TPPS bagian dalam. Namun begitu, ia belum mengetahui apakah para pedagang lain setuju. Sejauh yang ia ketahui belum ada pembicaraan.

Terkait keamanan TPPS, Pemkab Kediri telah melakukan sosialisasi pada pedagang. Disampaikan bahwa keamanan menjadi tanggung jawab pedagang. “Namun kami juga akan berdiskusi dengan keamanan desa setempat agar lebih baiknya,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Industri dan Perdagangan (Disdag) Kabupaten Kediri Tutik Purwaningsih melalui WhatsApp, kemarin siang.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/