23.3 C
Kediri
Thursday, August 11, 2022

Alat Berat Masuk Tambang, Malam-Malam Demo ke Pemkab

KEDIRI KABUPATEN – Ratusan penambang pasir tradisional di aliran Sungai Ngobo, Desa Sepawon, Plosoklaten menggeruduk Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri tadi malam. Tujuannya, memprotes adanya alat berat yang akan melakukan penambangan di kawasan mereka.

Yang menarik, saat mendatangi kantor pemkab itu mereka membawa pula alat berat berupa ekskavator. Ekskavator itulah yang menjadi pemicu kemarahan para penambang pasir tradisional tersebut.

“Kalau di lokasi yang sama ada alat berat, penambang pasir tradisional bakal tersingkir,” kata Tubagus Fitra Jaya, salah seorang penambang pasir tradisional.

Menurut Bagus, ekskavator itu masuk ke area penambangan sekitar pukul 12.00 WIB.

Menurut Bagus, sejak masuk ke wilayah Sungai Ngobo pada siang hari alat berat itu langsung dihadang para penambang pasir tradisional. Kemudian mengangkutnya dengan truk. Membawa ke kantor Pemkab Kediri.

Selain truk yang mengangkut ekskavator, para penambang tradisional mengiringi di belakang. Dengan menumpang puluhan truk pengangkut pasir. Konvoi truk itu beriringan hingga ke Katang, lokasi kantor pemkab. “Saya kurang tahu (berapa) jumlah truk (yang ikut), namun nanti akan datang lagi truk yang datang,” terangnya.

Baca Juga :  Warga Tuntut PT SAP Segera Realisasi Fasum

Hanya, karena datang sekitar pukul 18.00 WIB, kantor pemkab sudah tak beraktivitas. Gerbang pun sudah tutup. Massa pun akhirnya menggelar orasi di depan gerbang keluar yang ada di sisi barat.

Setelah melakukan orasi sekitar kurang lebih 30 menit, para penambang pasir ini akhirnya ditemui Kapolres Kediri AKBP Roni Faisal Saiful Fathon. Kemudian, kapolres meminta perwakilan pendemo untuk masuk ke area dalam kantor pemkab. Jumlahnya 20 orang. Terdiri dari perwakilan warga, penambang pasir, dan perangkat desa.

Dalam mediasi yang berlangsung hingga pukul 21.00 WIB tersebut, kapolres juga menghadirkan pemilik ekskavator. “Semuanya berjalan lancar, kami hanya ingin menuntut agar alat berat tidak masuk lagi ke daerah penambangan pasir,” imbuh Bagus saat selesai melakukan mediasi.

Bagus mengatakan, sudah enam kali warga dan penambang pasir Sungai Ngobo menolak datangnya alat tersebut.  Sebab, alat berat itu akan mengancam mata pencaharian warga sekitar yang kebanyakan sebagai penambang pasir tradisional.

Ia juga menambahkan, beberapa kali mereka diintimadisi oleh oknum aparat saat menolak kedatangan alat berat tersebut.

Baca Juga :  Warga Kediri Meninggal di Masjid saat Khotbah Jumat

Bagus menambahkan bahwa kedatangannya ke Kantor Pemkab Kediri hanya untuk menunjukkan bahwa warga dan penambang tidak takut ketika ditekan. “Datangnya ini spontanitas para penambang juga warga sekitar. Tidak ada suruhan dan tidak ada koordinator. Kami ingin buktikan bahwa kami tidak takut terhadap tekanan-tekanan yang datang dari pihak yang tidak bertanggung jawab,” tegasnya.

Sementara itu Kapolres Kediri AKBP Roni Faisal mengatakan, muara dari munculnya aksi ini berasal dari datangnya alat berat. Yang mencoba melakukan penambangan di daerah aliran Sungai Ngobo.

Roni menjelaskan bahwa kedatangannya adalah untuk mempertemukan pihak penambang pasir tradisional dengan pemilik alat berat. “Warga dan penambang menginginkan bahwa tidak boleh ada alat berat yang masuk ke wilayah tersebut. Dari pihak kepolisian akan terus mengawasi masuknya alat berat yang akan masuk ke daerah tersebut. Karena disinyalir akan menjadi pemicu gesekan lanjutan,” imbuhnya, sembari mengatakan bahwa persoalan sudah selesai di mediasi dan diselesaikan secara kekeluargaan.

- Advertisement -

KEDIRI KABUPATEN – Ratusan penambang pasir tradisional di aliran Sungai Ngobo, Desa Sepawon, Plosoklaten menggeruduk Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri tadi malam. Tujuannya, memprotes adanya alat berat yang akan melakukan penambangan di kawasan mereka.

Yang menarik, saat mendatangi kantor pemkab itu mereka membawa pula alat berat berupa ekskavator. Ekskavator itulah yang menjadi pemicu kemarahan para penambang pasir tradisional tersebut.

“Kalau di lokasi yang sama ada alat berat, penambang pasir tradisional bakal tersingkir,” kata Tubagus Fitra Jaya, salah seorang penambang pasir tradisional.

Menurut Bagus, ekskavator itu masuk ke area penambangan sekitar pukul 12.00 WIB.

Menurut Bagus, sejak masuk ke wilayah Sungai Ngobo pada siang hari alat berat itu langsung dihadang para penambang pasir tradisional. Kemudian mengangkutnya dengan truk. Membawa ke kantor Pemkab Kediri.

Selain truk yang mengangkut ekskavator, para penambang tradisional mengiringi di belakang. Dengan menumpang puluhan truk pengangkut pasir. Konvoi truk itu beriringan hingga ke Katang, lokasi kantor pemkab. “Saya kurang tahu (berapa) jumlah truk (yang ikut), namun nanti akan datang lagi truk yang datang,” terangnya.

Baca Juga :  Hakim Vonis Bebas Pembuang Bayi, Jaksa Siap Lakukan Perlawanan

Hanya, karena datang sekitar pukul 18.00 WIB, kantor pemkab sudah tak beraktivitas. Gerbang pun sudah tutup. Massa pun akhirnya menggelar orasi di depan gerbang keluar yang ada di sisi barat.

Setelah melakukan orasi sekitar kurang lebih 30 menit, para penambang pasir ini akhirnya ditemui Kapolres Kediri AKBP Roni Faisal Saiful Fathon. Kemudian, kapolres meminta perwakilan pendemo untuk masuk ke area dalam kantor pemkab. Jumlahnya 20 orang. Terdiri dari perwakilan warga, penambang pasir, dan perangkat desa.

Dalam mediasi yang berlangsung hingga pukul 21.00 WIB tersebut, kapolres juga menghadirkan pemilik ekskavator. “Semuanya berjalan lancar, kami hanya ingin menuntut agar alat berat tidak masuk lagi ke daerah penambangan pasir,” imbuh Bagus saat selesai melakukan mediasi.

Bagus mengatakan, sudah enam kali warga dan penambang pasir Sungai Ngobo menolak datangnya alat tersebut.  Sebab, alat berat itu akan mengancam mata pencaharian warga sekitar yang kebanyakan sebagai penambang pasir tradisional.

Ia juga menambahkan, beberapa kali mereka diintimadisi oleh oknum aparat saat menolak kedatangan alat berat tersebut.

Baca Juga :  Buat Petasan, Warga Adan-Adan Divonis Satu Tahun

Bagus menambahkan bahwa kedatangannya ke Kantor Pemkab Kediri hanya untuk menunjukkan bahwa warga dan penambang tidak takut ketika ditekan. “Datangnya ini spontanitas para penambang juga warga sekitar. Tidak ada suruhan dan tidak ada koordinator. Kami ingin buktikan bahwa kami tidak takut terhadap tekanan-tekanan yang datang dari pihak yang tidak bertanggung jawab,” tegasnya.

Sementara itu Kapolres Kediri AKBP Roni Faisal mengatakan, muara dari munculnya aksi ini berasal dari datangnya alat berat. Yang mencoba melakukan penambangan di daerah aliran Sungai Ngobo.

Roni menjelaskan bahwa kedatangannya adalah untuk mempertemukan pihak penambang pasir tradisional dengan pemilik alat berat. “Warga dan penambang menginginkan bahwa tidak boleh ada alat berat yang masuk ke wilayah tersebut. Dari pihak kepolisian akan terus mengawasi masuknya alat berat yang akan masuk ke daerah tersebut. Karena disinyalir akan menjadi pemicu gesekan lanjutan,” imbuhnya, sembari mengatakan bahwa persoalan sudah selesai di mediasi dan diselesaikan secara kekeluargaan.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/