25.6 C
Kediri
Thursday, June 30, 2022

Pemkot Kediri Minta Tempat Makan Tutup Tabir selama Ramadan

 KOTA, JP Radar Kediri- Pemkot Kediri tidak melarang pedagang makanan dan minum (mamin) beraktivitas di siang hari selama Ramadan. Hanya saja, mereka diminta menutup tempat jualan dengan tabir agar tidak terlalu mencolok dan mengganggu aktivitas orang yang sedang menjalankan puasa.

Para pengusaha mamin dibatasi waktu berjualannya. Sesuai dengan Peraturan Wali Kota (Perwali) Nomor 14/2021 tentang perubahan atas Perwali Nomor 7/2019 tentang Penertiban Kegiatan pada Bulan Ramadan dan Idul Fitri, mereka yang buka pagi dibatasi sampai pukul 21.00.

Sedangkan dalam aturan itu, tertulis pelaku usaha yang buka pukul 18.00 bisa berjualan hingga pukul 00.00. “Harusnya bisa sampai sahur,” ucap Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Kediri Apip Permana ketika dikonfirmasi kemarin.

Baca Juga :  Hidup Tenteram, Tak Ada Lagi Konflik

Aturan tentang pembatasan kegiatan usaha mamin di rumah makan atau pun kafe itu tertuang pada pasal tambahan yang diterapkan pada 2021 lalu.  Tambahannya masuk di pasal 8A. Isinya, dalam kondisi bencana alam, bencana non alam, dan atau bencana sosial, ketentuan dalam pasal 8 dapat dikeculikan.

Sehingga setiap pengusaha dan masyarakat wajib memenuhi ketentuan pembatasan kegiatan masyarakat. Yang ditetapkan dalam bentuk peraturan perundang-undangan atau kebijakan pemerintah daerah lainnya.

    Kebijakan pembatasan pedagang pada malam hari itu membuat anak kos kesulitan mencari makan. Muksin, 32, warga asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang kos di Mojoroto mengaku, kewalahan menemukan warung makan saat puasa pertama kemarin. “Banyak warung makan yang tutup,” ucapnya.

Baca Juga :  Waspada Penipuan CPNS

Dia khawatir, jika dibatasi jam hingga pukul 00.00 tidak bisa membeli makan sahur. “Celaka kalau tutup sebelum sahur. Saya di kos tidak punya alat buat memasak,” ujarnya.

Muksin berharap, agar Pemkot Kediri memberi kelonggaran untuk warung makan agar anak kos seperti dirinya tidak kesulitan mencari makan sahur.

Adanya pembatasan waktu penjualan makanan di Kota Kediri itu bertujuan agar penyebaran kasus Covid-19 tidak mengalami kenaikan. Data yang dihimpun koran ini, jumlah kasus terkonfirmasi baru bertambah tiga pasien. Jumlah yang aktif Covid-19 kini menjadi 23 pasien. Kemarin, tidak ada pasien yang dinyatakan sembuh.(rq/ndr)

- Advertisement -

 KOTA, JP Radar Kediri- Pemkot Kediri tidak melarang pedagang makanan dan minum (mamin) beraktivitas di siang hari selama Ramadan. Hanya saja, mereka diminta menutup tempat jualan dengan tabir agar tidak terlalu mencolok dan mengganggu aktivitas orang yang sedang menjalankan puasa.

Para pengusaha mamin dibatasi waktu berjualannya. Sesuai dengan Peraturan Wali Kota (Perwali) Nomor 14/2021 tentang perubahan atas Perwali Nomor 7/2019 tentang Penertiban Kegiatan pada Bulan Ramadan dan Idul Fitri, mereka yang buka pagi dibatasi sampai pukul 21.00.

Sedangkan dalam aturan itu, tertulis pelaku usaha yang buka pukul 18.00 bisa berjualan hingga pukul 00.00. “Harusnya bisa sampai sahur,” ucap Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Kediri Apip Permana ketika dikonfirmasi kemarin.

Baca Juga :  Rekrutmen Tunggu Panselnas

Aturan tentang pembatasan kegiatan usaha mamin di rumah makan atau pun kafe itu tertuang pada pasal tambahan yang diterapkan pada 2021 lalu.  Tambahannya masuk di pasal 8A. Isinya, dalam kondisi bencana alam, bencana non alam, dan atau bencana sosial, ketentuan dalam pasal 8 dapat dikeculikan.

Sehingga setiap pengusaha dan masyarakat wajib memenuhi ketentuan pembatasan kegiatan masyarakat. Yang ditetapkan dalam bentuk peraturan perundang-undangan atau kebijakan pemerintah daerah lainnya.

    Kebijakan pembatasan pedagang pada malam hari itu membuat anak kos kesulitan mencari makan. Muksin, 32, warga asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang kos di Mojoroto mengaku, kewalahan menemukan warung makan saat puasa pertama kemarin. “Banyak warung makan yang tutup,” ucapnya.

Baca Juga :  Suhu Tubuh Tinggi Tempati Ruangan Khusus

Dia khawatir, jika dibatasi jam hingga pukul 00.00 tidak bisa membeli makan sahur. “Celaka kalau tutup sebelum sahur. Saya di kos tidak punya alat buat memasak,” ujarnya.

Muksin berharap, agar Pemkot Kediri memberi kelonggaran untuk warung makan agar anak kos seperti dirinya tidak kesulitan mencari makan sahur.

Adanya pembatasan waktu penjualan makanan di Kota Kediri itu bertujuan agar penyebaran kasus Covid-19 tidak mengalami kenaikan. Data yang dihimpun koran ini, jumlah kasus terkonfirmasi baru bertambah tiga pasien. Jumlah yang aktif Covid-19 kini menjadi 23 pasien. Kemarin, tidak ada pasien yang dinyatakan sembuh.(rq/ndr)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/