30.2 C
Kediri
Monday, July 4, 2022

Telusuri Jejak Fee, Kejari Kota Kediri Akan Panggil Lagi Puluhan Saksi

KOTA, JP Radar Kediri – Nilai kerugian negara yang terjadi akibat tindakan korupsi di program bantuan pangan non-tunai (BPNT) mencapai Rp 1,4 miliar. Sementara uang yang dikembalikan oleh dua tersangka-Triyono Kutut dan Roro Sawitri-serta beberapa pihak lain hanya sebanyak Rp 392, 7 juta. Artinya, masih ada uang sebesar Rp 1 miliar lebih yang belum ketahuan rimbanya.

Lalu,  ke mana uang dari fee rekanan penyedia pangan itu mengalir? Itulah yang berusaha dikuak oleh penyidik dari Kejaksaan Negeri (Kejari). Selain mendalami temuan-temuan baru, rencananya, penyidik dari korps Adhyaksa tersebut bakal memeriksa kembali saksi-saksi lama.

“Mulai minggu depan kami akan panggil kembali saksi-saksi atas nama tersangka yang dulu pernah kai periksa (baik) waktu penyelidikan maupun penyidikan,” ujar Kepala Saksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Nurngali menerangkan.

Sebelumnya, penyidik juga telah menggeledah beberapa tempat yang diduga menjadi tempat penyimpanan barang hasil korupsi. Terutama di rumah tersangka yang juga mantan kepala dinas sosial (kadinsos) Triyono Kutut Purwanto dan Sri Dewi Roro Sawitri, nama panjang Roro. Penggeledahan itu berlangsung Jumat (28/1).

Baca Juga :  Ingin Lari Keliling Kota

Dari hasil penggeledahan itu, penyidik telah menyita beberapa barang. Dari rumah Kutut, yang disita adalah tiga unit sepeda dan helm. Total nilai barang-barang yang disita tersebut diperkirakan sekitar Rp 6,9 juta.

Selain itu, 18 penyidik yang mendatangi rumah mantan kadinsos tersebut juga membawa beberapa dokumen yang ditemukan. Dokumen-dokumen tersebut terkait program BPNT. Berisi catatan dari para tersangka dan buku rekening.

“Dokumen-dokumen ini masih kami teliti. Setelah itu akan kami investarisasikan,” jelas Nurngali lagi.

Temuan dokumen-dokumen baru itu melengkapi barang bukti hasil penyidikan sebelum penetapan tersangka. Saa itu dokumen yang disita meliputi kuitansi penyaluran BPNT dari para suplier, buku catatan rekakan BPNT dari supplier, serta kuitansi penyaluran bantuan.

“Termasuk dokumen-dokumen itu akan kami investariskan dulu,” imbuhnya.

Baca Juga :  Dukun Palsu Dibekuk Polisi

Bagaimana dengan saksi-saksi yang kembali dipanggil minggu depan? Menurut Nurngali, jumlahnya tentu lebih banyak bila dibandingkan saat tahap penyidikan. Waktu itu, jumlah orang yang dipanggil mencapai 20 orang.

Puluhan saksi itu diperiksa untuk mendalami penulusuran aliran dana yang berasal dari fee yang diterima kedua tersangka. Berdasarkan perhitungan penyidik, nilai fee tersebut mencapai Rp 1,4 miliar. Sedangkan uang pengembalian yang diterima kejaksaan hanya Rp 392,7 juta. Selisih itu yang akan diselidiki oleh penyidik.

Sementara itu, terkait penggeledahan yang dilakukan di rumah mantan kepala dinsos Triyono Kutut, penasihat hukum tersangka Nurbaedah menjelaskan bila hal itu tak dipermasalahkan. Sebab, semuanya adalah kewenangan penyidik. Yang pasti, kliennya menjamin tak menghilangkan barang bukti sama sekali.

Soal rencana pemeriksaan yang akan kembali diintensifkan penyidik, Nurbaedah juga tak mempersoalkan. Kliennya siap diperiksa kembali.

“Yang bersangkutan siap menjalani proses pemeriksaan selanjutnya,” tandasnya.(ica/fud)

- Advertisement -

KOTA, JP Radar Kediri – Nilai kerugian negara yang terjadi akibat tindakan korupsi di program bantuan pangan non-tunai (BPNT) mencapai Rp 1,4 miliar. Sementara uang yang dikembalikan oleh dua tersangka-Triyono Kutut dan Roro Sawitri-serta beberapa pihak lain hanya sebanyak Rp 392, 7 juta. Artinya, masih ada uang sebesar Rp 1 miliar lebih yang belum ketahuan rimbanya.

Lalu,  ke mana uang dari fee rekanan penyedia pangan itu mengalir? Itulah yang berusaha dikuak oleh penyidik dari Kejaksaan Negeri (Kejari). Selain mendalami temuan-temuan baru, rencananya, penyidik dari korps Adhyaksa tersebut bakal memeriksa kembali saksi-saksi lama.

“Mulai minggu depan kami akan panggil kembali saksi-saksi atas nama tersangka yang dulu pernah kai periksa (baik) waktu penyelidikan maupun penyidikan,” ujar Kepala Saksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Nurngali menerangkan.

Sebelumnya, penyidik juga telah menggeledah beberapa tempat yang diduga menjadi tempat penyimpanan barang hasil korupsi. Terutama di rumah tersangka yang juga mantan kepala dinas sosial (kadinsos) Triyono Kutut Purwanto dan Sri Dewi Roro Sawitri, nama panjang Roro. Penggeledahan itu berlangsung Jumat (28/1).

Baca Juga :  Sebelas Kecamatan Rawan Bencana Kebakaran

Dari hasil penggeledahan itu, penyidik telah menyita beberapa barang. Dari rumah Kutut, yang disita adalah tiga unit sepeda dan helm. Total nilai barang-barang yang disita tersebut diperkirakan sekitar Rp 6,9 juta.

Selain itu, 18 penyidik yang mendatangi rumah mantan kadinsos tersebut juga membawa beberapa dokumen yang ditemukan. Dokumen-dokumen tersebut terkait program BPNT. Berisi catatan dari para tersangka dan buku rekening.

“Dokumen-dokumen ini masih kami teliti. Setelah itu akan kami investarisasikan,” jelas Nurngali lagi.

Temuan dokumen-dokumen baru itu melengkapi barang bukti hasil penyidikan sebelum penetapan tersangka. Saa itu dokumen yang disita meliputi kuitansi penyaluran BPNT dari para suplier, buku catatan rekakan BPNT dari supplier, serta kuitansi penyaluran bantuan.

“Termasuk dokumen-dokumen itu akan kami investariskan dulu,” imbuhnya.

Baca Juga :  Ingin Lari Keliling Kota

Bagaimana dengan saksi-saksi yang kembali dipanggil minggu depan? Menurut Nurngali, jumlahnya tentu lebih banyak bila dibandingkan saat tahap penyidikan. Waktu itu, jumlah orang yang dipanggil mencapai 20 orang.

Puluhan saksi itu diperiksa untuk mendalami penulusuran aliran dana yang berasal dari fee yang diterima kedua tersangka. Berdasarkan perhitungan penyidik, nilai fee tersebut mencapai Rp 1,4 miliar. Sedangkan uang pengembalian yang diterima kejaksaan hanya Rp 392,7 juta. Selisih itu yang akan diselidiki oleh penyidik.

Sementara itu, terkait penggeledahan yang dilakukan di rumah mantan kepala dinsos Triyono Kutut, penasihat hukum tersangka Nurbaedah menjelaskan bila hal itu tak dipermasalahkan. Sebab, semuanya adalah kewenangan penyidik. Yang pasti, kliennya menjamin tak menghilangkan barang bukti sama sekali.

Soal rencana pemeriksaan yang akan kembali diintensifkan penyidik, Nurbaedah juga tak mempersoalkan. Kliennya siap diperiksa kembali.

“Yang bersangkutan siap menjalani proses pemeriksaan selanjutnya,” tandasnya.(ica/fud)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/