31.7 C
Kediri
Friday, August 12, 2022

Diserang Hama Tikus, Belasan Hektare Sawah Terancam Puso

KABUPATEN, JP Radar Kediri– Sejumlah petani asal Desa Gambyok, Kecamatan Grogol resah. Sebab, belasan hektare padinya diserang hama tikus. Padahal sebentar lagi waktunya panen.

Menurut Sucipto, 48, petani Desa Gambyok, serangan tikus terjadi malam. Padinya yang sudah 70 hari rontok dimakan. “Ini contohnya,” kata pria bertopi hitam sambil menunjukkan padi yang berguguran akibat dikerat tikus.

Hama tikus itu hanya menyisakan bulir dan tangkai padi. Jika dilihat dari tepi jalan tampak tidak merata. Bagian pinggir sawah, tanaman masih ada yang bagus. Namun di tengah terlihat bolong dan tidak ada buahnya. Berantakan.

Jika dibiarkan, Cipto khawatir, tanaman padi yang kini berusia 70 hari itu terancam gagal panen. Termasuk tanaman petani lain di desanya. “Sebenarnya, upaya untuk mencegah sudah banyak,” akunya. Mulai dari pengasapan, memburu, hingga memberi racun. “Semuanya sudah dilakukan tapi tetap saja belum maksimal,” urainya.

Baca Juga :  Wacana Pemekaran Wilayah Tak Pengaruhi Pemilu 2024

Bagaimana dengan dinas pertanian? Cipto mengaku, pernah mendapat bantuan obat. Tetapi hasilnya tidak maksimal. Dia juga mengeluhkan, tanaman padi mengalami kemunduran waktu panen. Biasanya berusia 100 hari, kini rata-rata lebih dari 100 hari.

“Usia panen mundur itu karena pertumbuhannya lama,” ungkapnya. Biasanya, pertumbuhan padi terkendala saat 25 hari sampai berbuah. Hingga saat ini, Cipto dan petani lainnya belum menemukan solusinya.

Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Kabupaten Kediri Anang Widodo mengatakan, di instansinya ada gerakan pengendali (gerdal), termasuk bantuan obat serta burung hantu. Tergantung instenitas serangan.

Jika ada permasalahan pertanian, dia berharap petani bisa merapat ke balai penyuluh pertanian (BPP) terdekat. “Atau (petani) bisa ke PPL (penyuluh pertanian lapangan) dan POPT (pengendali organisme pengganggu tumbuhan) terdekat untuk tindak lanjutnya,” terangnya.

Baca Juga :  Usaha Pelajar Lereng Wilis di Desa Bajulan, Loceret Belajar Online

Agar bisa obyektif, Anang meminta, petani memanfaatkan semua akses yang disiapkan dispertabun. Nanti akan jelas petani mana dan kendala apa yang dialami. Sehingga stafnya bisa diterjunkan ke lapangan.






Reporter: rekian
- Advertisement -

KABUPATEN, JP Radar Kediri– Sejumlah petani asal Desa Gambyok, Kecamatan Grogol resah. Sebab, belasan hektare padinya diserang hama tikus. Padahal sebentar lagi waktunya panen.

Menurut Sucipto, 48, petani Desa Gambyok, serangan tikus terjadi malam. Padinya yang sudah 70 hari rontok dimakan. “Ini contohnya,” kata pria bertopi hitam sambil menunjukkan padi yang berguguran akibat dikerat tikus.

Hama tikus itu hanya menyisakan bulir dan tangkai padi. Jika dilihat dari tepi jalan tampak tidak merata. Bagian pinggir sawah, tanaman masih ada yang bagus. Namun di tengah terlihat bolong dan tidak ada buahnya. Berantakan.

Jika dibiarkan, Cipto khawatir, tanaman padi yang kini berusia 70 hari itu terancam gagal panen. Termasuk tanaman petani lain di desanya. “Sebenarnya, upaya untuk mencegah sudah banyak,” akunya. Mulai dari pengasapan, memburu, hingga memberi racun. “Semuanya sudah dilakukan tapi tetap saja belum maksimal,” urainya.

Baca Juga :  Wacana Pemekaran Wilayah Tak Pengaruhi Pemilu 2024

Bagaimana dengan dinas pertanian? Cipto mengaku, pernah mendapat bantuan obat. Tetapi hasilnya tidak maksimal. Dia juga mengeluhkan, tanaman padi mengalami kemunduran waktu panen. Biasanya berusia 100 hari, kini rata-rata lebih dari 100 hari.

“Usia panen mundur itu karena pertumbuhannya lama,” ungkapnya. Biasanya, pertumbuhan padi terkendala saat 25 hari sampai berbuah. Hingga saat ini, Cipto dan petani lainnya belum menemukan solusinya.

Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Kabupaten Kediri Anang Widodo mengatakan, di instansinya ada gerakan pengendali (gerdal), termasuk bantuan obat serta burung hantu. Tergantung instenitas serangan.

Jika ada permasalahan pertanian, dia berharap petani bisa merapat ke balai penyuluh pertanian (BPP) terdekat. “Atau (petani) bisa ke PPL (penyuluh pertanian lapangan) dan POPT (pengendali organisme pengganggu tumbuhan) terdekat untuk tindak lanjutnya,” terangnya.

Baca Juga :  Penyidik Kejari Kota Kediri Masih Hadirkan Saksi untuk Perkuat Bukti

Agar bisa obyektif, Anang meminta, petani memanfaatkan semua akses yang disiapkan dispertabun. Nanti akan jelas petani mana dan kendala apa yang dialami. Sehingga stafnya bisa diterjunkan ke lapangan.






Reporter: rekian

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/