29.2 C
Kediri
Thursday, July 7, 2022

Warga Desa Gondanglegi Minta 1 Ru Tanah Rp 6 Juta

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Ganti rugi menjadi topik pembahasan warga di Kecamatan Prambon, Tanjunganom dan Sukomoro. Karena di tiga kecamatan itu, ada 17 desa yang tanah, sawah dan rumahnya dipasang patok Tol Kediri-Kertosono (Keker). Itu artinya, mereka harus merelakan aset yang dimiliki untuk pembangunan Tol Keker yang memiliki panjang 20,30 kilometer. “Kami tidak mau ganti rugi. Kami inginnya ganti untung,” ujar Suwito, 40, warga Desa Singkalanyar, Kecamatan Prambon.

Suwito mengatakan, masyarakat tidak mau dirugikan dengan adanya pembangunan Tol Keker. Karena jika ganti rugi yang diberikan lebih rendah dari harga tanah atau rumah di pasaran maka akan menyulitkan warga. “Jangan sampai kami jadi korban,” ujarnya.

Baca Juga :  Korona Tak Bertahan Lama di Tempat Kering

Suwito mengatakan, harga properti setiap tahun selalu mengalami kenaikan. Sehingga, tidak bisa jika uang ganti rugi rendah. “Harus bisa untuk mencari pengganti tanah atau rumah yang kena tol,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Gondanglegi Amad mengatakan, sudah melakukan koordinasi dengan 16 kepala desa yang dilewati Tol Keker. Mereka sepakat untuk meminta ganti rugi yang sesuai. “Tanah per meter persegi itu minimal Rp 500 ribu,” ujarnya.

Jika dihitung maka 1 Ru sama dengan 14 meter persegi maka harga tanah 1 Ru adalah Rp 6 juta. “Itu gambaran paling rendahnya. Semoga bisa lebih tinggi,” ujar Amad.

Namun begitu, Amad mengatakan, belum mengetahui berapa hitungan ganti rugi untuk tanah, sawah dan rumah yang kena Tol Keker. Karena sosialisasi belum dilakukan. Pihak desa hanya bisa menunggu. “Kami masih belum ada kepastian soal ganti rugi,” ujarnya.

Baca Juga :  Temukan Sumur Zaman Majapahit di Demangan

Sementara itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pengadaan Tanah Jalan Tol Keker Kartika Sari enggan menjawab tentang ganti rugi aset yang terkena Tol Keker. Karena untuk proses ganti rugi nanti, ada tim khusus yang melakukan perhitungan. “Nanti ada penilai publiknya sendiri,” ujarnya.

- Advertisement -

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Ganti rugi menjadi topik pembahasan warga di Kecamatan Prambon, Tanjunganom dan Sukomoro. Karena di tiga kecamatan itu, ada 17 desa yang tanah, sawah dan rumahnya dipasang patok Tol Kediri-Kertosono (Keker). Itu artinya, mereka harus merelakan aset yang dimiliki untuk pembangunan Tol Keker yang memiliki panjang 20,30 kilometer. “Kami tidak mau ganti rugi. Kami inginnya ganti untung,” ujar Suwito, 40, warga Desa Singkalanyar, Kecamatan Prambon.

Suwito mengatakan, masyarakat tidak mau dirugikan dengan adanya pembangunan Tol Keker. Karena jika ganti rugi yang diberikan lebih rendah dari harga tanah atau rumah di pasaran maka akan menyulitkan warga. “Jangan sampai kami jadi korban,” ujarnya.

Baca Juga :  Puluhan Hektare Padi Diserang Tikus

Suwito mengatakan, harga properti setiap tahun selalu mengalami kenaikan. Sehingga, tidak bisa jika uang ganti rugi rendah. “Harus bisa untuk mencari pengganti tanah atau rumah yang kena tol,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Gondanglegi Amad mengatakan, sudah melakukan koordinasi dengan 16 kepala desa yang dilewati Tol Keker. Mereka sepakat untuk meminta ganti rugi yang sesuai. “Tanah per meter persegi itu minimal Rp 500 ribu,” ujarnya.

Jika dihitung maka 1 Ru sama dengan 14 meter persegi maka harga tanah 1 Ru adalah Rp 6 juta. “Itu gambaran paling rendahnya. Semoga bisa lebih tinggi,” ujar Amad.

Namun begitu, Amad mengatakan, belum mengetahui berapa hitungan ganti rugi untuk tanah, sawah dan rumah yang kena Tol Keker. Karena sosialisasi belum dilakukan. Pihak desa hanya bisa menunggu. “Kami masih belum ada kepastian soal ganti rugi,” ujarnya.

Baca Juga :  Lishandoyo Resmi Gantikan Gus Wachid

Sementara itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pengadaan Tanah Jalan Tol Keker Kartika Sari enggan menjawab tentang ganti rugi aset yang terkena Tol Keker. Karena untuk proses ganti rugi nanti, ada tim khusus yang melakukan perhitungan. “Nanti ada penilai publiknya sendiri,” ujarnya.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/