23.7 C
Kediri
Sunday, June 26, 2022

Elpiji Nonsubsidi Mahal, Masyarakat Rawan Pindah ke Elpiji Melon

KOTA, JP Radar Kediri-Kenaikan harga elpiji nonsubsidi atau elpiji bright gas sejak akhir Februari lalu mulai dikeluhkan penjual. Mereka mengklaim jumlah pembeli langsung susut. Kenaikan harga gas pink ini dikhawatirkan membuat masyarakat beralih ke elpiji melon yang harganya tak naik.

          Seperti diakui oleh Mei, 40. Penjual elpiji di Kelurahan Kampungdalem, Kota Kediri ini mengatakan, sejak harga elpiji bright gas naik, penjualan di tokonya langsung menurun. “Takut saja, pelanggan (konsumen elpiji nonsubsidi, Red) pindah ke elpiji melon,” katanya.

          Data yang dihimpun koran ini, harga elpiji bright gas memang naik relatif banyak. Misalnya untuk kemasan 5,5 kilogram yang semula Rp 76 ribu per tabung, kini menjadi Rp 88 ribu atau naik Rp 12 ribu. Selanjutnya, bright gas kemasan 12 kilogram yang semula Rp 163 ribu, kini menjadi Rp 187 ribu atau naik Rp 24 ribu.

          Adapun untuk elpiji melon tidak ada kenaikan. Tetap Rp 16 ribu per tabung di pangkalan. Adapun di tingkat pengecer paling mahal Rp 18 ribu per tabung. 

Baca Juga :  Andi Prayogi, Warga Puncu Lahirkan Hybrid dari Kipas Dewa dan Vinola

          Terpisah, Pjs Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga Sub Holding Pertamina and Trading Irto Ginting yang dikonfirmasi tentang kenaikan elpiji menegaskan, pertamina hanya menaikkan elpiji nonsubsidi. “Yang nonsubsidi 3 kilogram tidak naik,” tuturnya.

Kenaikan harga elpiji nonsubsidi, lanjut Irto, sekaligus menyesuaikan tren harga Contract Price Aramco (CPA) yang naik sampai 775 USD per Metrik Ton (MT) pada Februari lalu. Angka tersebut menurutnya lebih tinggi 21 persen dari rata-rata CPA sepanjang 2021 lalu.

Kondisi tersebut menurut Irto diperparah dengan memanasnya kondisi geopolitik di Eropa Timur antara Rusia dan Ukraina. Irto menegaskan, penyesuaian harga untuk elpiji nonsubsidi sudah mulai diberlakukan sejak akhir Februari lalu. Harga baru yang disesuaikan sekitar Rp 15 ribu per kilogram.

Penyesuaian harga menurut Irto juga sudah mempertimbangkan kondisi serta kemampuan pasar elpiji nonsubsidi. Dia pun mengklaim kenaikan harga tersebut masih kompetitif dibanding berbagai negara di ASEAN.

          Dia menambahkan, total konsumsi elpiji nonsubsidi lebih rendah dari gas elpiji 3 kilogram atau elpiji melon. Hingga Januari 2022 lalu, konsumsi elpiji nonsubsidi hanya 6,7 persen. Sedangkan untuk konsumsi elpiji subsidi melon 3 kilogram sebanyak 93 persen. “Harga elpiji subsidi sesuai dengan HET yang ditetapkan pemerintah daerah (pemprov, Red),” bebernya. 

Baca Juga :  Kisah Menarik di Era Kolonial dan Kemerdekaan (8/Habis)

Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, meski sudah ada kenaikan harga elpiji nonsubsidi, ada beberapa agen yang masih memasang banderol lama. Misalnya di PT Gasalindo Jaya di Jalan Sultan Agung 35 Kediri. Di sana,  daftar harga yang dipasang di banner-nya masih menggunakan harga Rp 163 ribu untuk bright gas 12 kilogram. Kemudian, bright gas 5,5 kilogram Rp 76 ribu.

Saat dikonfirmasi tentang harga yang belum berubah, salah seorang perempuan yang kemarin ada di ruangan kasir menolak memberikan komentar.  “Saya tidak perlu kasih keterangan, semua orang sudah tahu,” sahutnya dengan nada tinggi.

Terpisah, Himpunan Swasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Kediri juga belum mau memberikan keterangan. Saat dihubungi koran ini, mereka meminta koran ini untuk mengonfirmasi langsung ke Pertamina. (rq/ut)

- Advertisement -

KOTA, JP Radar Kediri-Kenaikan harga elpiji nonsubsidi atau elpiji bright gas sejak akhir Februari lalu mulai dikeluhkan penjual. Mereka mengklaim jumlah pembeli langsung susut. Kenaikan harga gas pink ini dikhawatirkan membuat masyarakat beralih ke elpiji melon yang harganya tak naik.

          Seperti diakui oleh Mei, 40. Penjual elpiji di Kelurahan Kampungdalem, Kota Kediri ini mengatakan, sejak harga elpiji bright gas naik, penjualan di tokonya langsung menurun. “Takut saja, pelanggan (konsumen elpiji nonsubsidi, Red) pindah ke elpiji melon,” katanya.

          Data yang dihimpun koran ini, harga elpiji bright gas memang naik relatif banyak. Misalnya untuk kemasan 5,5 kilogram yang semula Rp 76 ribu per tabung, kini menjadi Rp 88 ribu atau naik Rp 12 ribu. Selanjutnya, bright gas kemasan 12 kilogram yang semula Rp 163 ribu, kini menjadi Rp 187 ribu atau naik Rp 24 ribu.

          Adapun untuk elpiji melon tidak ada kenaikan. Tetap Rp 16 ribu per tabung di pangkalan. Adapun di tingkat pengecer paling mahal Rp 18 ribu per tabung. 

Baca Juga :  Andi Prayogi, Warga Puncu Lahirkan Hybrid dari Kipas Dewa dan Vinola

          Terpisah, Pjs Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga Sub Holding Pertamina and Trading Irto Ginting yang dikonfirmasi tentang kenaikan elpiji menegaskan, pertamina hanya menaikkan elpiji nonsubsidi. “Yang nonsubsidi 3 kilogram tidak naik,” tuturnya.

Kenaikan harga elpiji nonsubsidi, lanjut Irto, sekaligus menyesuaikan tren harga Contract Price Aramco (CPA) yang naik sampai 775 USD per Metrik Ton (MT) pada Februari lalu. Angka tersebut menurutnya lebih tinggi 21 persen dari rata-rata CPA sepanjang 2021 lalu.

Kondisi tersebut menurut Irto diperparah dengan memanasnya kondisi geopolitik di Eropa Timur antara Rusia dan Ukraina. Irto menegaskan, penyesuaian harga untuk elpiji nonsubsidi sudah mulai diberlakukan sejak akhir Februari lalu. Harga baru yang disesuaikan sekitar Rp 15 ribu per kilogram.

Penyesuaian harga menurut Irto juga sudah mempertimbangkan kondisi serta kemampuan pasar elpiji nonsubsidi. Dia pun mengklaim kenaikan harga tersebut masih kompetitif dibanding berbagai negara di ASEAN.

          Dia menambahkan, total konsumsi elpiji nonsubsidi lebih rendah dari gas elpiji 3 kilogram atau elpiji melon. Hingga Januari 2022 lalu, konsumsi elpiji nonsubsidi hanya 6,7 persen. Sedangkan untuk konsumsi elpiji subsidi melon 3 kilogram sebanyak 93 persen. “Harga elpiji subsidi sesuai dengan HET yang ditetapkan pemerintah daerah (pemprov, Red),” bebernya. 

Baca Juga :  Ditengarai Palsu, Uang Disiram dengan Bensin

Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, meski sudah ada kenaikan harga elpiji nonsubsidi, ada beberapa agen yang masih memasang banderol lama. Misalnya di PT Gasalindo Jaya di Jalan Sultan Agung 35 Kediri. Di sana,  daftar harga yang dipasang di banner-nya masih menggunakan harga Rp 163 ribu untuk bright gas 12 kilogram. Kemudian, bright gas 5,5 kilogram Rp 76 ribu.

Saat dikonfirmasi tentang harga yang belum berubah, salah seorang perempuan yang kemarin ada di ruangan kasir menolak memberikan komentar.  “Saya tidak perlu kasih keterangan, semua orang sudah tahu,” sahutnya dengan nada tinggi.

Terpisah, Himpunan Swasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Kediri juga belum mau memberikan keterangan. Saat dihubungi koran ini, mereka meminta koran ini untuk mengonfirmasi langsung ke Pertamina. (rq/ut)

Artikel Terkait

Most Read

Megengan Pandemi

Sembadra Karya


Artikel Terbaru

/