23.1 C
Kediri
Monday, August 15, 2022

Kekerasan Pada Anak dan Perempuan di Kediri Masih Tinggi

- Advertisement -

KOTA KEDIRI – Pekerjaan rumah (PR) masih menumpuk di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Kediri. Pasalnya, beberapa tahun terakhir jumlah kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Kediri terus mengalami kenaikan.  

Hal tersebut diperkuat dengan beberapa kasus kekerasan yang masih didominasi kasus kekerasan seksual. “Sejak tahun 2016, kami sudah lakukan penambahan Satgas (Satuan tugas,Red) Pusat Pelayanan terpadu, pemberdayaan perempuan dan anak (P2TP2A) untuk meminimalisir tingkat kekerasaan anak dan perempuan di Kota Kediri,” ungkap Mutakalim, kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DP3AP2KB.

Berdasarkan data yang dihimpun Jawa Pos Radar Kediri, ada perbedaan gambaran kasus kondisi kekerasan terhadap perempuan dan anak. Jika pada 2017, angka tertinggi adalah pada kasus kekerasan seksual. Sementara untuk 2018, terjadi penurunan kasus menjadi 13 temuan kekerasan seksual, sementara lonjakan justru terjadi pada kasus kekerasan fisik yaitu sebanyak 24 kasus.

Baca Juga :  Terdakwa Tipu Gadai Mobil Asal Plemahan Divonis 28 Bulan

Sementara untuk total temuan, tahun 2018 terjadi penurunan yaitu 61 kasus dibandingkan spada 2017 terdapat 80 kasus.

Untuk penanganan lebih lanjut, DP3AP2KB telah membentuk satuan tugas (satgas). Menurutnya, masyarakat merasa terbantu dengan kehadiran satgas. Menurutnya, masyarakat merasa terbantu dengan terbentuk satgas. Terbukti dengan adanya satgas P2TP2A, jumlah pengaduan jenis kekerasan terhadap perempuan dan anak mengalami kenaikan yang signifikan.

- Advertisement -

“Mungkin mereka malu ketika kasus yang dialaminya (kekerasan) menjadi aib tetangga, namun setelah terbentuknya satgas, kerahasiaan privasinya menjadi terlindungi,” jelasnya. 

Khusus korban kekerasan seksual, lanjut Mutakalim, pihaknya sudah bekerja sama dengan beberapa pihak terkait untuk mendapatkan penanganan dini. “Kami akan terus memberikan pencegahan secara masif untuk mempertahankan predikat madya menuju Kediri Kota Layak Anak,” ujarnya.

Baca Juga :  PTSL di Kota Angin Bermasalah Hukum di 2 Desa

Ketika disinggung terkait anggaran yang dipersiapkan menuju Kota Layak Anak (KLA), pihaknya enggan untuk menjawabnya. “Setiap satker (satuan kerja, Red) memiliki anggaran untuk mendukung program ini, sebab implementasinya di setiap OPD (Organisasi Perangkat Daerah, Red) masing-masing,” terangnya.

Hal senada juga diungkapkan kepala DP3AP2KB Kota Kediri Sumedi, pihaknya akan terus mengevaluasi beberapa indikator yang menjadi penilaian untuk menuju sebagai Kota Layak Anak (KLA). “Kami akan terus bersinergi dengan beberapa stakeholder terkait untuk bersama-sama mempertankan gelar KLA,” tandasnya.

Perlu diketahui, Kota Layak Anak (KLA) bertujuan untuk membangun generasi muda ke depannya dengan di fasilitasi pemerintah. Apalagi, lanjut Sumedi, Kota Kediri juga berhasil mempertahankan gelar KLA sejak tahun 2015 hingga 2017 dan bahkan naik dari tingkat Pratama menjadi madya. “Semoga tahu ini, kami dapat mempertahankan gelar KLA ini,’’ pungkasnya.  

 

- Advertisement -

KOTA KEDIRI – Pekerjaan rumah (PR) masih menumpuk di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Kediri. Pasalnya, beberapa tahun terakhir jumlah kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Kediri terus mengalami kenaikan.  

Hal tersebut diperkuat dengan beberapa kasus kekerasan yang masih didominasi kasus kekerasan seksual. “Sejak tahun 2016, kami sudah lakukan penambahan Satgas (Satuan tugas,Red) Pusat Pelayanan terpadu, pemberdayaan perempuan dan anak (P2TP2A) untuk meminimalisir tingkat kekerasaan anak dan perempuan di Kota Kediri,” ungkap Mutakalim, kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DP3AP2KB.

Berdasarkan data yang dihimpun Jawa Pos Radar Kediri, ada perbedaan gambaran kasus kondisi kekerasan terhadap perempuan dan anak. Jika pada 2017, angka tertinggi adalah pada kasus kekerasan seksual. Sementara untuk 2018, terjadi penurunan kasus menjadi 13 temuan kekerasan seksual, sementara lonjakan justru terjadi pada kasus kekerasan fisik yaitu sebanyak 24 kasus.

Baca Juga :  Edarkan LL, Kena Bui 2 Tahun

Sementara untuk total temuan, tahun 2018 terjadi penurunan yaitu 61 kasus dibandingkan spada 2017 terdapat 80 kasus.

Untuk penanganan lebih lanjut, DP3AP2KB telah membentuk satuan tugas (satgas). Menurutnya, masyarakat merasa terbantu dengan kehadiran satgas. Menurutnya, masyarakat merasa terbantu dengan terbentuk satgas. Terbukti dengan adanya satgas P2TP2A, jumlah pengaduan jenis kekerasan terhadap perempuan dan anak mengalami kenaikan yang signifikan.

“Mungkin mereka malu ketika kasus yang dialaminya (kekerasan) menjadi aib tetangga, namun setelah terbentuknya satgas, kerahasiaan privasinya menjadi terlindungi,” jelasnya. 

Khusus korban kekerasan seksual, lanjut Mutakalim, pihaknya sudah bekerja sama dengan beberapa pihak terkait untuk mendapatkan penanganan dini. “Kami akan terus memberikan pencegahan secara masif untuk mempertahankan predikat madya menuju Kediri Kota Layak Anak,” ujarnya.

Baca Juga :  Terdakwa Tipu Gadai Mobil Asal Plemahan Divonis 28 Bulan

Ketika disinggung terkait anggaran yang dipersiapkan menuju Kota Layak Anak (KLA), pihaknya enggan untuk menjawabnya. “Setiap satker (satuan kerja, Red) memiliki anggaran untuk mendukung program ini, sebab implementasinya di setiap OPD (Organisasi Perangkat Daerah, Red) masing-masing,” terangnya.

Hal senada juga diungkapkan kepala DP3AP2KB Kota Kediri Sumedi, pihaknya akan terus mengevaluasi beberapa indikator yang menjadi penilaian untuk menuju sebagai Kota Layak Anak (KLA). “Kami akan terus bersinergi dengan beberapa stakeholder terkait untuk bersama-sama mempertankan gelar KLA,” tandasnya.

Perlu diketahui, Kota Layak Anak (KLA) bertujuan untuk membangun generasi muda ke depannya dengan di fasilitasi pemerintah. Apalagi, lanjut Sumedi, Kota Kediri juga berhasil mempertahankan gelar KLA sejak tahun 2015 hingga 2017 dan bahkan naik dari tingkat Pratama menjadi madya. “Semoga tahu ini, kami dapat mempertahankan gelar KLA ini,’’ pungkasnya.  

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/