23.8 C
Kediri
Saturday, June 25, 2022

UMK Nganjuk Kalah dengan Upah Pitil Brambang

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Upah Minimum Kabupaten (UMK) Nganjuk yang hanya Rp 1.970.006,41 dianggap masih terlalu kecil. Meski sudah naik Rp 15.300,66 tetapi serikat pekerja belum puas. “UMK Nganjuk itu masih terlalu rendah,” ujar  Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesi (KSBSI) Kabupaten Nganjuk Kelik Widi Wahyuono kemarin.

Menurut Kelik, dengan UMK di bawah Rp 2 juta, pekerja akan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi, saat ini pandemi Covid-19 belum berakhir. Sehingga, pekerja akan sulit mencari tambahan penghasilan dari membuka usaha setelah pulang dari tempatnya bekerja.

Ironisnya, jika dibandingkan dengan pekerjaan pipil brambang, UMK Nganjuk ini juga masih kalah. Karena upah pipil brambang yang hanya Rp 600 per kilogram, satu buruh bisa mendapatkan 2 kuintal dalam sehari bekerja. Sehingga, uang yang didapat bisa Rp 120 ribu per hari. Jika full bekerja dalam 30 hari, uang yang didapat Rp 3,6 juta. 

Baca Juga :  Lakukan Penyekatan Sejak Dini Hari

Meski demikian, Kelik mengaku tidak bisa berbuat banyak. Dia hanya bisa menyampaikan aspirasi pekerja ke dewan pengupahan sebelum UMK diputuskan oleh Gubernur Jawa Timur. “Kami sudah perjuangkan aspirasi teman-teman. Tetapi, hasilnya UMK sudah diputuskan itu,” ujarnya pasrah.

Kelik berharap, tidak ada perusahaan yang membayar upah karyawannya di bawah UMK. Karena angka itu sudah sangat rendah. “Itu upah sudah minimum,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Dinas Tenaga Kerja, Koperasi dan Usaha Mikro (Dinaskerkop UM) Supiyanto melalui Kabid Hubungan Industrial dan Perlindungan Tenaga Kerja Disnakerkop UM Nganjuk Suwanto mengatakan,  usulan kenaikan upah telah dihitung sesuai prosedur. Ada indikator baku yang ditetapkan pemerintah untuk penentuan upah itu sendiri. Karena itu, akhirnya UMK Nganjuk hanya naik Rp 15.300,66. “Kami ada di tengah-tengah pekerja dan pengusaha. Jadi, kami menyelaraskan keduanya agar bisa berjalan dengan beriringan,” ujarnya.

Baca Juga :  Proyek Tol Kertosono-Kediri Terancam Molor

Suwanto mengatakan, karena UMK 2022 telah ditetapkan. Semua perusahaan di Kota Angin harus patuh. Mereka wajib membayar upah karyawannya sesuai dengan UMK per 1 Januari 2022. “Tidak boleh ada yang membayar di bawah UMK,” tandasnya.

Untuk diketahui, UMK Nganjuk pada tahun depan ditetapkan menjadi sebesar Rp 1.970.006,41. UMK Kota Angin berada di urutan ke-27 dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. Bahkan, jika dibandingkan dengan UMK di Kota Kediri, Kabupaten Kediri dan Kabupaten Jombang, UMK Nganjuk ini berada di bawahnya.

- Advertisement -

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Upah Minimum Kabupaten (UMK) Nganjuk yang hanya Rp 1.970.006,41 dianggap masih terlalu kecil. Meski sudah naik Rp 15.300,66 tetapi serikat pekerja belum puas. “UMK Nganjuk itu masih terlalu rendah,” ujar  Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesi (KSBSI) Kabupaten Nganjuk Kelik Widi Wahyuono kemarin.

Menurut Kelik, dengan UMK di bawah Rp 2 juta, pekerja akan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi, saat ini pandemi Covid-19 belum berakhir. Sehingga, pekerja akan sulit mencari tambahan penghasilan dari membuka usaha setelah pulang dari tempatnya bekerja.

Ironisnya, jika dibandingkan dengan pekerjaan pipil brambang, UMK Nganjuk ini juga masih kalah. Karena upah pipil brambang yang hanya Rp 600 per kilogram, satu buruh bisa mendapatkan 2 kuintal dalam sehari bekerja. Sehingga, uang yang didapat bisa Rp 120 ribu per hari. Jika full bekerja dalam 30 hari, uang yang didapat Rp 3,6 juta. 

Baca Juga :  Tunda Pengurukan Lahan Terminal

Meski demikian, Kelik mengaku tidak bisa berbuat banyak. Dia hanya bisa menyampaikan aspirasi pekerja ke dewan pengupahan sebelum UMK diputuskan oleh Gubernur Jawa Timur. “Kami sudah perjuangkan aspirasi teman-teman. Tetapi, hasilnya UMK sudah diputuskan itu,” ujarnya pasrah.

Kelik berharap, tidak ada perusahaan yang membayar upah karyawannya di bawah UMK. Karena angka itu sudah sangat rendah. “Itu upah sudah minimum,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Dinas Tenaga Kerja, Koperasi dan Usaha Mikro (Dinaskerkop UM) Supiyanto melalui Kabid Hubungan Industrial dan Perlindungan Tenaga Kerja Disnakerkop UM Nganjuk Suwanto mengatakan,  usulan kenaikan upah telah dihitung sesuai prosedur. Ada indikator baku yang ditetapkan pemerintah untuk penentuan upah itu sendiri. Karena itu, akhirnya UMK Nganjuk hanya naik Rp 15.300,66. “Kami ada di tengah-tengah pekerja dan pengusaha. Jadi, kami menyelaraskan keduanya agar bisa berjalan dengan beriringan,” ujarnya.

Baca Juga :  Bayi Baru Lahir Tertular Covid-19

Suwanto mengatakan, karena UMK 2022 telah ditetapkan. Semua perusahaan di Kota Angin harus patuh. Mereka wajib membayar upah karyawannya sesuai dengan UMK per 1 Januari 2022. “Tidak boleh ada yang membayar di bawah UMK,” tandasnya.

Untuk diketahui, UMK Nganjuk pada tahun depan ditetapkan menjadi sebesar Rp 1.970.006,41. UMK Kota Angin berada di urutan ke-27 dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. Bahkan, jika dibandingkan dengan UMK di Kota Kediri, Kabupaten Kediri dan Kabupaten Jombang, UMK Nganjuk ini berada di bawahnya.

Artikel Terkait

Most Read

Megengan Pandemi

Sembadra Karya


Artikel Terbaru

/