22.4 C
Kediri
Saturday, August 20, 2022

Pedagang Keluhkan Tangga yang Terlalu Tinggi di Pasar Setonobetek

- Advertisement -

KOTA, JP Radar Kediri – Sarana dan prasarana (sarpras) Pasar Setonobetek di Blok A belum mampu menunjang peningkatan jumlah pembeli. Salah satu yang dikeluhkan pedagang di lantai 2 adalah tangga yang terlalu tinggi. Pasalnya, untuk mengangkut barang dagangan ke kios, mereka harus mengeluarkan ongkos tambahan.

Lantai 2 blok A banyak ditempati pedagang gerabah dan abrak. Sofiah, salah seorang pedagang mengatakan anak tangga menuju lantai 2 terlalu banyak. Jumlahnya sebanyak 24 anak tangga. “Tangganya sangat tinggi,” keluhnya kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Untuk diketahui, blok A terdiri dari dua lantai. Untuk naik ke lantai dua, pembeli harus menaiki anak tangga yang berada di tengah. Selain itu, mereka juga bisa naik tangga yang terletak di sisi selatan.

Sebenarnya, bangunan pasar yang menyedot anggaran sekitar Rp 45 miliar itu juga menyediakan lift. Namun, karena kondisi pasar belum ramai, lift tersebut tidak difungsikan sementara waktu.

- Advertisement -

Dengan kondisi tersebut, Sofiah mengaku, sangat menyulitkan pedagang gerabah di lantai 2. Sebab jenis barang dagangan mereka tergolong sangat berat. Karena itu, setiap kulakan sales menolak menaikkan barang sampai ke kios.

Baca Juga :  Bertambah Satu Pasien Positif

“Barang di letakkan di bawah,” ungkap perempuan asal Desa Jambangan, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri tersebut.

Akibatnya lagi, Sofiah dan pedagang lain terpaksa mengeluarkan ongkos tambahan. Mereka harus membayar tenaga pengangkut. Sekali angkut dengan jumlah barang setara muatan becak, dia harus mengeluarkan ongkos sebesar Rp 30 ribu. “Sebagian kami angkut sendiri. Tapi sangat berat rasanya,” keluhnya.

Sebenarnya, menurut Sofiah, ongkos yang dikeluarkan tersebut tidak seberapa bila keadaan pasar ramai. Masalahnya, sejak dibuka Oktober 2018, jumlah pembeli semakin turun. “Akhirnya (ongkos angkut) itu terasa berat,” kata perempuan 42 tahun ini.

Dalah sehari, Sofiah mengaku, pendapatannya fluktuatif. Pernah hanya mendapat Rp 10 ribu sehari. Di hari-hari tertentu, barang terjual sekitar Rp 100 ribu. Dibanding sebelum direnovasi, jumlah tersebut masih kalah jauh. Dulu, sehari mereka bisa mendapat omzet mencapai Rp 2 juta per hari.

Dia mengakui tangga tersebut memang menghambat jumlah pembeli. Menurutnya, konsumen lebih memilih membeli di Pasar Pahing. “Di sana juga jual gerabah. Ke sini kalau hanya benar-benar mendesak saja,” ungkapnya.

Baca Juga :  Omzet Pedagang Blok A Pasar Setonobetek Naik

Sofiah menyadari bangunan pasar memang sudah sulit diubah lagi. Namun dia menyarakan agar tangga diganti dengan ekskalator. “Kalau lift difungsikan, juga bisa dimanfaatkan,” katanya.

Subroto, pedagang gerabah lain, mengatakan, jumlah kios di lantai 2 yang ditempati hanya 10 tempat. Padahal kios yang tersedia sebanyak 70 tempat. “Yang lain kosong, tidak ditempati,” kata pria asal Kelurahan Setonopande, Kecamatan Kota ini.

Biasanya, mereka mulai berjualan sekitar pukul 06.00. Setelah itu, kios ditutup sekitar pukul 20.30. Meski dibuka lebih dari 12 jam, tetapi pendapatan pedagang belum terkerek naik.

Sementara itu, Direktur Perusahaan Daerah (PD) Pasar Jayabaya Kota Kediri Ihwan Yusuf mengatakan, pihaknya tetap memilih upaya menyediakan kios dan los bagi pedagang yang benar-benar serius. Karena itu, setelah pengambilalihan` kios, PD Pasar lebih mudah mengaturnya. “Menunggu sampai SP3 (surat peringatan ketiga),” katanya.

 

- Advertisement -

KOTA, JP Radar Kediri – Sarana dan prasarana (sarpras) Pasar Setonobetek di Blok A belum mampu menunjang peningkatan jumlah pembeli. Salah satu yang dikeluhkan pedagang di lantai 2 adalah tangga yang terlalu tinggi. Pasalnya, untuk mengangkut barang dagangan ke kios, mereka harus mengeluarkan ongkos tambahan.

Lantai 2 blok A banyak ditempati pedagang gerabah dan abrak. Sofiah, salah seorang pedagang mengatakan anak tangga menuju lantai 2 terlalu banyak. Jumlahnya sebanyak 24 anak tangga. “Tangganya sangat tinggi,” keluhnya kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Untuk diketahui, blok A terdiri dari dua lantai. Untuk naik ke lantai dua, pembeli harus menaiki anak tangga yang berada di tengah. Selain itu, mereka juga bisa naik tangga yang terletak di sisi selatan.

Sebenarnya, bangunan pasar yang menyedot anggaran sekitar Rp 45 miliar itu juga menyediakan lift. Namun, karena kondisi pasar belum ramai, lift tersebut tidak difungsikan sementara waktu.

Dengan kondisi tersebut, Sofiah mengaku, sangat menyulitkan pedagang gerabah di lantai 2. Sebab jenis barang dagangan mereka tergolong sangat berat. Karena itu, setiap kulakan sales menolak menaikkan barang sampai ke kios.

Baca Juga :  Wisata Kediri: Uji Coba Buka namun Kunjungan Masih Sepi

“Barang di letakkan di bawah,” ungkap perempuan asal Desa Jambangan, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri tersebut.

Akibatnya lagi, Sofiah dan pedagang lain terpaksa mengeluarkan ongkos tambahan. Mereka harus membayar tenaga pengangkut. Sekali angkut dengan jumlah barang setara muatan becak, dia harus mengeluarkan ongkos sebesar Rp 30 ribu. “Sebagian kami angkut sendiri. Tapi sangat berat rasanya,” keluhnya.

Sebenarnya, menurut Sofiah, ongkos yang dikeluarkan tersebut tidak seberapa bila keadaan pasar ramai. Masalahnya, sejak dibuka Oktober 2018, jumlah pembeli semakin turun. “Akhirnya (ongkos angkut) itu terasa berat,” kata perempuan 42 tahun ini.

Dalah sehari, Sofiah mengaku, pendapatannya fluktuatif. Pernah hanya mendapat Rp 10 ribu sehari. Di hari-hari tertentu, barang terjual sekitar Rp 100 ribu. Dibanding sebelum direnovasi, jumlah tersebut masih kalah jauh. Dulu, sehari mereka bisa mendapat omzet mencapai Rp 2 juta per hari.

Dia mengakui tangga tersebut memang menghambat jumlah pembeli. Menurutnya, konsumen lebih memilih membeli di Pasar Pahing. “Di sana juga jual gerabah. Ke sini kalau hanya benar-benar mendesak saja,” ungkapnya.

Baca Juga :  Omzet Pedagang Blok A Pasar Setonobetek Naik

Sofiah menyadari bangunan pasar memang sudah sulit diubah lagi. Namun dia menyarakan agar tangga diganti dengan ekskalator. “Kalau lift difungsikan, juga bisa dimanfaatkan,” katanya.

Subroto, pedagang gerabah lain, mengatakan, jumlah kios di lantai 2 yang ditempati hanya 10 tempat. Padahal kios yang tersedia sebanyak 70 tempat. “Yang lain kosong, tidak ditempati,” kata pria asal Kelurahan Setonopande, Kecamatan Kota ini.

Biasanya, mereka mulai berjualan sekitar pukul 06.00. Setelah itu, kios ditutup sekitar pukul 20.30. Meski dibuka lebih dari 12 jam, tetapi pendapatan pedagang belum terkerek naik.

Sementara itu, Direktur Perusahaan Daerah (PD) Pasar Jayabaya Kota Kediri Ihwan Yusuf mengatakan, pihaknya tetap memilih upaya menyediakan kios dan los bagi pedagang yang benar-benar serius. Karena itu, setelah pengambilalihan` kios, PD Pasar lebih mudah mengaturnya. “Menunggu sampai SP3 (surat peringatan ketiga),” katanya.

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/