23.7 C
Kediri
Sunday, June 26, 2022

Ngeyel Rabi, Getun Mburi

“Getun aku cepet-cepet rabi. Ora seindah sing tak bayangne,” keluh Minthul meratapi jalan hidupnya.

Jangan heran bila wanita warga Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri itu mengeluh seperti itu. Tak bukan karena ulah suaminya, Paijo. Lelaki yang bekerja sebagai sekuriti perumahan ini punya tabiat yang bikin malu. Seneng njaluk kiriman duwit mertuane. Peh, ngisin-ngisini tenan kuwi.

“Lha piye, wong bayaran ya ra nutut,” dalih Sudrun, membela diri.

Memang, perkenalan Minthul dan Paijo dari perjodohan. Ketika menginjak usia 20-an tahun, keluarganya berusaha mencarikan jodoh. Minthul adalah gadis yang kuper dan pemalu. Selepas SMA dia hanya diam di rumah, membantu orang tua.

Singkat cerita, Minthul diajak bulek-nya. Dikenalkan seorang pria yang hampir sebaya.

“Jarene bulek wonge apikan, saleh,” kenang Minthul pada awal perkenalannya dengan sang suami. 

Baca Juga :  Nyamuk Mulai Resisten Abate

Katabelece bulek-nya itu yang membuat Minthul manggut-manggut. Langsung hooh meskipun tahu kerja Paijo tak mentereng. Hanya sekuriti di salah satu perumahan.Toh, Minthul juga ngebet agar segera dinikahi.

Maka, janur pun melengkung. Minthul dan Paijo mengikat janji suci. Menikah di hadapan penghulu. Harapane sih, perkawinan langgeng sampek nini lan mintuna.

Usai tenda diturunkan dan meja kursi dikemasi, Minthul langsung diboyong Paijo ke rumah orang tuanya. Nah, ternyata, hidup keluarga Paijo amatlah bersahaja. Mertua Minthul itu selama ini berharap banyak pada gaji anaknya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Nah, Minthul pun harus bertindak irit. Menekan biaya makan agar isa tekan akhir bulan. Istilah kerennya, mengencangkan ikat pinggang!

“Aku sampek nangis yen eling bayarane bojoku ora sepira. Tapi ya tetep kudu diatur ben pas ambek kebutuhane,” keluh Minthul.

Baca Juga :  Widiya Octaviani, Korban Senggolan dengan Bus Harapan Jaya

Bila sudah terdesak, Minthul akhirnya lari ke orang tuanya sendiri. Minta uang untuk nambal pengeluaran. Tentu saja, orang tua Minthul iba dan memenuhi kebutuhan sang anak.

Minthul melakukan itu secara diam-diam. Tapi, eh, Paijo tajam juga indra penciuman dan pendengarannya. Dia akhirnya tahu upaya istrinya memenuhi kebutuhan.

Eh, bukannya malu dan marah, Paijo ternyata punya sifat rai gedek alias muka tembok. Meskipun sering disindir mertuanya, dia tetap santai saja. Bahkan, kini justru menyuruh istrinya sering-sering minta uang ke orang tuanya.

Lama-lama, Minthul pun malu. Merasa dimanfaatkan sang suami. “Dua tahun nikah kok tetep njaluk duwit nang wong tuwa. Bojoku ya ora duwe isin. Ya lebih baik pegatan wae,” ucap Minthul ketus, pada akhirnya. (ica/fud)

 

- Advertisement -

“Getun aku cepet-cepet rabi. Ora seindah sing tak bayangne,” keluh Minthul meratapi jalan hidupnya.

Jangan heran bila wanita warga Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri itu mengeluh seperti itu. Tak bukan karena ulah suaminya, Paijo. Lelaki yang bekerja sebagai sekuriti perumahan ini punya tabiat yang bikin malu. Seneng njaluk kiriman duwit mertuane. Peh, ngisin-ngisini tenan kuwi.

“Lha piye, wong bayaran ya ra nutut,” dalih Sudrun, membela diri.

Memang, perkenalan Minthul dan Paijo dari perjodohan. Ketika menginjak usia 20-an tahun, keluarganya berusaha mencarikan jodoh. Minthul adalah gadis yang kuper dan pemalu. Selepas SMA dia hanya diam di rumah, membantu orang tua.

Singkat cerita, Minthul diajak bulek-nya. Dikenalkan seorang pria yang hampir sebaya.

“Jarene bulek wonge apikan, saleh,” kenang Minthul pada awal perkenalannya dengan sang suami. 

Baca Juga :  Harga Sayuran Fluktuatif, Petani Desa Putih Terapkan Mina-Horti

Katabelece bulek-nya itu yang membuat Minthul manggut-manggut. Langsung hooh meskipun tahu kerja Paijo tak mentereng. Hanya sekuriti di salah satu perumahan.Toh, Minthul juga ngebet agar segera dinikahi.

Maka, janur pun melengkung. Minthul dan Paijo mengikat janji suci. Menikah di hadapan penghulu. Harapane sih, perkawinan langgeng sampek nini lan mintuna.

Usai tenda diturunkan dan meja kursi dikemasi, Minthul langsung diboyong Paijo ke rumah orang tuanya. Nah, ternyata, hidup keluarga Paijo amatlah bersahaja. Mertua Minthul itu selama ini berharap banyak pada gaji anaknya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Nah, Minthul pun harus bertindak irit. Menekan biaya makan agar isa tekan akhir bulan. Istilah kerennya, mengencangkan ikat pinggang!

“Aku sampek nangis yen eling bayarane bojoku ora sepira. Tapi ya tetep kudu diatur ben pas ambek kebutuhane,” keluh Minthul.

Baca Juga :  Kisah Menarik di Era Kolonial dan Kemerdekaan (5)

Bila sudah terdesak, Minthul akhirnya lari ke orang tuanya sendiri. Minta uang untuk nambal pengeluaran. Tentu saja, orang tua Minthul iba dan memenuhi kebutuhan sang anak.

Minthul melakukan itu secara diam-diam. Tapi, eh, Paijo tajam juga indra penciuman dan pendengarannya. Dia akhirnya tahu upaya istrinya memenuhi kebutuhan.

Eh, bukannya malu dan marah, Paijo ternyata punya sifat rai gedek alias muka tembok. Meskipun sering disindir mertuanya, dia tetap santai saja. Bahkan, kini justru menyuruh istrinya sering-sering minta uang ke orang tuanya.

Lama-lama, Minthul pun malu. Merasa dimanfaatkan sang suami. “Dua tahun nikah kok tetep njaluk duwit nang wong tuwa. Bojoku ya ora duwe isin. Ya lebih baik pegatan wae,” ucap Minthul ketus, pada akhirnya. (ica/fud)

 

Artikel Terkait

Most Read

Megengan Pandemi

Sembadra Karya


Artikel Terbaru

/