26.6 C
Kediri
Saturday, August 13, 2022

Pandemi Covid, Laju Tuberkulosis Tertahan

- Advertisement -

Pandemi Covid-19 sejak Maret lalu membuat tenaga kesehatan (nakes) pasif melakukan penelusuran kasus tuberkulosis (TBC). Akibatnya, tahun ini TBC di Nganjuk turun ratusan kasus.

Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Nganjuk menyebutkan, tahun lalu total ada 1.068 kasus TBC yang ditemukan di Kota Angin. Adapun tahun 2020 hanya ditemukan 592 kasus hingga Desember. “Tahun ini angka TBC menurun,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Nganjuk dr Achmad Noeroel Cholis melalui Wakil Supervisor (Wasor) TBC Agnes Anita Rahmawati.

Ratusan kasus TBC yang ditemukan tahun 2020, jelas Anita, terdiri dari beberapa kategori. Yakni, 576 pasien baru, sembilan pasien kambuh, dua pasien riwayat lain, dan lima pasien tak diketahui riwayatnya.

Terkait sembilan pasien yang tahun 2020 lalu kambuh, menurut Anita dipicu oleh banyak faktor. Mulai tidak mengonsumsi obat, tertular kembali, lingkungan kurang higienis, hingga pengobatan yang tidak sesuai standar.

Baca Juga :  Dua Pemuda Gondang Nganjuk Curi Porang di Rejoso

Anita mengakui, penurunan kasus TBC 2020 lalu disebabkan wabah korona yang terjadi sejak Maret. Pandemi Covid-19 membuat tenaga kesehatan tidak bisa melakukan penelusuran secara maksimal. Akibatnya, mayoritas nakes pasif dalam penemuan TBC. “Penemuan kasus (TBC, Red) hanya dari keluhan pasien,” terangnya sembari menyebut tahun ini kegiatan dialihkan untuk penanganan korona.

- Advertisement -

Lebih jauh Anita menjelaskan, sebanyak 20 puskesmas di Kota Angin juga belum memiliki kader secara merata. Sehingga, penelurusan belum bisa berjalan maksimal.

Bagaimana penanganan TBC selama pandemi? perempuan berjilbab itu menjelaskan, dinkes melakukan beberapa penyesuaian. Misalnya, kontrol pasien yang biasanya dilakukan seminggu sekali jadi dua minggu sekali. “Kalau pelayanan tetap sesuai standar,” beber Anita sembari menyebut selama pandemi pihaknya belum menemukan pasien positif Covid-19 dengan komorbid atau penyakit penyerta TB.

Baca Juga :  Empat Siswa Absen UNBK Hari Pertama

Melihat tren pandemi Covid-19 yang belum akan berakhir tahun depan, Anita menjelaskan, dinkes akan membentuk kader TB di puskesmas yang belum memiliki kader. Dengan cara demikian, penanganan TB di tiap kecamatan bisa lebih optimal.

Selebihnya, dinkes juga akan memperluas pelayanan TB di klinik dan RS swasta. Dengan cara demikian, para pasien yang berobat di klinik dan RS swasta tetap mendapatkan obat gratis dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Untuk diketahui, kasus TBC tersebar merata di 20 kecamatan di Nganjuk. Tiga kecamatan didapati kasus TB diatas 30 orang sekaligus menjadi tiga tertinggi. Mulai Kecamatan Kertosono, Prambon, dan Rejoso. Yang paling sedikit Kecamatan Lengkong dengan hanya satu kasus.

- Advertisement -

Pandemi Covid-19 sejak Maret lalu membuat tenaga kesehatan (nakes) pasif melakukan penelusuran kasus tuberkulosis (TBC). Akibatnya, tahun ini TBC di Nganjuk turun ratusan kasus.

Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Nganjuk menyebutkan, tahun lalu total ada 1.068 kasus TBC yang ditemukan di Kota Angin. Adapun tahun 2020 hanya ditemukan 592 kasus hingga Desember. “Tahun ini angka TBC menurun,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Nganjuk dr Achmad Noeroel Cholis melalui Wakil Supervisor (Wasor) TBC Agnes Anita Rahmawati.

Ratusan kasus TBC yang ditemukan tahun 2020, jelas Anita, terdiri dari beberapa kategori. Yakni, 576 pasien baru, sembilan pasien kambuh, dua pasien riwayat lain, dan lima pasien tak diketahui riwayatnya.

Terkait sembilan pasien yang tahun 2020 lalu kambuh, menurut Anita dipicu oleh banyak faktor. Mulai tidak mengonsumsi obat, tertular kembali, lingkungan kurang higienis, hingga pengobatan yang tidak sesuai standar.

Baca Juga :  Singo Barong Junior Masuk Grup Neraka

Anita mengakui, penurunan kasus TBC 2020 lalu disebabkan wabah korona yang terjadi sejak Maret. Pandemi Covid-19 membuat tenaga kesehatan tidak bisa melakukan penelusuran secara maksimal. Akibatnya, mayoritas nakes pasif dalam penemuan TBC. “Penemuan kasus (TBC, Red) hanya dari keluhan pasien,” terangnya sembari menyebut tahun ini kegiatan dialihkan untuk penanganan korona.

Lebih jauh Anita menjelaskan, sebanyak 20 puskesmas di Kota Angin juga belum memiliki kader secara merata. Sehingga, penelurusan belum bisa berjalan maksimal.

Bagaimana penanganan TBC selama pandemi? perempuan berjilbab itu menjelaskan, dinkes melakukan beberapa penyesuaian. Misalnya, kontrol pasien yang biasanya dilakukan seminggu sekali jadi dua minggu sekali. “Kalau pelayanan tetap sesuai standar,” beber Anita sembari menyebut selama pandemi pihaknya belum menemukan pasien positif Covid-19 dengan komorbid atau penyakit penyerta TB.

Baca Juga :  Patroli Ramadan untuk Jaga Keamanan Kota Angin

Melihat tren pandemi Covid-19 yang belum akan berakhir tahun depan, Anita menjelaskan, dinkes akan membentuk kader TB di puskesmas yang belum memiliki kader. Dengan cara demikian, penanganan TB di tiap kecamatan bisa lebih optimal.

Selebihnya, dinkes juga akan memperluas pelayanan TB di klinik dan RS swasta. Dengan cara demikian, para pasien yang berobat di klinik dan RS swasta tetap mendapatkan obat gratis dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Untuk diketahui, kasus TBC tersebar merata di 20 kecamatan di Nganjuk. Tiga kecamatan didapati kasus TB diatas 30 orang sekaligus menjadi tiga tertinggi. Mulai Kecamatan Kertosono, Prambon, dan Rejoso. Yang paling sedikit Kecamatan Lengkong dengan hanya satu kasus.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/