31.7 C
Kediri
Friday, August 12, 2022

Ketika Sampah Plastik Kian Menggunung dari Hari ke Hari

Opsinya Daur Ulang atau Kurangi Volume

Ketergantungan manusia yang tinggi akan plastik memunculkan banyak masalah terhadap lingkungan. Sebab, sampah plastik membutuhkan penanganan khusus dengan cara didaur ulang. Opsi penimbunan atau pengolahan dengan cara dibakar akan membawa dampak negatif.

Kabid persampahan Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri Roni Yusianto mengungkapkan, sampah plastik tidak bisa terurai secara alami. Sehingga, membutuhkan penanganan khusus. “Sampah plastik harus didaur ulang untuk membuat barang baru atau digunakan untuk substitusi kebutuhan yang setara,” kata Roni.

Yang menjadi masalah, pengolahan limbah di Kota Kediri masih belum ada. Akibatnya, dari tempat pengepul barang bekas, selanjutnya sampah plastik itu dikirim ke industri pengolahan. Mulai Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo.

Staf Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup (PPLH) Budi Prayogo menambahkan, di masyarakat masih banyak ditemui praktik pengolahan sampah plastik dengan cara ditimbun atau dibakar. “Dua cara itu memiliki risiko negatif masing-masing,” terangnya.

Baca Juga :  Pemkab Kediri Gelontor Lima Ribu Vaksin Tiap Hari

Mengolah sampah plastik dengan cara ditimbun akan mencemari tanah. Dalam jangka panjang, sampah plastik yang menumpuk di tanah juga bisa mencemari air tanah.

Penimbunan sampah plastik menurut Budi bisa menghambat proses air tanah. Sebab, sampah plastik tidak bisa terurai sendiri. Akibatnya, sampah akan menumpuk dan menjadi limbah. “Tanah tidak bisa menyerap air dengan baik dan mengakibatkan pengikisan tanah karena tidak sanggup menahan tekanan air,” paparnya.

Pencemaran air akibat sampah plastik ini menurutnya sangat membahayakan masyarakat. Terutama terkait kebutuhan air minum yang kualitasnya tidak lagi baik. Tak hanya terkait air minum, sampah plastik yang menumpuk di tahan juga bisa memicu banjir.

Bagaimana dengan pengolahan sampah plastik dengan cara dibakar? Budi juga menyebut hal itu dilarang. Sebab, dalam jangka panjang tetap akan merugikan manusia.

Baca Juga :  Siapkan Protokol Hajatan di Pandemi Korona

Meski dianggap praktis dan lazim dilakukan oleh masyarakat di pekarangan rumah, menurut Budi membakar sampah plastik mengakibatkan polusi udara. “Jika dibiarkan berkepanjangan, polusi udara bisa mengakibatkan gangguan pernapasan,” tegasnya.

Melihat berbagai risiko pengolahan sampah, Budi menyebut sejauh ini daur ulang masih menjadi opsinya. Selebihnya, kampanye pengurangan sampah plastik harus terus digalakkan. Sehingga, volume sampah plastik yang masuk ke TPA bisa berkurang.

Jika kesadaran masyarakat untuk tidak lagi menggunakan sampah plastik sudah terbangun, menurut Budi dampaknya akan sangat baik bagi lingkungan. Solusinya, masyarakat bisa menggunakan pengganti plastik yang lebih ramah lingkungan. “Saat ini masyarakat sudah sangat tergantung dengan plastik dalam hal apapun,” sesalnya.






Reporter: Habibaham Anisa Muktiara
- Advertisement -

Ketergantungan manusia yang tinggi akan plastik memunculkan banyak masalah terhadap lingkungan. Sebab, sampah plastik membutuhkan penanganan khusus dengan cara didaur ulang. Opsi penimbunan atau pengolahan dengan cara dibakar akan membawa dampak negatif.

Kabid persampahan Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri Roni Yusianto mengungkapkan, sampah plastik tidak bisa terurai secara alami. Sehingga, membutuhkan penanganan khusus. “Sampah plastik harus didaur ulang untuk membuat barang baru atau digunakan untuk substitusi kebutuhan yang setara,” kata Roni.

Yang menjadi masalah, pengolahan limbah di Kota Kediri masih belum ada. Akibatnya, dari tempat pengepul barang bekas, selanjutnya sampah plastik itu dikirim ke industri pengolahan. Mulai Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo.

Staf Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup (PPLH) Budi Prayogo menambahkan, di masyarakat masih banyak ditemui praktik pengolahan sampah plastik dengan cara ditimbun atau dibakar. “Dua cara itu memiliki risiko negatif masing-masing,” terangnya.

Baca Juga :  Memaknai Pamenang dari Konsep Trimatra

Mengolah sampah plastik dengan cara ditimbun akan mencemari tanah. Dalam jangka panjang, sampah plastik yang menumpuk di tanah juga bisa mencemari air tanah.

Penimbunan sampah plastik menurut Budi bisa menghambat proses air tanah. Sebab, sampah plastik tidak bisa terurai sendiri. Akibatnya, sampah akan menumpuk dan menjadi limbah. “Tanah tidak bisa menyerap air dengan baik dan mengakibatkan pengikisan tanah karena tidak sanggup menahan tekanan air,” paparnya.

Pencemaran air akibat sampah plastik ini menurutnya sangat membahayakan masyarakat. Terutama terkait kebutuhan air minum yang kualitasnya tidak lagi baik. Tak hanya terkait air minum, sampah plastik yang menumpuk di tahan juga bisa memicu banjir.

Bagaimana dengan pengolahan sampah plastik dengan cara dibakar? Budi juga menyebut hal itu dilarang. Sebab, dalam jangka panjang tetap akan merugikan manusia.

Baca Juga :  Terbukti Korupsi, Siap-siap Dipecat

Meski dianggap praktis dan lazim dilakukan oleh masyarakat di pekarangan rumah, menurut Budi membakar sampah plastik mengakibatkan polusi udara. “Jika dibiarkan berkepanjangan, polusi udara bisa mengakibatkan gangguan pernapasan,” tegasnya.

Melihat berbagai risiko pengolahan sampah, Budi menyebut sejauh ini daur ulang masih menjadi opsinya. Selebihnya, kampanye pengurangan sampah plastik harus terus digalakkan. Sehingga, volume sampah plastik yang masuk ke TPA bisa berkurang.

Jika kesadaran masyarakat untuk tidak lagi menggunakan sampah plastik sudah terbangun, menurut Budi dampaknya akan sangat baik bagi lingkungan. Solusinya, masyarakat bisa menggunakan pengganti plastik yang lebih ramah lingkungan. “Saat ini masyarakat sudah sangat tergantung dengan plastik dalam hal apapun,” sesalnya.






Reporter: Habibaham Anisa Muktiara

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/