23.3 C
Kediri
Tuesday, August 16, 2022

Haru Iringi Keberangkatan 450 Prajurit Yonif 521 ke Papua

- Advertisement -

KEDIRI KOTA– Suasana haru selimuti keberangkatan 450 personel prajurit Batalyon Infanteri (Yonif) Mekanis 521/Dadhaha Yodha kemarin siang. Ratusan prajurit tersebut terpaksa meninggalkan keluarganya cukup lama. Mereka akan bertugas menjaga perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini. Tepatnya di Kabupaten Merauke selama sembilan bulan.

Air mata pun tak terbendung saat prajurit hendak berangkat. Kesempatan terakhir bertemu keluarga dimanfaatkan sebaik mungkin. Mulai sekadar berbincang dengan sanak keluarga. Hingga saling memeluk satu sama lain.

“Perasaanya ya bangga namun juga sedih karena ditinggal suami. Tapi saya harus kuat, karena ini demi keamanan negara Indonesia,” ucap istri Frans Kumnaris, salah seorang prajurit.

Bagi para istri, keberangkatan suaminya memenuhi tugas negara jadi kebanggaan tersendiri. Meskipun demikian, rasa sedih saat ditinggal suami di pos perbatasan pun tak bisa disembunyikan.

“Hati-hati saat menjalankan tugas negara di sana. Semoga bisa kembali dengan selamat,” ucap istri prajurit Yonif 521 bernama Aryo Bagus Kumolo, sembari mengelapkan tisu ke sudut matanya yang berkaca-kaca.

Baca Juga :  Dua Karyawan Terpapar, Kantor Imigrasi Tutup Layanan
- Advertisement -

Sebelum berangkat, dilakukan penyerahan bendera perang dalam upacara pemberangkatan tugas di lapangan Yonif  521. Upacara itu dipimpin langsung oleh Komandan Brigif Mekanis 16/Wira Yudha Letkol Inf Slamet Riyadi. Dalam sambutanya komandan brigif menyampaikan bahwa penugasan ini merupakan kepercayaan negara kepada satuan dari Yonif Mekanis 521 ini.

“Kepercayaan yang telah kalian terima ini setidaknya dapat dijadikan motivasi dalam menumbuhkan semangat untuk keberhasilan tugas di daerah operasi,” tegas Letkol Inf Slamet Riyadi.

Menurutnya, daerah penugasan yang akan ditempati nanti saat ini cukup kondusif. Namun ia tidak mau kondisi itu menjadikan prajurit luntur dalam kesiap-siagaan. Justru hendaknya dengan situasi seperti ini menjadikan prajurit lebih waspada lagi.

Riyadi menegaskan, pengacau keamanan dalam melakukan aksinya selalu mengamati dan mengawasi aparat keamanan yang ada. “Oleh karena itu saya tidak mau para anggota lengah dan terlena hingga menimbulkan hal yang tidak diinginkan terjadi di daerah operasi,” tambahnya.

Baca Juga :  Bledug Kelud Bermain 10 Orang, Diwarnai Aksi Walk Out

Masih menurut Riyadi, ancaman di daerah perbatasan tidak sebatas kriminal bersenjata maupun teroris saja. Namun ancaman lainya bisa berupa human trafficking atau penjualan manusia antarnegara. Untuk itu ia memerintahkan pada semua prajurit agar selalu mewaspadai hal-hal tersebut.

“Jangan sekali-kali mengabaikan tindakan ilegal itu,” sahutnya.

Terakhir ia berpesan agar prajurit bisa langsung beradaptasi dengan daerah pos penjagaan yang telah ditentukan. Mengamati adat istiadat masyarakat di sana. Sekaligus bisa merebut hati dan simpati masyarakat agar terjadi kemanunggalan antara TNI dan masyarakat.

“Jangan mudah terpancing dalam segala bentuk provokasi dan jaga citra serta menjunjung nama baik bangsa dan TNI,” tegasnya.

Kemarin siang, kumandang azan mengawali keberangkatan 450 prajurit yang akan berlayar melalui Pelabuhan Ujung, Surabaya tersebut. Mereka dipastikan berlayar menggunakan Kapal Republik Indonesia (KRI) Banda Aceh. Kemungkinan memakan waktu selama 18 hari untuk sampai Papua. Dijadwalkan ratusan prajurit ini akan kembali ke Kediri lagi pada Agustus 2019.

- Advertisement -

KEDIRI KOTA– Suasana haru selimuti keberangkatan 450 personel prajurit Batalyon Infanteri (Yonif) Mekanis 521/Dadhaha Yodha kemarin siang. Ratusan prajurit tersebut terpaksa meninggalkan keluarganya cukup lama. Mereka akan bertugas menjaga perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini. Tepatnya di Kabupaten Merauke selama sembilan bulan.

Air mata pun tak terbendung saat prajurit hendak berangkat. Kesempatan terakhir bertemu keluarga dimanfaatkan sebaik mungkin. Mulai sekadar berbincang dengan sanak keluarga. Hingga saling memeluk satu sama lain.

“Perasaanya ya bangga namun juga sedih karena ditinggal suami. Tapi saya harus kuat, karena ini demi keamanan negara Indonesia,” ucap istri Frans Kumnaris, salah seorang prajurit.

Bagi para istri, keberangkatan suaminya memenuhi tugas negara jadi kebanggaan tersendiri. Meskipun demikian, rasa sedih saat ditinggal suami di pos perbatasan pun tak bisa disembunyikan.

“Hati-hati saat menjalankan tugas negara di sana. Semoga bisa kembali dengan selamat,” ucap istri prajurit Yonif 521 bernama Aryo Bagus Kumolo, sembari mengelapkan tisu ke sudut matanya yang berkaca-kaca.

Baca Juga :  Mengatasi Gigitan Ular Berbisa

Sebelum berangkat, dilakukan penyerahan bendera perang dalam upacara pemberangkatan tugas di lapangan Yonif  521. Upacara itu dipimpin langsung oleh Komandan Brigif Mekanis 16/Wira Yudha Letkol Inf Slamet Riyadi. Dalam sambutanya komandan brigif menyampaikan bahwa penugasan ini merupakan kepercayaan negara kepada satuan dari Yonif Mekanis 521 ini.

“Kepercayaan yang telah kalian terima ini setidaknya dapat dijadikan motivasi dalam menumbuhkan semangat untuk keberhasilan tugas di daerah operasi,” tegas Letkol Inf Slamet Riyadi.

Menurutnya, daerah penugasan yang akan ditempati nanti saat ini cukup kondusif. Namun ia tidak mau kondisi itu menjadikan prajurit luntur dalam kesiap-siagaan. Justru hendaknya dengan situasi seperti ini menjadikan prajurit lebih waspada lagi.

Riyadi menegaskan, pengacau keamanan dalam melakukan aksinya selalu mengamati dan mengawasi aparat keamanan yang ada. “Oleh karena itu saya tidak mau para anggota lengah dan terlena hingga menimbulkan hal yang tidak diinginkan terjadi di daerah operasi,” tambahnya.

Baca Juga :  Beras Aman hingga 8 Bulan, Bulog Ingatkan Warga Tak Panik

Masih menurut Riyadi, ancaman di daerah perbatasan tidak sebatas kriminal bersenjata maupun teroris saja. Namun ancaman lainya bisa berupa human trafficking atau penjualan manusia antarnegara. Untuk itu ia memerintahkan pada semua prajurit agar selalu mewaspadai hal-hal tersebut.

“Jangan sekali-kali mengabaikan tindakan ilegal itu,” sahutnya.

Terakhir ia berpesan agar prajurit bisa langsung beradaptasi dengan daerah pos penjagaan yang telah ditentukan. Mengamati adat istiadat masyarakat di sana. Sekaligus bisa merebut hati dan simpati masyarakat agar terjadi kemanunggalan antara TNI dan masyarakat.

“Jangan mudah terpancing dalam segala bentuk provokasi dan jaga citra serta menjunjung nama baik bangsa dan TNI,” tegasnya.

Kemarin siang, kumandang azan mengawali keberangkatan 450 prajurit yang akan berlayar melalui Pelabuhan Ujung, Surabaya tersebut. Mereka dipastikan berlayar menggunakan Kapal Republik Indonesia (KRI) Banda Aceh. Kemungkinan memakan waktu selama 18 hari untuk sampai Papua. Dijadwalkan ratusan prajurit ini akan kembali ke Kediri lagi pada Agustus 2019.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/