26.1 C
Kediri
Sunday, June 26, 2022

Pedagang Beras di Kediri Sepi Pembeli  

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Penjualan beras selama pandemi Covid-19 mengalami penurunan pembeli. Akibatnya, pedagang enggan untuk menambah stok beras meski selama ramadan dan lebaran.

Menurut salah satu pedagang beras di Pasar Pamenang Pare Siti Salamah, 49 penjualan beras sudah lama turun drastis, sehingga ada tumpukan beras yang belum terjual di lapaknya. “Semenjak ada korona dagangan saya yang beli berkurang banyak,” ungkapnya, Minggu (31/5).

Selain itu, diungkapkan kalau beberapa pelanggannya yang terdiri dari penjual warung makan. Sebagian besar berasal dari Kampung Inggris Pare. Kini warung tersebut sudah banyak yang tutup akibat segala kegiatan aktivitas di desa tersebut mulai ditiadakan, termasuk aktivitas para pelajar di Kampung Inggris.

Jika dalam sehari perempuan yang berasal dari Desa Canggu, Kecamatan Badas tersebut, biasanya mampu menjual beras sebanyak 5 kwintal. Namun kali ini, penjualan sangat sepi, bahkan dalam sehari kadang tidak ada pembeli atau laku sekitar 1 hingga 5 kilogram (kg) saja. “Biasanya warung beli sebanyak 25 sampai 50 kilogram, sekarang malah kadang ndak ada yang beli,” imbuhnya. Terlihat di lapaknya, ada beberapa tumpukan karung beras yang belum laku jual.

Baca Juga :  Ketahanan Pangan dan Bertani di Pekarangan

Untuk harganya, Siti menjual beras dengan berbagai jenis. Beras jenis 64 kualitas sedang, ia jual dengan harga Rp 9 ribu per kilogram, sedangkan untuk beras 64 kualitas super dibanderol harga Rp 9500 per kilogram. Tidak hanya itu, ia juga menjual beras jenis bramo seharga Rp 10 ribu per kilogram.

Sementara itu, pedagang beras lainnya juga mengungkapkan hal serupa, jika penjualannya terhitung sepi pembeli. “Karena masyarakat banyak yang dapat sembako akibat korona ini, dagangan saya kan juga sepi, orang-orang sudah ada stok,” aku Binti Maisa, 45, warga yag berasal dari Desa/Kecamatan Badas. Dia juga menambahkan, jika hari ini baru laku terjual 50 kg beras, menurutnya penjualan ini tidak seperti biasanya yang bisa lebih banyak. “Kemarin malah nggak ada yang beli sama sekali,” imbuhnya.

Turunnya harga juga terjadi pada harga gula. Menurut Sumarni, 46, salah satu pedagang di Pasar Setonobetek bahwa harga gula mengalami penurunan, namun tidak begitu signifikan.

Baca Juga :  Hanura Resmi Usung Suryo Alam

Sebelum lebaran, harga gula di kisaran Rp 18 ribu. Saat ini, harganya Rp 14 ribu. “Biasanya gula naik ketika lebaran Mas. Namun kali ini malah terjadi penurunan, tapi alhamdulillah pembeli masih ada,” ucap Sumarni yang memakai baju biru.

Perempuan yang berjualan di Pasar Setonobetek sejak empat tahun yang lalu itu mengaku bila dari harga yang dipasarkan sudah dari distributornya. Sehingga dia tidak berani memasang harga lebih tinggi lagi.

Hal serupa juga dirasakan Ragib, 26, penjual gula di tempat yang sama. Dia mengungkapkan dari tiga hari yang lalu gula yang dijualnya mengalami penurunan. “Seminggu yang lalu, harga gula masih tinggi. Masih berkisar Rp 17 ribu sampai Rp 18 ribu,” terangnya.

Ragib menceritakan bila penurunan harga gula juga disebabkan badan urusan logistik (Bulog) memasang harga yang hampir sama. Dia juga menceritakan tidak stabilnya harga gula juga karena pedagang yang menjual tidak cocok dengan beratnya.

 

- Advertisement -

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Penjualan beras selama pandemi Covid-19 mengalami penurunan pembeli. Akibatnya, pedagang enggan untuk menambah stok beras meski selama ramadan dan lebaran.

Menurut salah satu pedagang beras di Pasar Pamenang Pare Siti Salamah, 49 penjualan beras sudah lama turun drastis, sehingga ada tumpukan beras yang belum terjual di lapaknya. “Semenjak ada korona dagangan saya yang beli berkurang banyak,” ungkapnya, Minggu (31/5).

Selain itu, diungkapkan kalau beberapa pelanggannya yang terdiri dari penjual warung makan. Sebagian besar berasal dari Kampung Inggris Pare. Kini warung tersebut sudah banyak yang tutup akibat segala kegiatan aktivitas di desa tersebut mulai ditiadakan, termasuk aktivitas para pelajar di Kampung Inggris.

Jika dalam sehari perempuan yang berasal dari Desa Canggu, Kecamatan Badas tersebut, biasanya mampu menjual beras sebanyak 5 kwintal. Namun kali ini, penjualan sangat sepi, bahkan dalam sehari kadang tidak ada pembeli atau laku sekitar 1 hingga 5 kilogram (kg) saja. “Biasanya warung beli sebanyak 25 sampai 50 kilogram, sekarang malah kadang ndak ada yang beli,” imbuhnya. Terlihat di lapaknya, ada beberapa tumpukan karung beras yang belum laku jual.

Baca Juga :  DD Belum Kunjung Cair Hingga Akhir Maret

Untuk harganya, Siti menjual beras dengan berbagai jenis. Beras jenis 64 kualitas sedang, ia jual dengan harga Rp 9 ribu per kilogram, sedangkan untuk beras 64 kualitas super dibanderol harga Rp 9500 per kilogram. Tidak hanya itu, ia juga menjual beras jenis bramo seharga Rp 10 ribu per kilogram.

Sementara itu, pedagang beras lainnya juga mengungkapkan hal serupa, jika penjualannya terhitung sepi pembeli. “Karena masyarakat banyak yang dapat sembako akibat korona ini, dagangan saya kan juga sepi, orang-orang sudah ada stok,” aku Binti Maisa, 45, warga yag berasal dari Desa/Kecamatan Badas. Dia juga menambahkan, jika hari ini baru laku terjual 50 kg beras, menurutnya penjualan ini tidak seperti biasanya yang bisa lebih banyak. “Kemarin malah nggak ada yang beli sama sekali,” imbuhnya.

Turunnya harga juga terjadi pada harga gula. Menurut Sumarni, 46, salah satu pedagang di Pasar Setonobetek bahwa harga gula mengalami penurunan, namun tidak begitu signifikan.

Baca Juga :  Pupuk Soliditas, Demokrat Gelar Konsolidasi

Sebelum lebaran, harga gula di kisaran Rp 18 ribu. Saat ini, harganya Rp 14 ribu. “Biasanya gula naik ketika lebaran Mas. Namun kali ini malah terjadi penurunan, tapi alhamdulillah pembeli masih ada,” ucap Sumarni yang memakai baju biru.

Perempuan yang berjualan di Pasar Setonobetek sejak empat tahun yang lalu itu mengaku bila dari harga yang dipasarkan sudah dari distributornya. Sehingga dia tidak berani memasang harga lebih tinggi lagi.

Hal serupa juga dirasakan Ragib, 26, penjual gula di tempat yang sama. Dia mengungkapkan dari tiga hari yang lalu gula yang dijualnya mengalami penurunan. “Seminggu yang lalu, harga gula masih tinggi. Masih berkisar Rp 17 ribu sampai Rp 18 ribu,” terangnya.

Ragib menceritakan bila penurunan harga gula juga disebabkan badan urusan logistik (Bulog) memasang harga yang hampir sama. Dia juga menceritakan tidak stabilnya harga gula juga karena pedagang yang menjual tidak cocok dengan beratnya.

 

Artikel Terkait

Most Read

Megengan Pandemi

Sembadra Karya


Artikel Terbaru

/