31.7 C
Kediri
Friday, August 12, 2022

Ketika Sampah Plastik Kian Menggunung dari Hari ke Hari

Tak Memberi Kantong Plastik, Takut Protes Konsumen

Upaya membatasi pemakaian kantong plastik sekali pakai, sebenarnya, sudah mulai dilakukan. Beberapa toko modern tidak lagi menempatkan belanjaan di kantong plastik. Bila pembeli meminta, toko kemudian menarik biaya pembelian.

Tapi, hal seperti itu hanya berlangsung di beberapa toko modern saja. Sementara, banyak toko lainnya yang belum menerapkan karena beberapa sebab. Yang paling utama adalah takut dikomplain konsumen.

“Sebab, rata-rata pembeli datang tidak membawa tas belanjaan,” aku Inneke, salah seorang pengelola toko swalayan.

Di toko Inneke, kantong plastik juga masih diberikan secara cuma-cuma. Dia belum berani mengutip harga tersendiri. Kecuali bila pembeli meminta tas warna merah yang ukurannya lebih besar. Untuk tas jenis itu Inneke meminta Rp 1.000 per kantong.

Dalam satu bulan tokonya menghabiskan tiga kilogram kantong kresek. Mulai ukuran besar, kecil, dan sedang.  Biaya menyediakan tas kresek itu sekitar Rp 100 ribu per bulan. Dia membelinya per pack.

“Karena pembelian tas kresek ada batas minimal, paling sedikit Rp 1 juta,” aku wanita 31 tahun ini.

Baca Juga :  Riko dan Alfi, Kembangkan Platform Jual-Beli Komoditas Lokal

Dalam satu kali transaksi, banyaknya kresek yang digunakan juga berbeda-beda. Rata-rata memang satu kantong setiap kali transaksi. Namun, bila jenis belanjaannya berbeda, seperti makanan dan non-makanan seperti shampo atau sabun, dia akan bertanya terlebih dulu. Apakah belanjaan boleh digabung dalam satu kresek atau tidak.

“Kadang ada yang pembeli minta dipisah, ada juga yang tidak mau,” kata wanita dengan satu anak ini.

Terkait aturan pelarangan penggunaan kantong plastik, Inneke mengaku setuju dan ingin menerapkan. Namun, untuk saat ini dia masih belum berani. Karena tak ingin diprotes pelanggan. Termasuk bila menerapkan biaya untuk kantong plastik yang diberikan.

Inneke juga sadar bahwa mengurangi sampah plastik adalah hal yang sulit. Terutama bagi masyarakat. Misalnya, di rumah, dia juga masih menggunakan kantong plastik untuk tempat sampah.

Baca Juga :  Inilah Diskon untuk Shopping Festival 2018 di Kediri

Hal yang sama juga dirasakan oleh Leni Islamiati. Perempuan berusia 19 tahun ini mengaku memilih mengeluarkan Rp 200 untuk tas kresek, dibandingkan harus membawa tas kain dari rumah. “Males mbak bawa-bawa tas kayak gitu ribet,” dalih Leni.

Dia mengatakan jika sedang berbelanja, paling banyak ia bisa mendapat tiga kantong plastik. Namun ketika di rumah, kantong plastik ini tidak langsung dibuang. Jika kondisi masih bagus, kantong plastik ini akan disimpan.  “Kalau di rumah tas kresek bekas ini dibuat buang sampah,” imbuhnya.






Reporter: Habibaham Anisa Muktiara
- Advertisement -

Upaya membatasi pemakaian kantong plastik sekali pakai, sebenarnya, sudah mulai dilakukan. Beberapa toko modern tidak lagi menempatkan belanjaan di kantong plastik. Bila pembeli meminta, toko kemudian menarik biaya pembelian.

Tapi, hal seperti itu hanya berlangsung di beberapa toko modern saja. Sementara, banyak toko lainnya yang belum menerapkan karena beberapa sebab. Yang paling utama adalah takut dikomplain konsumen.

“Sebab, rata-rata pembeli datang tidak membawa tas belanjaan,” aku Inneke, salah seorang pengelola toko swalayan.

Di toko Inneke, kantong plastik juga masih diberikan secara cuma-cuma. Dia belum berani mengutip harga tersendiri. Kecuali bila pembeli meminta tas warna merah yang ukurannya lebih besar. Untuk tas jenis itu Inneke meminta Rp 1.000 per kantong.

Dalam satu bulan tokonya menghabiskan tiga kilogram kantong kresek. Mulai ukuran besar, kecil, dan sedang.  Biaya menyediakan tas kresek itu sekitar Rp 100 ribu per bulan. Dia membelinya per pack.

“Karena pembelian tas kresek ada batas minimal, paling sedikit Rp 1 juta,” aku wanita 31 tahun ini.

Baca Juga :  Jatuh Cinta sejak Pandangan Pertama

Dalam satu kali transaksi, banyaknya kresek yang digunakan juga berbeda-beda. Rata-rata memang satu kantong setiap kali transaksi. Namun, bila jenis belanjaannya berbeda, seperti makanan dan non-makanan seperti shampo atau sabun, dia akan bertanya terlebih dulu. Apakah belanjaan boleh digabung dalam satu kresek atau tidak.

“Kadang ada yang pembeli minta dipisah, ada juga yang tidak mau,” kata wanita dengan satu anak ini.

Terkait aturan pelarangan penggunaan kantong plastik, Inneke mengaku setuju dan ingin menerapkan. Namun, untuk saat ini dia masih belum berani. Karena tak ingin diprotes pelanggan. Termasuk bila menerapkan biaya untuk kantong plastik yang diberikan.

Inneke juga sadar bahwa mengurangi sampah plastik adalah hal yang sulit. Terutama bagi masyarakat. Misalnya, di rumah, dia juga masih menggunakan kantong plastik untuk tempat sampah.

Baca Juga :  Pasang Tiang ETLE di Jl Ahmad Yani

Hal yang sama juga dirasakan oleh Leni Islamiati. Perempuan berusia 19 tahun ini mengaku memilih mengeluarkan Rp 200 untuk tas kresek, dibandingkan harus membawa tas kain dari rumah. “Males mbak bawa-bawa tas kayak gitu ribet,” dalih Leni.

Dia mengatakan jika sedang berbelanja, paling banyak ia bisa mendapat tiga kantong plastik. Namun ketika di rumah, kantong plastik ini tidak langsung dibuang. Jika kondisi masih bagus, kantong plastik ini akan disimpan.  “Kalau di rumah tas kresek bekas ini dibuat buang sampah,” imbuhnya.






Reporter: Habibaham Anisa Muktiara

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/