22.3 C
Kediri
Tuesday, June 28, 2022

Hajatan di Banaran Tak Berizin

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Hajatan di rumah Sumanto, 48, warga Desa Banaran, Kecamatan Kertosono, yang diduga menyebabkan puluhan orang keracunan dan satu orang meninggal dunia ternyata tak berizin. Hal itu ditegaskan Kapolres Nganjuk AKBP Jimmy Tana dalam konferensi pers di lobi Mapolres Nganjuk pada Rabu malam (27/10). “Hajatan di rumah Sumanto tidak berizin,” tandas Jimmy.

Padahal, berdasarkan ketentuan, Sumanto harus mengajukan izin menggelar hajatan ke Polsek Kertosono. Karena pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) masih diberlakukan di Kabupaten Nganjuk. Pandemi Covid-19 belum berakhir. Hajatan atau segala macam acara hanya boleh dihadiri maksimal 50 persen dari kapasitas tempat acara.

Sedangkan, hajatan di rumah Sumanto yang dilaksanakan pada Minggu (24/10) itu dihadiri sekitar 400 orang dalam dua sesi. Yaitu, pukul 11.00 WIB-13.00 WIB dan pukul 17.00 WIB-21.00 WIB. Akibatnya, tamu undangan berjubel di acara resepsi pernikahan anak pertama Sumanto. Kerumunan akhirnya terjadi. Ini bisa menyebabkan penularan Covid-19. “Hajatan di Sumanto itu menyalahi protokol kesehatan (prokes) pencegahan Covid-19,” ujar Jimmy.

Baca Juga :  Sehari 86 Positif, 8 Orang Meninggal

Terkait dugaan keracunan, kapolres yang menggantikan AKBP Harviadhi Agung Pratama ini masih menunggu hasil laboratorium dari sampel makanan yang disuguhkan Sumanto ke tamu undangan. Hingga kemarin, hasil tersebut belum diterima polisi. “Kami tunggu hasil laboratoriumnya dulu untuk kepastian apakah keracunan makanan atau tidak,” ujarnya.

Meski demikian, Sumanto telah diperiksa di Mapolres Nganjuk. Selain itu, polisi juga memanggil tujuh orang untuk diperiksa. Mulai dari perangkat desa, saudara Sumanto, hingga tukang masak di  hajatan tersebut. “Mereka masih sebatas saksi dalam pemeriksaan ini,” ungkap Jimmy.

Sementara itu, korban keracunan massal di Desa Banaran terus bertambah. Hingga kemarin, total orang yang mengeluh pusing, mual, lemas dan diare sebanyak 50 orang dan satu orang meninggal dunia. Korban yang meninggal dunia adalah Dwi Woro Erfiwati, 62, warga Desa Banaran. Untuk 50 orang yang keracunan tersebut sebanyak 20 orang dirawat di rumah sakit dan klinik kesehatan. Sedangkan, 27 orang menjalani rawat jalan dan 3 orang sudah dinyatakan sembuh.

Baca Juga :  Mahasiswa Ngganja, Bagaimana Lingkungannya?

Sementara itu, Sumanto tidak bisa dimintai komentar terkait pemeriksaan di Mapolres Nganjuk. Saat wartawan koran ini berkunjung ke rumahnya di Desa Banaran, Kecamatan Kertosono, pria berusia 48 tahun ini tidak menemui. “Bapak sedang tidur setelah periksa dari rumah sakit,” ujar anak Sumanto.

- Advertisement -

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Hajatan di rumah Sumanto, 48, warga Desa Banaran, Kecamatan Kertosono, yang diduga menyebabkan puluhan orang keracunan dan satu orang meninggal dunia ternyata tak berizin. Hal itu ditegaskan Kapolres Nganjuk AKBP Jimmy Tana dalam konferensi pers di lobi Mapolres Nganjuk pada Rabu malam (27/10). “Hajatan di rumah Sumanto tidak berizin,” tandas Jimmy.

Padahal, berdasarkan ketentuan, Sumanto harus mengajukan izin menggelar hajatan ke Polsek Kertosono. Karena pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) masih diberlakukan di Kabupaten Nganjuk. Pandemi Covid-19 belum berakhir. Hajatan atau segala macam acara hanya boleh dihadiri maksimal 50 persen dari kapasitas tempat acara.

Sedangkan, hajatan di rumah Sumanto yang dilaksanakan pada Minggu (24/10) itu dihadiri sekitar 400 orang dalam dua sesi. Yaitu, pukul 11.00 WIB-13.00 WIB dan pukul 17.00 WIB-21.00 WIB. Akibatnya, tamu undangan berjubel di acara resepsi pernikahan anak pertama Sumanto. Kerumunan akhirnya terjadi. Ini bisa menyebabkan penularan Covid-19. “Hajatan di Sumanto itu menyalahi protokol kesehatan (prokes) pencegahan Covid-19,” ujar Jimmy.

Baca Juga :  Menangis, Ibu Peracun Pacar Asal Kediri Minta Maaf Hakim

Terkait dugaan keracunan, kapolres yang menggantikan AKBP Harviadhi Agung Pratama ini masih menunggu hasil laboratorium dari sampel makanan yang disuguhkan Sumanto ke tamu undangan. Hingga kemarin, hasil tersebut belum diterima polisi. “Kami tunggu hasil laboratoriumnya dulu untuk kepastian apakah keracunan makanan atau tidak,” ujarnya.

Meski demikian, Sumanto telah diperiksa di Mapolres Nganjuk. Selain itu, polisi juga memanggil tujuh orang untuk diperiksa. Mulai dari perangkat desa, saudara Sumanto, hingga tukang masak di  hajatan tersebut. “Mereka masih sebatas saksi dalam pemeriksaan ini,” ungkap Jimmy.

Sementara itu, korban keracunan massal di Desa Banaran terus bertambah. Hingga kemarin, total orang yang mengeluh pusing, mual, lemas dan diare sebanyak 50 orang dan satu orang meninggal dunia. Korban yang meninggal dunia adalah Dwi Woro Erfiwati, 62, warga Desa Banaran. Untuk 50 orang yang keracunan tersebut sebanyak 20 orang dirawat di rumah sakit dan klinik kesehatan. Sedangkan, 27 orang menjalani rawat jalan dan 3 orang sudah dinyatakan sembuh.

Baca Juga :  Bantah Suap, Kades Ganti Adukan Ketua BPD

Sementara itu, Sumanto tidak bisa dimintai komentar terkait pemeriksaan di Mapolres Nganjuk. Saat wartawan koran ini berkunjung ke rumahnya di Desa Banaran, Kecamatan Kertosono, pria berusia 48 tahun ini tidak menemui. “Bapak sedang tidur setelah periksa dari rumah sakit,” ujar anak Sumanto.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/