26 C
Kediri
Tuesday, August 9, 2022

Tujuh Kasus Pencabulan selama September 2019

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Tindakan asusila pada korban yang masih di bawah umur relatif tinggi tahun ini. Hingga September ini tercatat telah terjadi 27 persetubuhan dan 9 kali pencabulan. Bila dirata-rata, tiap bulan terjadi 3 kasus persetubuhan melanggar hukum dan satu kali tindakan pencabulan.

Dan, kemungkinan besar angka sebenarnya masih di atas itu. Sebab, jumlah itu berdasarkan data di dinas sosial (dinsos) berdasarkan pelaporan oleh orang tua anak yang melakukan persetubuhan. Umumnya, pelapor adalah orang tua pihak perempuan yang tidak terima anaknya dengan tindakan itu.

“Kebanyakan pelaktu tindak persetubuhan dilakukan oleh orang-orang terdekat bila dibandingkan dengan orang asing,” terang Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Dyah Saktiana.

Berdasarkan data tersebut, mayoritas korban berasal dari keluarga broken home. Rata-rata orang tuanya bekerja ke luar negeri. Sehingga menitipkan pengasuhan sang anak pada kerabat dekat atau jauh.

Data dari dinsos tersebut tidak memisahkan antara persetubuhan dan pemerkosaan. Karena itu, dalam beberapa kasus, ada yang tersangka pemerkosaannya adalah pacar korban. Namun pihak orang tua membawa kasus itu ke ranah hukum karena faktor usia si perempuan yang masih di bawah umur.

Dalam kasus seperti itu, dinsos akan bekerja sama dengan Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3). Tidak hanya melakukan asesmen kepada korban saja. Juga melakukan tindakan serupa pada pihak keluarga. Dyah mengatkaan, meskipun kejadian serupa namun kondisi psikologis korban tidak sama.

Baca Juga :  Motor Tabrak Motor di Mrican, Tukang Bangunan Tewas

“Awalnya petugas melakukan pemeriksaan kondisi setelah kejadian tersebut,” imbuhnya.

Setelah dilakukan pemeriksaan, petugas akan mengentahui apa langkah selanjutnya yang harus dilakukan. Dalam kasus persetubuhan, hampir semuanya mengalami perubahan perilaku. Anak yang dulu terkenal ceria, kini menjadi pendiam dan tertutup. Bahkan ada juga, setelah kejadian tersebut dikucilkan oleh pihak keluarga.

“Karena melakukan hal tersebut dengan pacarnya, keluarga yang marah akhirnya mengucilkan anak tersebut,” tutur Nana. Berbeda dengan kasus perkosaan, sambung Dyah, mayoritas orang tua akan marah kepada pelaku. Bukan kepada anaknya yang menjadi korban.

Karena itu pihak dinsos perlu memberikan asesmen kepada pihak keluarga. Terutama pada kasus persetubuhan. Salah satunya dengan memberikan pengertian kepada orang tua bahwa apapun peristiwa itu telah terjadi. Orang tua diharapkan tidak terlalu menyalahkan sang anak. Karena sikap itu justru membuat sisi kejiwaan sang anak semakin terganggu. Dyah berharap kerja sama dengan pihak keluarga itu dapat membantu proses pemulihan mental sang anak.

Baca Juga :  Hanya Dituntut Dua Tahun Penjara

Masih menurut Dyah, penyebab terjadinya kasus persetubuhan remaja Kebanyakan karena kondisi kelurga yang broken home. Mereka umumnya ditinggal bekerja ke luar negeri. Juga karena orang tua yang terlalu percaya kepada anak. Sehingga terlalu membebaskan dan tidak ada kendali dalam pergaulan.

“Maka dari itu kami akan melakukan program penyuluhan kekerasan seksual kepada remaja di sekolah,” ungkap Nana.

Dengan program penyuluhan tersebut, dinsos berharap remaja dapat mengerti mengenai kekerasan seksual. Sehingga kejadian persetubuhan di luar pernikahan bisa ditekan.

Sementara, untuk kasus pencabulan, di September ini mengalami lonjakan tajam. Bulan ini telah terjadi 7 kasus pencabulan. Padahal, sejak Januari hingga saat ini total kejadian pencabulan ‘hanya’ sembilan kasus saja. Rata-rata korban pencabulan itu adalah anak-anak yang masih duduk di bangku TK dan sekolah dasar.

 

Kasus Persetubuhan dan Pencabulan

 

                             Persetubuhan       Pencabulan

Januari                 4 Kejadian            2 Kejadian

Februari               3 Kejadian            –

Maret                   2 Kejadian            –

April                              7 Kejadian            –

Mei                       –                            –

Juni                      8 Kejadian            –

Juli                       3 Kejadian            –

Agustus                –                            –

September            –                            7 Kejadian

 

Sumber : Dinsos Kabupaten Kediri

- Advertisement -

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Tindakan asusila pada korban yang masih di bawah umur relatif tinggi tahun ini. Hingga September ini tercatat telah terjadi 27 persetubuhan dan 9 kali pencabulan. Bila dirata-rata, tiap bulan terjadi 3 kasus persetubuhan melanggar hukum dan satu kali tindakan pencabulan.

Dan, kemungkinan besar angka sebenarnya masih di atas itu. Sebab, jumlah itu berdasarkan data di dinas sosial (dinsos) berdasarkan pelaporan oleh orang tua anak yang melakukan persetubuhan. Umumnya, pelapor adalah orang tua pihak perempuan yang tidak terima anaknya dengan tindakan itu.

“Kebanyakan pelaktu tindak persetubuhan dilakukan oleh orang-orang terdekat bila dibandingkan dengan orang asing,” terang Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Dyah Saktiana.

Berdasarkan data tersebut, mayoritas korban berasal dari keluarga broken home. Rata-rata orang tuanya bekerja ke luar negeri. Sehingga menitipkan pengasuhan sang anak pada kerabat dekat atau jauh.

Data dari dinsos tersebut tidak memisahkan antara persetubuhan dan pemerkosaan. Karena itu, dalam beberapa kasus, ada yang tersangka pemerkosaannya adalah pacar korban. Namun pihak orang tua membawa kasus itu ke ranah hukum karena faktor usia si perempuan yang masih di bawah umur.

Dalam kasus seperti itu, dinsos akan bekerja sama dengan Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3). Tidak hanya melakukan asesmen kepada korban saja. Juga melakukan tindakan serupa pada pihak keluarga. Dyah mengatkaan, meskipun kejadian serupa namun kondisi psikologis korban tidak sama.

Baca Juga :  Berlagak Salat, Curi Kotak Amal

“Awalnya petugas melakukan pemeriksaan kondisi setelah kejadian tersebut,” imbuhnya.

Setelah dilakukan pemeriksaan, petugas akan mengentahui apa langkah selanjutnya yang harus dilakukan. Dalam kasus persetubuhan, hampir semuanya mengalami perubahan perilaku. Anak yang dulu terkenal ceria, kini menjadi pendiam dan tertutup. Bahkan ada juga, setelah kejadian tersebut dikucilkan oleh pihak keluarga.

“Karena melakukan hal tersebut dengan pacarnya, keluarga yang marah akhirnya mengucilkan anak tersebut,” tutur Nana. Berbeda dengan kasus perkosaan, sambung Dyah, mayoritas orang tua akan marah kepada pelaku. Bukan kepada anaknya yang menjadi korban.

Karena itu pihak dinsos perlu memberikan asesmen kepada pihak keluarga. Terutama pada kasus persetubuhan. Salah satunya dengan memberikan pengertian kepada orang tua bahwa apapun peristiwa itu telah terjadi. Orang tua diharapkan tidak terlalu menyalahkan sang anak. Karena sikap itu justru membuat sisi kejiwaan sang anak semakin terganggu. Dyah berharap kerja sama dengan pihak keluarga itu dapat membantu proses pemulihan mental sang anak.

Baca Juga :  Kawul Akan Diperiksa sebagai Terdakwa

Masih menurut Dyah, penyebab terjadinya kasus persetubuhan remaja Kebanyakan karena kondisi kelurga yang broken home. Mereka umumnya ditinggal bekerja ke luar negeri. Juga karena orang tua yang terlalu percaya kepada anak. Sehingga terlalu membebaskan dan tidak ada kendali dalam pergaulan.

“Maka dari itu kami akan melakukan program penyuluhan kekerasan seksual kepada remaja di sekolah,” ungkap Nana.

Dengan program penyuluhan tersebut, dinsos berharap remaja dapat mengerti mengenai kekerasan seksual. Sehingga kejadian persetubuhan di luar pernikahan bisa ditekan.

Sementara, untuk kasus pencabulan, di September ini mengalami lonjakan tajam. Bulan ini telah terjadi 7 kasus pencabulan. Padahal, sejak Januari hingga saat ini total kejadian pencabulan ‘hanya’ sembilan kasus saja. Rata-rata korban pencabulan itu adalah anak-anak yang masih duduk di bangku TK dan sekolah dasar.

 

Kasus Persetubuhan dan Pencabulan

 

                             Persetubuhan       Pencabulan

Januari                 4 Kejadian            2 Kejadian

Februari               3 Kejadian            –

Maret                   2 Kejadian            –

April                              7 Kejadian            –

Mei                       –                            –

Juni                      8 Kejadian            –

Juli                       3 Kejadian            –

Agustus                –                            –

September            –                            7 Kejadian

 

Sumber : Dinsos Kabupaten Kediri

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/