23.7 C
Kediri
Sunday, June 26, 2022

Hari Ini RSUD Harus Setor Data Nakes Penerima Insentif

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Besarnya insentif Covid-19 yang akan diterima untuk tenaga kesehatan (nakes) di Kabupaten ­Nganjuk sebanding dengan risiko yang dihadapi. Insentif Rp 15 juta/bulan untuk dokter spesialis, Rp 10 juta/bulan untuk dokter umum, Rp 7,5 juta/bulan untuk perawat dan bidan serta Rp 5 juta/bulan untuk nakes yang lain tersebut akan dicairkan untuk bulan September-Desember 2020. Artinya, nominal di atas akan dikalikan empat. Jadi dokter spesialis bisa mendapatkan Rp 60 juta. Kemudian, nakes lain yang paling sedikit bisa mengantongi Rp 20 juta. ”Besok (hari ini, Red) data nakes penerima insentif Covid-19 harus segera dikirimkan RSUD dan dinkes agar segera dicairkan,” ujar Plt Kepal Dinkes Kabupaten Nganjuk Heni Rochtanti kemarin.

Menurut Heni, Covid-19 tidak  hanya menyerang masyarakat. Namun, tenaga kesehatan juga banyak yang terpapar virus korona saat menangani pasien Covid-19. ”Ada ratusan nakes yang terpapar virus korona sejak pandemi Covid-19 hingga sekarang,” ujarnya.

Bahkan, dari ratusan nakes yang kena Covid-19, banyak yang meninggal dunia. ”Tiga dokter juga meninggal dunia karena Covid-19,” tandasnya.

Baca Juga :  Bus dan Truk Tak Boleh Masuk Kota Nganjuk

Dokter pertama yang meninggal dunia karena keganasan Covid-19 adalah dr Evet Tinus. Pria yang akrab disapa dr Tinus tersebut mengembuskan napas terakhir pada 27 Desember 2020. Dokter yang memiliki klinik di Jl Sersan Harun Kota Nganjuk itu sempat mendapat perawatan intensif sejak 15 Desember 2020 di RS Bhayangkara. Keluhan yang dirasakannya kala itu hanya sedikit sesak napas. Namun, Sabtu sore (26/12), kondisinya drop. Hingga dia akhirnya meninggal pada 27 Desember 2020 sekitar pukul 02.30. “Beliau menjadi dokter pertama yang meninggal karena Covid-19 di Nganjuk,” imbuh Heni.

Selanjutnya, dokter kedua yang dinyatakan meninggal karena Covid-19 di Kota Angin adalah dr Didik Jama’adi. Dokter yang memiliki Klinik Rawat Inap Sahabat Keluarga di Kecamatan Bagor tersebut meninggal dunia pada 19 Januari 2021. Ia meninggal dunia saat dirawat di RSUD Kabupaten Kediri.

“Beliau juga aktif sebagai Kepala UTD PMI Kabupaten Nganjuk,” terang perempuan berhijab ini.

Terbaru, kasus dokter meninggal dunia akibat keganasan Covid-19 di Nganjuk terjadi pada awal bulan Juli 2021. Korbannya adalah dr Ilham Pramudani. Pria yang menjabat Kepala Puskesmas Nganjuk ini meninggal dunia pada Selasa (6/7) sekitar pukul 15.00. “Beliau sempat dirawat di RS Unair Surabaya,” ungkap Heni.

Baca Juga :  Pemkot Kediri Tertibkan Aset Kios

Untuk nakes yang meninggal dunia tetapi insentif Covid-19 belum diterima tetap akan diberikan. Penerimanya adalah ahli warisnya. ”Itu hak mereka. Jadi tetap kami bayarkan jika dana insentif Covid-19 sudah cair,” ujar pengganti dr Hendriyanto ini.

Selain menerima hak insentif Covid-19 yang belum dibayarkan, nakes yang meninggal dunia mendapatkan santunan dari pemerintah pusat. Nilainya sekitar Rp 300 juta. Uang santunan tersebut diberikan kepada ahli waris dari alokasi dana dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

Perempuan berkacamata ini berharap, pencairan insentif Covid-19 segera dilakukan. Karena dananya sudah siap.

Sementara itu, Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Nganjuk Kartimah mengatakan, dana untuk membayar insentif Covid-19 selama empat bulan di tahun 2020 sudah dianggarkan sekitar Rp 9 miliar. ”Itu dana dari Belanja Tidak Terduga (BTT) APBD Kabupaten Nganjuk,” pungkasnya.

- Advertisement -

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Besarnya insentif Covid-19 yang akan diterima untuk tenaga kesehatan (nakes) di Kabupaten ­Nganjuk sebanding dengan risiko yang dihadapi. Insentif Rp 15 juta/bulan untuk dokter spesialis, Rp 10 juta/bulan untuk dokter umum, Rp 7,5 juta/bulan untuk perawat dan bidan serta Rp 5 juta/bulan untuk nakes yang lain tersebut akan dicairkan untuk bulan September-Desember 2020. Artinya, nominal di atas akan dikalikan empat. Jadi dokter spesialis bisa mendapatkan Rp 60 juta. Kemudian, nakes lain yang paling sedikit bisa mengantongi Rp 20 juta. ”Besok (hari ini, Red) data nakes penerima insentif Covid-19 harus segera dikirimkan RSUD dan dinkes agar segera dicairkan,” ujar Plt Kepal Dinkes Kabupaten Nganjuk Heni Rochtanti kemarin.

Menurut Heni, Covid-19 tidak  hanya menyerang masyarakat. Namun, tenaga kesehatan juga banyak yang terpapar virus korona saat menangani pasien Covid-19. ”Ada ratusan nakes yang terpapar virus korona sejak pandemi Covid-19 hingga sekarang,” ujarnya.

Bahkan, dari ratusan nakes yang kena Covid-19, banyak yang meninggal dunia. ”Tiga dokter juga meninggal dunia karena Covid-19,” tandasnya.

Baca Juga :  Produksi Tebu Ditarget BertambahTujuh Persen

Dokter pertama yang meninggal dunia karena keganasan Covid-19 adalah dr Evet Tinus. Pria yang akrab disapa dr Tinus tersebut mengembuskan napas terakhir pada 27 Desember 2020. Dokter yang memiliki klinik di Jl Sersan Harun Kota Nganjuk itu sempat mendapat perawatan intensif sejak 15 Desember 2020 di RS Bhayangkara. Keluhan yang dirasakannya kala itu hanya sedikit sesak napas. Namun, Sabtu sore (26/12), kondisinya drop. Hingga dia akhirnya meninggal pada 27 Desember 2020 sekitar pukul 02.30. “Beliau menjadi dokter pertama yang meninggal karena Covid-19 di Nganjuk,” imbuh Heni.

Selanjutnya, dokter kedua yang dinyatakan meninggal karena Covid-19 di Kota Angin adalah dr Didik Jama’adi. Dokter yang memiliki Klinik Rawat Inap Sahabat Keluarga di Kecamatan Bagor tersebut meninggal dunia pada 19 Januari 2021. Ia meninggal dunia saat dirawat di RSUD Kabupaten Kediri.

“Beliau juga aktif sebagai Kepala UTD PMI Kabupaten Nganjuk,” terang perempuan berhijab ini.

Terbaru, kasus dokter meninggal dunia akibat keganasan Covid-19 di Nganjuk terjadi pada awal bulan Juli 2021. Korbannya adalah dr Ilham Pramudani. Pria yang menjabat Kepala Puskesmas Nganjuk ini meninggal dunia pada Selasa (6/7) sekitar pukul 15.00. “Beliau sempat dirawat di RS Unair Surabaya,” ungkap Heni.

Baca Juga :  PAN Ungkap Sinyal Jalin Komunikasi dengan Gerindra

Untuk nakes yang meninggal dunia tetapi insentif Covid-19 belum diterima tetap akan diberikan. Penerimanya adalah ahli warisnya. ”Itu hak mereka. Jadi tetap kami bayarkan jika dana insentif Covid-19 sudah cair,” ujar pengganti dr Hendriyanto ini.

Selain menerima hak insentif Covid-19 yang belum dibayarkan, nakes yang meninggal dunia mendapatkan santunan dari pemerintah pusat. Nilainya sekitar Rp 300 juta. Uang santunan tersebut diberikan kepada ahli waris dari alokasi dana dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

Perempuan berkacamata ini berharap, pencairan insentif Covid-19 segera dilakukan. Karena dananya sudah siap.

Sementara itu, Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Nganjuk Kartimah mengatakan, dana untuk membayar insentif Covid-19 selama empat bulan di tahun 2020 sudah dianggarkan sekitar Rp 9 miliar. ”Itu dana dari Belanja Tidak Terduga (BTT) APBD Kabupaten Nganjuk,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Megengan Pandemi

Sembadra Karya


Artikel Terbaru

/