23.3 C
Kediri
Sunday, August 14, 2022

Wabah PMK Mulai Reda, Kehidupan Peternak Belum Kunjung Pulih

- Advertisement -

Serangan penyakit mulut dan kuku memang mulai mereda. Toh, kehidupan peternak dan pedagang belum sepenuhnya pulih. Harga sapi hidup belum juga kunjung kembali seperti sebelumnya.

Sapi milik Sobir terlihat seperti ternak yang manja. Rebahan di lantai kandang. Di sampingnya ada sang pemilik. Peternak warga Kelurahan Tempurejo, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri itu menyuapi sang hewan.
“Mau bagaimana lagi, sapinya lemes. Sulit berdiri dan tidak punya nafsu makan. Terpaksa disuapi,” jelas warga RT 16 RW 5 ini.
Beberapa ekor sapi yang lain juga terlihat melakukan hal yang sama. Rebah di lantai kandang. Kepalanya berada di atas kaki depan. Mata sapi-sapi itu beberapa kali terpejam.
“Kadang tidurnya ndaplang (kaki dilebarkan, Red). Coba lihat yang (di) selatan itu, menggigilkan? Seperti manusia,” tunjuk lelaki 66 tahun ini.
Tidak hanya sapi milik Sobir yang mengalami hal seperti itu. Ada belasan ekor lagi di dusun tempat tinggalnya yang juga terdampak penyakit akibat virus mulut dan kuku itu. Gejalanya sama, mulut berliur, kaki bengkak, dan terluka di bagian mulut yang membuat tak punya nafsu makan.
“Awalnya tak percaya ada PMK, sampai akhirnya sapi saya kena,” cerita Aguswantoro, 30, peternak di kelurahan yang sama.
“Semula tidak saya ceritakan dulu ke orang (lain). Tidak saya keluarkan sapinya. Akhirnya ada teman dan mantri (petugas kesehtan hewan, Red) datang dan bilang kalau ini ciri-cirinya PMK,” ceritanya sembari memberi pakan.
Agus sempat menjual satu ekor sapinya yang terkena PMK. Tentu dengan harga yang terjun bebas. Hanya Rp 1 juta seekor. Itu merupakan sapi yang sakit paling parah. Agus tak tega melihat hingga harus menjual yang kebetulan tengah hamil itu.
Selama ini pria ini mengandalkan hidup dari berdagang sapi. Karena itulah, ketika sapi-sapinya terserang PMK, sumber penghasilannya pun terganggu.
“Saya pedagang sapi. Tidak punya pekerjaan lain. Sampai saat ini sapi-sapi saya tidak ada yang laku,” keluhnya.
Sulitnya menjual sapi karena ternak-ternaknya itu sakit. Sudah sebulan ini dia tak melakukan transaksi satu ekor pun. Padahal dapur tetap harus mengebul.
Karena harus menghidupi anak dan istri, Agus akhirnya banting setir. Dia menjadi buruh tani dan bekerja serabutan.
Di Kelurahan Tempurejo banyak warganya yang jadi peternak. Terutama di Lingkungan Kwangkalan. Tak heran, saat Jawa Pos Radar Kediri berkunjung bersama petugas dar Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan ke rumah Agus, tegangganya langsung nimbrung.
“Ada suntikan ta (vaksinasi, Red)?” tanya salah seorang di antaranya.
Bagi warga Lingkungan Kwangkalan, kondisi seperti sekarang membuat mereka khawatir. Puluhan ekor sapi mereka terpapar PMK. Sedangkan penanganan hanya ala kadarnya. Seperti menggunakan pengobata herbal yang diketahui secara turun-temurun. “Selain penanganan dari pak dokter hewan ya kami upayakan pengobatan mandiri,” aku Ari Wibowo, 44, peternak yang lain.
Warga yang berkumpul di rumah Agus hari itu punya harapan sama. Yaitu adanya penanganan cepat dari pemerintah. Termasuk penanganan terhadap sapi yang sakit. Sehingga perekonomian peternak dan pedagang sapi dapat kembali pulih.
“Semoga cepat ada penanganan. Ada obat yang ampuh dan membuat sapi sakit cepat sehat,” kata Ari yang juga ketua RT itu.

Baca Juga :  Pedagang Kambing Kurban Mulai Marak di Jalan Nganjuk-Kediri





Reporter: Ilmidza Amalia Nadzira
- Advertisement -

Serangan penyakit mulut dan kuku memang mulai mereda. Toh, kehidupan peternak dan pedagang belum sepenuhnya pulih. Harga sapi hidup belum juga kunjung kembali seperti sebelumnya.

Sapi milik Sobir terlihat seperti ternak yang manja. Rebahan di lantai kandang. Di sampingnya ada sang pemilik. Peternak warga Kelurahan Tempurejo, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri itu menyuapi sang hewan.
“Mau bagaimana lagi, sapinya lemes. Sulit berdiri dan tidak punya nafsu makan. Terpaksa disuapi,” jelas warga RT 16 RW 5 ini.
Beberapa ekor sapi yang lain juga terlihat melakukan hal yang sama. Rebah di lantai kandang. Kepalanya berada di atas kaki depan. Mata sapi-sapi itu beberapa kali terpejam.
“Kadang tidurnya ndaplang (kaki dilebarkan, Red). Coba lihat yang (di) selatan itu, menggigilkan? Seperti manusia,” tunjuk lelaki 66 tahun ini.
Tidak hanya sapi milik Sobir yang mengalami hal seperti itu. Ada belasan ekor lagi di dusun tempat tinggalnya yang juga terdampak penyakit akibat virus mulut dan kuku itu. Gejalanya sama, mulut berliur, kaki bengkak, dan terluka di bagian mulut yang membuat tak punya nafsu makan.
“Awalnya tak percaya ada PMK, sampai akhirnya sapi saya kena,” cerita Aguswantoro, 30, peternak di kelurahan yang sama.
“Semula tidak saya ceritakan dulu ke orang (lain). Tidak saya keluarkan sapinya. Akhirnya ada teman dan mantri (petugas kesehtan hewan, Red) datang dan bilang kalau ini ciri-cirinya PMK,” ceritanya sembari memberi pakan.
Agus sempat menjual satu ekor sapinya yang terkena PMK. Tentu dengan harga yang terjun bebas. Hanya Rp 1 juta seekor. Itu merupakan sapi yang sakit paling parah. Agus tak tega melihat hingga harus menjual yang kebetulan tengah hamil itu.
Selama ini pria ini mengandalkan hidup dari berdagang sapi. Karena itulah, ketika sapi-sapinya terserang PMK, sumber penghasilannya pun terganggu.
“Saya pedagang sapi. Tidak punya pekerjaan lain. Sampai saat ini sapi-sapi saya tidak ada yang laku,” keluhnya.
Sulitnya menjual sapi karena ternak-ternaknya itu sakit. Sudah sebulan ini dia tak melakukan transaksi satu ekor pun. Padahal dapur tetap harus mengebul.
Karena harus menghidupi anak dan istri, Agus akhirnya banting setir. Dia menjadi buruh tani dan bekerja serabutan.
Di Kelurahan Tempurejo banyak warganya yang jadi peternak. Terutama di Lingkungan Kwangkalan. Tak heran, saat Jawa Pos Radar Kediri berkunjung bersama petugas dar Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan ke rumah Agus, tegangganya langsung nimbrung.
“Ada suntikan ta (vaksinasi, Red)?” tanya salah seorang di antaranya.
Bagi warga Lingkungan Kwangkalan, kondisi seperti sekarang membuat mereka khawatir. Puluhan ekor sapi mereka terpapar PMK. Sedangkan penanganan hanya ala kadarnya. Seperti menggunakan pengobata herbal yang diketahui secara turun-temurun. “Selain penanganan dari pak dokter hewan ya kami upayakan pengobatan mandiri,” aku Ari Wibowo, 44, peternak yang lain.
Warga yang berkumpul di rumah Agus hari itu punya harapan sama. Yaitu adanya penanganan cepat dari pemerintah. Termasuk penanganan terhadap sapi yang sakit. Sehingga perekonomian peternak dan pedagang sapi dapat kembali pulih.
“Semoga cepat ada penanganan. Ada obat yang ampuh dan membuat sapi sakit cepat sehat,” kata Ari yang juga ketua RT itu.

Baca Juga :  Penjualan Hewan Kurban di Nganjuk saat PMK Menerjang





Reporter: Ilmidza Amalia Nadzira

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/