25.5 C
Kediri
Wednesday, July 6, 2022

Kenalkan Tradisi Megengan, Yayasan Sahhala Ajari Anak-Anak Bikin Apem

KOTA, JP Radar Kediri- Megengan, tradisi yang biasa dilakukan menjelang datangnya Ramadan, dilakukan lebih awal di Kelurahan Mojoroto. Bila kebanyakan tempat menggelarnya nanti sore bersamaan dengan waktu pelaksanaan sidang isbat, di kelurahan ini sudah berlangsung kemarin. Terutama di Yayasan Pendidikan Islam Sahhala.

Megengan di tempat ini berlangsung pagi, sekitar pukul 08.30 kemarin (31/3). Seperti halnya khas acara megengan, ada kue apem yang mewarnai. Tak hanya diarak dan dimakan saja, anak-anak yang ikut megengan pun diajari cara membuat kue berbahan tepung beras, terigu, dan tape singkong tersebut.

“Apeman itu tradisi, perlu kita lestarikan dan kenalkan ke anak-anak,” ucap Siti Emiati, pendamping dari yayasan Sahhala.

Megengan yang digelar di tempat ini berlangsung dua bagian. Pagi dan sore. Di pagi hari, puluhan bocah berkumpul dan diajari membuat kue apem. Bertempat di beranda sekolah milik yayasan, para bocah itu diajari menuangkan adonan ke dalam loyang yang telah siap di kompor.

Baca Juga :  Lantik Abu-Ning Lik, Khofifah Puji Kota Kediri

Usai ikut mengucurkan adonan apem ke loyang, para bocah kemudian berkumpul. Kali ini, mereka mengerubuti Sunarno, seorang pendongeng. Ya, sembari menunggu apem matang, bocah-bocah itu disuguhi dongeng. Kisahnya, tak jauh-jauh dari soal megengan.

“Megengan itu berasal dari kata megeng, artinya menahan atau ngempet,” kata pendongeng yang juga pengajar di IAN Kediri itu.

Dalam bercerita, Sunarno melibatkan dua anak wayang berupa tokoh Semar dan

Gareng. Dari dua sosok fiksi itulah kisah bertema megengan mengalir dan dinikmati anak-anak. Agar para bocah lebih dini mengenali puasa Ramadan. Setelah itu, acara sesi pertama diakhiri dengan makam apem yang telah masak.

Sore harinya, berlangsung karnaval megengan. Masih melibatkan para bocah, gunungan apem dan tumpeng diarak berkeliling wilayah sekitar yayasan. Sebelumnya, para peserta karnaval diajak berziarah ke makam Mbah Rohman, yang dikenal sebagai tokoh pembuka area Jalan Supit Urang.

Selama berjalan mengitari kampung, anak-anak itu juga menyanyikan beberapa lirik. Seperti ‘Ramadan tiba, Ramadan tiba’, ‘diluk engkas pasa, diluk engkas pasa’, dan ‘ayo latihan pasa, syukur isa pasa sedina’.

Baca Juga :  Permintaan Tinggi, Harga Ikan Nila di Pasar Melonjak

Selain itu, peserta karnaval juga berkampanye tentang puasa. Membawa papan tulis ukuran 30×50 cm, mereka menulis kalimat kreatif berisi ajakan berpuasa. Seperti ‘aku isin nek ora pasa’, hingga tulisan arab pegon bertulis ‘pasukan wani luwe’.

“Konsep (acara)-nya sederhana tapi tetap (berusaha) menyenangkan bagi anak-anak,” ujarnya.

Di bagian akhir, disiapkan beberapa permainan. Seperti membukul beduk bersama dan menyalakan mercon bumbung alias petasan dari batang bambu. Petasan bambu ini merupakan penanda datangnya Bulan Suci Ramadan.

“Dengan lirik lagu sederhana itu, kita berharap anak-anak bisa mengingatnya terus,” ucap Sunarno sambil mengulang-ulang lirik yang dinyanyikan peserta karnaval.

Menurut dosen psikologi ini, megengan juga bisa dimaknai sebagai upaya menyucikan diri. Di tempat lain ada pula tradisi padusan, yang intinya mencari sumber untuk mandi. (rq/fud)

- Advertisement -

KOTA, JP Radar Kediri- Megengan, tradisi yang biasa dilakukan menjelang datangnya Ramadan, dilakukan lebih awal di Kelurahan Mojoroto. Bila kebanyakan tempat menggelarnya nanti sore bersamaan dengan waktu pelaksanaan sidang isbat, di kelurahan ini sudah berlangsung kemarin. Terutama di Yayasan Pendidikan Islam Sahhala.

Megengan di tempat ini berlangsung pagi, sekitar pukul 08.30 kemarin (31/3). Seperti halnya khas acara megengan, ada kue apem yang mewarnai. Tak hanya diarak dan dimakan saja, anak-anak yang ikut megengan pun diajari cara membuat kue berbahan tepung beras, terigu, dan tape singkong tersebut.

“Apeman itu tradisi, perlu kita lestarikan dan kenalkan ke anak-anak,” ucap Siti Emiati, pendamping dari yayasan Sahhala.

Megengan yang digelar di tempat ini berlangsung dua bagian. Pagi dan sore. Di pagi hari, puluhan bocah berkumpul dan diajari membuat kue apem. Bertempat di beranda sekolah milik yayasan, para bocah itu diajari menuangkan adonan ke dalam loyang yang telah siap di kompor.

Baca Juga :  Satlantas Polres Kediri Kota Alihkan Arus Lalu Lintas saat Malam

Usai ikut mengucurkan adonan apem ke loyang, para bocah kemudian berkumpul. Kali ini, mereka mengerubuti Sunarno, seorang pendongeng. Ya, sembari menunggu apem matang, bocah-bocah itu disuguhi dongeng. Kisahnya, tak jauh-jauh dari soal megengan.

“Megengan itu berasal dari kata megeng, artinya menahan atau ngempet,” kata pendongeng yang juga pengajar di IAN Kediri itu.

Dalam bercerita, Sunarno melibatkan dua anak wayang berupa tokoh Semar dan

Gareng. Dari dua sosok fiksi itulah kisah bertema megengan mengalir dan dinikmati anak-anak. Agar para bocah lebih dini mengenali puasa Ramadan. Setelah itu, acara sesi pertama diakhiri dengan makam apem yang telah masak.

Sore harinya, berlangsung karnaval megengan. Masih melibatkan para bocah, gunungan apem dan tumpeng diarak berkeliling wilayah sekitar yayasan. Sebelumnya, para peserta karnaval diajak berziarah ke makam Mbah Rohman, yang dikenal sebagai tokoh pembuka area Jalan Supit Urang.

Selama berjalan mengitari kampung, anak-anak itu juga menyanyikan beberapa lirik. Seperti ‘Ramadan tiba, Ramadan tiba’, ‘diluk engkas pasa, diluk engkas pasa’, dan ‘ayo latihan pasa, syukur isa pasa sedina’.

Baca Juga :  Sesi Pertama Mundur Lima Menit

Selain itu, peserta karnaval juga berkampanye tentang puasa. Membawa papan tulis ukuran 30×50 cm, mereka menulis kalimat kreatif berisi ajakan berpuasa. Seperti ‘aku isin nek ora pasa’, hingga tulisan arab pegon bertulis ‘pasukan wani luwe’.

“Konsep (acara)-nya sederhana tapi tetap (berusaha) menyenangkan bagi anak-anak,” ujarnya.

Di bagian akhir, disiapkan beberapa permainan. Seperti membukul beduk bersama dan menyalakan mercon bumbung alias petasan dari batang bambu. Petasan bambu ini merupakan penanda datangnya Bulan Suci Ramadan.

“Dengan lirik lagu sederhana itu, kita berharap anak-anak bisa mengingatnya terus,” ucap Sunarno sambil mengulang-ulang lirik yang dinyanyikan peserta karnaval.

Menurut dosen psikologi ini, megengan juga bisa dimaknai sebagai upaya menyucikan diri. Di tempat lain ada pula tradisi padusan, yang intinya mencari sumber untuk mandi. (rq/fud)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/