25.7 C
Kediri
Wednesday, August 17, 2022

CJH Berangkat, Sambal dan Odol Disita

- Advertisement -

KEDIRI KABUPATEN – Tidak semua barang bawaan calon jamaah haji (CJH) boleh dibawa sampai ke Makkah. Sebagian justru disita ketika pemeriksaan di Asrama Haji, Sukolilo, Surabaya. Selanjutnya, petugas menyerahkan barang-barang tersebut ke Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kediri.

Apa saja barang yang tidak boleh dibawa ketika berhaji? “Macam-macam Mas. Barang-barang itu disita saat jamaah hendak terbang,” ujar Humas Kemenag Kabupaten Kediri Paolo Jose Ximenes, kemarin.

Dia menerangkan bahwa pemberangkatan CJH Kabupaten Kediri telah dilakukan pada Jumat (28/7) dan Sabtu (29/7) melalui Bandara Juanda, Sidoarjo. Jumlahnya sebanyak 1.243 orang.

Namun sebelumnya, ketika masih berada di Asrama Haji barang bawaan mereka diperiksa. Saat itulah ditemukan yang tidak boleh dibawa. Sehingga oleh petugas disita.

- Advertisement -

Di antaranya adalah gunting 37 buah, odol atau pasta gigi 12 buah, hingga cairan infus 6 buah. Selain itu, petugas juga menemukan pisau, cutter, hingga paku. Bahkan, sebotol sambal yang dibawa CJH pun ikut disita.

Baca Juga :  Operasional Rumah Singgah Tunggu SK Tenaga Kontrak

Padahal sebelumnya, menurut Polo, petugas telah mengumumkan barang-barang tersebut tidak boleh dibawa. Kendati begitu, masih ada saja yang nekat membawanya.

Lantas mengapa tidak boleh? Paolo menyatakan, alasannya karena barang-barang itu berpotensi mengganggu penerbangan. “Mereka (CJH) khawatir barang-barang tersebut tidak dijual di Arab. Makanya bawa dari Kediri. Ternyata ketahuan petugas, ya langsung disita,” papar pria asli Timor Timur ini. 

Sementara itu, CJH asal Kabupaten Kediri yang sudah tiba di Arab Saudi harus mampu langsung beradaptasi dengan lingkungan negara yang identik dengan buah kurma ini. Pasalnya, suhu di sana lebih tinggi daripada Indonesia. “Ya cuacanya cenderung lebih panas,” kata Paolo.

Karena itu, diharapkan para jamaah bisa segera beradaptasi dan menjaga kondisinya ketika ibadah di Tanah Suci. Paolo mengaku, pihaknya selalu memperbaharui informasi CJH. “Ya kami terima informasi yang dihimpun dari tim yang berada di Arab,” imbuhnya.

Saat ini, menurutnya, suhu di Arab sedang ekstrem. Tak tanggung-tanggung mencapai 42 derajat celsius. “Ini sangat berbeda sekali dengan di Kediri yang rata-rata 30 derajat celsius,” terangnya.

Baca Juga :  Penerima Bansos di Kediri Tahun Ini Diprediksi Naik

Dengan perbedaan suhu yang lebih dari 10 derajat celsius inilah, para jamaah haji asal Kediri harus mampu segera beradaptasi. Dengan suhu setinggi itu, Paolo waswas kondisi CJH bisa drop. Walaupun hingga kemarin para jamaah asal Kabupaten Kediri terpantau sehat-sehat.

Tim medis maupun Kemenag selalu memberi imbauan kepada jamaahnya. “Kami selalu sediakan air mineral yang banyak. Dan kami sarankan setiap keluar ruangan saat ibadah agar membawa air dan minum banyak-banyak. Sehingga tidak sampai dehidrasi,” urainya.

Paolo menyatakan, kesehatan para jamaah haji juga menjadi tanggungjawabnya. Makanya, setiap ketua kloter maupun rombongan selalu diwanti-wanti agar mengingatkan bahwa air sangat penting dan harus dibawa. Walaupun begitu, terdapat jamaah yang mengeluhkan flu maupun pusing-pusing. “Penyakit ringan itu sudah biasa. Diberi obat sama tim medis beberapa saat pasti sembuh. Hingga saat ini tidak ada yang sakit berat di sana,” ungkapnya.

 

- Advertisement -

KEDIRI KABUPATEN – Tidak semua barang bawaan calon jamaah haji (CJH) boleh dibawa sampai ke Makkah. Sebagian justru disita ketika pemeriksaan di Asrama Haji, Sukolilo, Surabaya. Selanjutnya, petugas menyerahkan barang-barang tersebut ke Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kediri.

Apa saja barang yang tidak boleh dibawa ketika berhaji? “Macam-macam Mas. Barang-barang itu disita saat jamaah hendak terbang,” ujar Humas Kemenag Kabupaten Kediri Paolo Jose Ximenes, kemarin.

Dia menerangkan bahwa pemberangkatan CJH Kabupaten Kediri telah dilakukan pada Jumat (28/7) dan Sabtu (29/7) melalui Bandara Juanda, Sidoarjo. Jumlahnya sebanyak 1.243 orang.

Namun sebelumnya, ketika masih berada di Asrama Haji barang bawaan mereka diperiksa. Saat itulah ditemukan yang tidak boleh dibawa. Sehingga oleh petugas disita.

Di antaranya adalah gunting 37 buah, odol atau pasta gigi 12 buah, hingga cairan infus 6 buah. Selain itu, petugas juga menemukan pisau, cutter, hingga paku. Bahkan, sebotol sambal yang dibawa CJH pun ikut disita.

Baca Juga :  Upaya Para Eks Warga Binaan Bangkit usai Jalani Hukuman

Padahal sebelumnya, menurut Polo, petugas telah mengumumkan barang-barang tersebut tidak boleh dibawa. Kendati begitu, masih ada saja yang nekat membawanya.

Lantas mengapa tidak boleh? Paolo menyatakan, alasannya karena barang-barang itu berpotensi mengganggu penerbangan. “Mereka (CJH) khawatir barang-barang tersebut tidak dijual di Arab. Makanya bawa dari Kediri. Ternyata ketahuan petugas, ya langsung disita,” papar pria asli Timor Timur ini. 

Sementara itu, CJH asal Kabupaten Kediri yang sudah tiba di Arab Saudi harus mampu langsung beradaptasi dengan lingkungan negara yang identik dengan buah kurma ini. Pasalnya, suhu di sana lebih tinggi daripada Indonesia. “Ya cuacanya cenderung lebih panas,” kata Paolo.

Karena itu, diharapkan para jamaah bisa segera beradaptasi dan menjaga kondisinya ketika ibadah di Tanah Suci. Paolo mengaku, pihaknya selalu memperbaharui informasi CJH. “Ya kami terima informasi yang dihimpun dari tim yang berada di Arab,” imbuhnya.

Saat ini, menurutnya, suhu di Arab sedang ekstrem. Tak tanggung-tanggung mencapai 42 derajat celsius. “Ini sangat berbeda sekali dengan di Kediri yang rata-rata 30 derajat celsius,” terangnya.

Baca Juga :  Hanura Urung Usung Suryo Alam?

Dengan perbedaan suhu yang lebih dari 10 derajat celsius inilah, para jamaah haji asal Kediri harus mampu segera beradaptasi. Dengan suhu setinggi itu, Paolo waswas kondisi CJH bisa drop. Walaupun hingga kemarin para jamaah asal Kabupaten Kediri terpantau sehat-sehat.

Tim medis maupun Kemenag selalu memberi imbauan kepada jamaahnya. “Kami selalu sediakan air mineral yang banyak. Dan kami sarankan setiap keluar ruangan saat ibadah agar membawa air dan minum banyak-banyak. Sehingga tidak sampai dehidrasi,” urainya.

Paolo menyatakan, kesehatan para jamaah haji juga menjadi tanggungjawabnya. Makanya, setiap ketua kloter maupun rombongan selalu diwanti-wanti agar mengingatkan bahwa air sangat penting dan harus dibawa. Walaupun begitu, terdapat jamaah yang mengeluhkan flu maupun pusing-pusing. “Penyakit ringan itu sudah biasa. Diberi obat sama tim medis beberapa saat pasti sembuh. Hingga saat ini tidak ada yang sakit berat di sana,” ungkapnya.

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/