23.7 C
Kediri
Sunday, June 26, 2022

Material Longsor Tutup Akses Menuju Wisata Sedudo

NGANJUK, JP Radar Nganjuk – Hujan deras yang mengguyur Nganjuk Kamis (1/4) malam lalu membuat tebing setinggi 20 meter dan lebar empat meter di Desa Ngliman, Sawahan Longsor. Material menutupi akses menuju kawasan wisata Sedudo. Akibatnya, warga yang tinggal di sana terisolasi lebih dari 10 jam.

Danramil Sawahan Kapten Arh Yono Priyo mengungkapkan, sejak bencana longsor terjadi sekitar pukul 19.00 Kamis (1/4) malam lalu, warga Dusun Nolehan, Desa Ngliman, terisolasi. “Pukul 06.30 tadi (kemarin, Red) sudah bisa lewat tetapi hanya jalan kaki,” ujar perwira dengan pangkat tiga balok di pundak ini.  

Lebih jauh Yono menjelaskan, warga yang diperbolehkan melintas adalah mereka yang memiliki kepentingan mendesak. Misalnya, dengan alasan sakit atau bekerja. Selebihnya, mereka belum boleh melintas karena kondisi yang belum memungkinkan.

Baca Juga :  Dana BOS: Pencairan Triwulan Keempat Diprediksi Akhir Tahun Ini

Pantauan koran ini, hingga pukul 08.00 kemarin puluhan warga bersama relawan, TNI, dan polisi bergotong royong membersihkan tumpukan lumpur dan bebatuan yang menutup jalan. “Pembersihan dimulai sekitar pukul 05.30 tadi (kemarin, Red),” lanjut Yono.

Selain membersihkan material menggunakan cangkul, sebagian menyemprot lumpur yang menumpuk di jalan. Keberadaan bongkahan batu besar setinggi sekitar 90 sentimeter yang jatuh dari tebing menjadi kesulitan tersendiri. Sebab, tidak bisa dipindahkan menggunakan tenaga manusia.

Dengan kendala tersebut, tim gabungan memutuskan untuk membersihkan material lumpur dan tanah lebih dulu. Adapun pemindahan batu-batu besar menunggu kedatangan alat berat.

Terpisah, Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nganjuk Nugroho menuturkan, pembersihan rencananya dilakukan Kamis malam lalu. Tetapi, melihat kondisi lokasi bencana yang masih labil, mereka menundanya. “Sempat dibersihkan Kamis malam tapi dihentikan setelah terdengar suara gerakan tanah dan batuan yang jatuh ke jalan raya,” beber Nugroho.

Baca Juga :  Sembilan Bulan Event Organizer dan Pengusaha Hiburan Terpukul Korona

Untuk diketahui, selain di Desa Ngliman, bencana tanah longsor juga terjadi di Desa Bareng, Sawahan. Meski demikian, hingga kemarin masih belum terdeteksi apakah materialnya menutup jalan atau persawahan.

Terkait bencana longsor yang terjadi di musim pancaroba, Nugroho menyebut hal itu karena Sawahan dilanda hujan deras selama empat hari terakhir. Akibatnya, tanah menjadi gembur dan terjadi longsor.

Seperti diberitakan, pada Kamis (1/4) malam, Kabupaten Nganjuk juga diguyur hujan deras. Sejumlah lokasi terkena luapan air bah. Mulai dari Desa Banaran, Batembat, Kecamatan Pace; Kelurahan Ploso, Kecamatan Nganjuk; dan Desa Tanjungrejo, Loceret. Banjir mulai terlihat sejak sekitar pukul 19.00 setelah wilayah atas lereng Wilis diguyur hujan sejak pukul 16.00.

- Advertisement -

NGANJUK, JP Radar Nganjuk – Hujan deras yang mengguyur Nganjuk Kamis (1/4) malam lalu membuat tebing setinggi 20 meter dan lebar empat meter di Desa Ngliman, Sawahan Longsor. Material menutupi akses menuju kawasan wisata Sedudo. Akibatnya, warga yang tinggal di sana terisolasi lebih dari 10 jam.

Danramil Sawahan Kapten Arh Yono Priyo mengungkapkan, sejak bencana longsor terjadi sekitar pukul 19.00 Kamis (1/4) malam lalu, warga Dusun Nolehan, Desa Ngliman, terisolasi. “Pukul 06.30 tadi (kemarin, Red) sudah bisa lewat tetapi hanya jalan kaki,” ujar perwira dengan pangkat tiga balok di pundak ini.  

Lebih jauh Yono menjelaskan, warga yang diperbolehkan melintas adalah mereka yang memiliki kepentingan mendesak. Misalnya, dengan alasan sakit atau bekerja. Selebihnya, mereka belum boleh melintas karena kondisi yang belum memungkinkan.

Baca Juga :  Hari Pertama, Ribuan Siswa Berebut Pagu

Pantauan koran ini, hingga pukul 08.00 kemarin puluhan warga bersama relawan, TNI, dan polisi bergotong royong membersihkan tumpukan lumpur dan bebatuan yang menutup jalan. “Pembersihan dimulai sekitar pukul 05.30 tadi (kemarin, Red),” lanjut Yono.

Selain membersihkan material menggunakan cangkul, sebagian menyemprot lumpur yang menumpuk di jalan. Keberadaan bongkahan batu besar setinggi sekitar 90 sentimeter yang jatuh dari tebing menjadi kesulitan tersendiri. Sebab, tidak bisa dipindahkan menggunakan tenaga manusia.

Dengan kendala tersebut, tim gabungan memutuskan untuk membersihkan material lumpur dan tanah lebih dulu. Adapun pemindahan batu-batu besar menunggu kedatangan alat berat.

Terpisah, Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nganjuk Nugroho menuturkan, pembersihan rencananya dilakukan Kamis malam lalu. Tetapi, melihat kondisi lokasi bencana yang masih labil, mereka menundanya. “Sempat dibersihkan Kamis malam tapi dihentikan setelah terdengar suara gerakan tanah dan batuan yang jatuh ke jalan raya,” beber Nugroho.

Baca Juga :  Cegah Banjir, Pasang Ratusan Deck Drain

Untuk diketahui, selain di Desa Ngliman, bencana tanah longsor juga terjadi di Desa Bareng, Sawahan. Meski demikian, hingga kemarin masih belum terdeteksi apakah materialnya menutup jalan atau persawahan.

Terkait bencana longsor yang terjadi di musim pancaroba, Nugroho menyebut hal itu karena Sawahan dilanda hujan deras selama empat hari terakhir. Akibatnya, tanah menjadi gembur dan terjadi longsor.

Seperti diberitakan, pada Kamis (1/4) malam, Kabupaten Nganjuk juga diguyur hujan deras. Sejumlah lokasi terkena luapan air bah. Mulai dari Desa Banaran, Batembat, Kecamatan Pace; Kelurahan Ploso, Kecamatan Nganjuk; dan Desa Tanjungrejo, Loceret. Banjir mulai terlihat sejak sekitar pukul 19.00 setelah wilayah atas lereng Wilis diguyur hujan sejak pukul 16.00.

Artikel Terkait

Most Read

Megengan Pandemi

Sembadra Karya


Artikel Terbaru

/