31.7 C
Kediri
Friday, August 12, 2022

Ribuan Sapi di Kota Kediri Rawan Mati

KOTA, JP Radar Kediri-Ribuan ekor sapi di Kota Kediri rawan tertular penyakit mulut dan kuku (PMK). Pasalnya, rencana vaksinasi terhadap hewan ternak itu terhambat karena stok vaksin yang habis. Dalam kondisi kasus yang terus melonjak, hewan-hewan yang sekarang masih sehat itu bisa terpapar virus kapan saja.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Kediri Mohamad Ridwan mengungkapkan, di tahap awal Kota Kediri mendapat 500 dosis vaksin. Ratusan vaksin itu sudah didistribusikan untuk sapi perah dan sebagian sapi potong. “Sekarang masih ada sekitar tiga ribu sapi potong yang harus divaksin,” kata Ridwan.

Sayangnya, DKPP belum bisa melakukan vaksinasi dalam waktu dekat. Sebab, hingga kemarin mereka belum mendapat tambahan vaksin. Kapan pasokan akan datang? pria asal Pare itu mengaku belum bisa menyebutkan waktunya. Meski demikian, menurutnya DKPP sudah mengajukan permohonan vaksin tambahan.

Sembari menunggu kiriman vaksin, Ridwan memilih mengoptimalkan pencegahan penularan. Sehingga, ribuan ekor sapi yang jauh dari lingkungan sapi yang terpapar PMK bisa tetap sehat. Caranya, dengan melakukan sterilisasi kandang dan disinfeksi secara rutin. “Ternak diberi asupan makanan yang baik, dan kebersihan kandang dijaga,” tegasnya.

Dengan cara demikian, Ridwan optimistis kasus PMK bisa terkendali. Di saat yang sama, DKPP juga fokus mengobati hewan yang terpapar. “Kami beri extra food untuk daya tahan tubuh hewan. Penanganan PMK ini mirip dengan Covid-19,” tegasnya sembari menyebut hewan yang terjangkit virus langsung dikarantina.

Baca Juga :  Pemkab Tunggu Anggaran dari Pusat

Untuk diketahui, jumlah vaksin yang tak sesuai kebutuhan juga terjadi di Kabupaten Kediri. Daerah dengan populasi ternak mencapai ratusan ribu ekor itu baru mendapat 6.400 dosis.

Bedanya, jika di Kota Kediri vaksinasi sapi sudah selesai, hingga kemarin vaksinasi di Bumi Panjalu belum selesai. Ribuan dosis vaksin akan didistribusikan ke 13 kecamatan dengan kasus PMK minim.

Sementara itu, peternak sapi di Kabupaten Kediri kini kian dilematis. Tidak hanya dihadapi oleh peternak yang harga sapinya anjlok karena sakit. Peternak yang sapinya sehat juga mengeluh sulit menjual hewan peliharaan mereka yang baru divaksin.

Seperti diungkapkan oleh Joni Sriwasono, ketua alumni Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) Ngudi Rejeki, Ngadiluwih. Menurutnya, saat ini pedagang sapi tidak hanya dipusingkan dengan kelengkapan surat keterangan kesehatan hewan (SKKH). Melainkan mereka harus menghadapi penolakamn pembeli terhadap sapi yang sudah divaksin. “Mereka khawatir (sapi yang sudah divaksin, Red) akan berdampak pada manusia,” terangnya.

Baca Juga :  Libur Tiga Hari, Disdik Kota Kediri Imbau Sekolah Ada Pondok Ramadan

Dengan kondisi tersebut, menurut Joni pedagang semakin sulit menjual hewan peliharaan mereka. Masa panen yang biasanya dirasakan jelang Idul Adha juga jauh dari harapan.

Menjawab keresahan masyarakat, Vaksinator Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri Joko Santoso menjelaskan, warga tidak perlu khawatir membeli sapi yang sudah divaksin. “Tidak ada residu vaksin di daging,” papar dokter hewan lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta tersebut.

Joko menegaskan, masa eliminasi vaksin PMK adalah nol hari. Artinya, daging sapi yang baru disuntik vaksin tetap aman untuk dikonsumsi alias tidak terdampak.

Dia pun meminta masyarakat tak khawatir mengonsumsinya. Apalagi, vaksin yang dipakai untuk menyuntik hewan adalah vaksin inaktif. “Bukan vaksin aktif atau virus hidup,” tandasnya.

Untuk diketahui, di Kabupaten Kediri kasus PMK terus merebak. Di Desa Gambyok, Grogol, kemarin kembali ada dua ekor sapi yang mati. Adapun satu ekor sapi uyang sempat kejang-kejang berhasil diselamatkan.

Sekretaris Desa Gambyok Mulyono menjelaskan, sapi yang sempat kejang-kejang itu lantas disembelih. “Dagingnya hanya laku dijual Rp 1 juta,” keluh Mulyono meminta pemkab melakukan penanganan khusus di desanya agar sapi-sapi di sana tidak bertumbangan.






Reporter: Ilmidza Amalia Nadzira
- Advertisement -

KOTA, JP Radar Kediri-Ribuan ekor sapi di Kota Kediri rawan tertular penyakit mulut dan kuku (PMK). Pasalnya, rencana vaksinasi terhadap hewan ternak itu terhambat karena stok vaksin yang habis. Dalam kondisi kasus yang terus melonjak, hewan-hewan yang sekarang masih sehat itu bisa terpapar virus kapan saja.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Kediri Mohamad Ridwan mengungkapkan, di tahap awal Kota Kediri mendapat 500 dosis vaksin. Ratusan vaksin itu sudah didistribusikan untuk sapi perah dan sebagian sapi potong. “Sekarang masih ada sekitar tiga ribu sapi potong yang harus divaksin,” kata Ridwan.

Sayangnya, DKPP belum bisa melakukan vaksinasi dalam waktu dekat. Sebab, hingga kemarin mereka belum mendapat tambahan vaksin. Kapan pasokan akan datang? pria asal Pare itu mengaku belum bisa menyebutkan waktunya. Meski demikian, menurutnya DKPP sudah mengajukan permohonan vaksin tambahan.

Sembari menunggu kiriman vaksin, Ridwan memilih mengoptimalkan pencegahan penularan. Sehingga, ribuan ekor sapi yang jauh dari lingkungan sapi yang terpapar PMK bisa tetap sehat. Caranya, dengan melakukan sterilisasi kandang dan disinfeksi secara rutin. “Ternak diberi asupan makanan yang baik, dan kebersihan kandang dijaga,” tegasnya.

Dengan cara demikian, Ridwan optimistis kasus PMK bisa terkendali. Di saat yang sama, DKPP juga fokus mengobati hewan yang terpapar. “Kami beri extra food untuk daya tahan tubuh hewan. Penanganan PMK ini mirip dengan Covid-19,” tegasnya sembari menyebut hewan yang terjangkit virus langsung dikarantina.

Baca Juga :  Jaksa Tuntut Pengamen Asal Papar Mencuri Gawai 10 Bulan Penjara

Untuk diketahui, jumlah vaksin yang tak sesuai kebutuhan juga terjadi di Kabupaten Kediri. Daerah dengan populasi ternak mencapai ratusan ribu ekor itu baru mendapat 6.400 dosis.

Bedanya, jika di Kota Kediri vaksinasi sapi sudah selesai, hingga kemarin vaksinasi di Bumi Panjalu belum selesai. Ribuan dosis vaksin akan didistribusikan ke 13 kecamatan dengan kasus PMK minim.

Sementara itu, peternak sapi di Kabupaten Kediri kini kian dilematis. Tidak hanya dihadapi oleh peternak yang harga sapinya anjlok karena sakit. Peternak yang sapinya sehat juga mengeluh sulit menjual hewan peliharaan mereka yang baru divaksin.

Seperti diungkapkan oleh Joni Sriwasono, ketua alumni Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) Ngudi Rejeki, Ngadiluwih. Menurutnya, saat ini pedagang sapi tidak hanya dipusingkan dengan kelengkapan surat keterangan kesehatan hewan (SKKH). Melainkan mereka harus menghadapi penolakamn pembeli terhadap sapi yang sudah divaksin. “Mereka khawatir (sapi yang sudah divaksin, Red) akan berdampak pada manusia,” terangnya.

Baca Juga :  Transaksi Pil Koplo di Kos, Kernet Truk Asal Kayenkidul Dibekuk Polisi

Dengan kondisi tersebut, menurut Joni pedagang semakin sulit menjual hewan peliharaan mereka. Masa panen yang biasanya dirasakan jelang Idul Adha juga jauh dari harapan.

Menjawab keresahan masyarakat, Vaksinator Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri Joko Santoso menjelaskan, warga tidak perlu khawatir membeli sapi yang sudah divaksin. “Tidak ada residu vaksin di daging,” papar dokter hewan lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta tersebut.

Joko menegaskan, masa eliminasi vaksin PMK adalah nol hari. Artinya, daging sapi yang baru disuntik vaksin tetap aman untuk dikonsumsi alias tidak terdampak.

Dia pun meminta masyarakat tak khawatir mengonsumsinya. Apalagi, vaksin yang dipakai untuk menyuntik hewan adalah vaksin inaktif. “Bukan vaksin aktif atau virus hidup,” tandasnya.

Untuk diketahui, di Kabupaten Kediri kasus PMK terus merebak. Di Desa Gambyok, Grogol, kemarin kembali ada dua ekor sapi yang mati. Adapun satu ekor sapi uyang sempat kejang-kejang berhasil diselamatkan.

Sekretaris Desa Gambyok Mulyono menjelaskan, sapi yang sempat kejang-kejang itu lantas disembelih. “Dagingnya hanya laku dijual Rp 1 juta,” keluh Mulyono meminta pemkab melakukan penanganan khusus di desanya agar sapi-sapi di sana tidak bertumbangan.






Reporter: Ilmidza Amalia Nadzira

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/