29.8 C
Kediri
Friday, July 1, 2022

Melihat Produksi Kerupuk di Kertosono

Produksi kerupuk sangat bergantung pada sinar matahari. Karena kerupuk tersebut harus dijemur sebelum digoreng. Ironisnya, saat ini hampir setiap hari, Kota Angin diguyur hujan.

Ribuan kerupuk mentah berjajar rapi di sebuah pabrik kerupuk di jalan Nanas, Desa Pelem, Kecamatan Kertosono kemarin siang. Muanam, 60, sang pemilik usaha memanfaatkan halamannya tersebut untuk menjemur kerupuk yang diproduksinya. “Setelah dicetak, kerupuk langsung dijemur sebelum digoreng,” ujar pria yang telah memulai usahanya tersebut sejak 1983 itu.

Muanam menceritakan, mengawali usaha kerupuk sejak masih bujang. Ilmu yang didapatkannya saat bekerja di sebuah pabrik kerupuk di Kediri langsung dipraktikan. Tentu mulanya tidak sebesar sekarang. Namun seiring konsistensi dan keuletannya, bisnis tersebut menjadi semakin besar.

Baca Juga :  Waspada Penyebaran Korona, Klaster Tulungagung Terus Dilacak

Setiap harinya, Muanam bersama 25 karyawannya dapat memproduksi kerupuk sekitar 7-8 kuintal. Dalam proses produksinya tersebut, dia mengaku sangat bergantung dengan terik matahari. Yakni pada saat mengeringkan ratusan ribu kerupuk mentah tersebut.

Pasalnya, di rumah produksinya tersebut juga menjual kerupuk matang. Ada pekerjanya sendiri yang diberi tugas untuk menggoreng kerupuk tersebut. Namun begitu, juga ada kerupuk mentah yang dijualnya. “Meski mentah akan tetap dijual dalam keadaan kering,” ujarnya.

Oleh karena itu, musim penghujan seperti sekarang ini menjadi momok baginya. Pada saat matahari terik, dia hanya membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam untuk mengeringkan kerupuknya. Tetapi ketika mendung gelap, butuh waktu 1-2 hari. “Tidak sampai rugi, tapi ya waktu produksinya jadi mundur,” ujar Muanam.

Baca Juga :  Puncak Kemarau Diprediksi Pertengahan Agustus

Bahkan, tak jarang dia juga mendapatkan kesialan. Kerupuknya beberapa kali kehujanan sebelum sempat kering. Otomatis, Muanam harus memproduksi ulang kerupuk-kerupuknya tersebut. “Pernah juga apes seperti itu,” ujarnya.

Menyiasati kondisi tersebut, Muanam harus mendatangkan mesin oven dari Sidoarjo. Ini dilakukan agar kerupuk cepat kering.

- Advertisement -

Produksi kerupuk sangat bergantung pada sinar matahari. Karena kerupuk tersebut harus dijemur sebelum digoreng. Ironisnya, saat ini hampir setiap hari, Kota Angin diguyur hujan.

Ribuan kerupuk mentah berjajar rapi di sebuah pabrik kerupuk di jalan Nanas, Desa Pelem, Kecamatan Kertosono kemarin siang. Muanam, 60, sang pemilik usaha memanfaatkan halamannya tersebut untuk menjemur kerupuk yang diproduksinya. “Setelah dicetak, kerupuk langsung dijemur sebelum digoreng,” ujar pria yang telah memulai usahanya tersebut sejak 1983 itu.

Muanam menceritakan, mengawali usaha kerupuk sejak masih bujang. Ilmu yang didapatkannya saat bekerja di sebuah pabrik kerupuk di Kediri langsung dipraktikan. Tentu mulanya tidak sebesar sekarang. Namun seiring konsistensi dan keuletannya, bisnis tersebut menjadi semakin besar.

Baca Juga :  Upaya Dinkes Tekan Stunting di Tengah Pandemi Covid-19

Setiap harinya, Muanam bersama 25 karyawannya dapat memproduksi kerupuk sekitar 7-8 kuintal. Dalam proses produksinya tersebut, dia mengaku sangat bergantung dengan terik matahari. Yakni pada saat mengeringkan ratusan ribu kerupuk mentah tersebut.

Pasalnya, di rumah produksinya tersebut juga menjual kerupuk matang. Ada pekerjanya sendiri yang diberi tugas untuk menggoreng kerupuk tersebut. Namun begitu, juga ada kerupuk mentah yang dijualnya. “Meski mentah akan tetap dijual dalam keadaan kering,” ujarnya.

Oleh karena itu, musim penghujan seperti sekarang ini menjadi momok baginya. Pada saat matahari terik, dia hanya membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam untuk mengeringkan kerupuknya. Tetapi ketika mendung gelap, butuh waktu 1-2 hari. “Tidak sampai rugi, tapi ya waktu produksinya jadi mundur,” ujar Muanam.

Baca Juga :  Pembangunan Kawasan Ekonomi Nganjuk (KEN) di Jalan A. Yani Nganjuk

Bahkan, tak jarang dia juga mendapatkan kesialan. Kerupuknya beberapa kali kehujanan sebelum sempat kering. Otomatis, Muanam harus memproduksi ulang kerupuk-kerupuknya tersebut. “Pernah juga apes seperti itu,” ujarnya.

Menyiasati kondisi tersebut, Muanam harus mendatangkan mesin oven dari Sidoarjo. Ini dilakukan agar kerupuk cepat kering.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/