23.7 C
Kediri
Sunday, June 26, 2022

Kasus PTSL Bendosari, Penggugat-Tergugat Damai

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Perkembangan menarik terjadi dalam kasus jual beli perangkat yang melibatkan Camat Grogol Suherman. Polisi akhirnya melakukan penahanan pada mantan camat Kras tersebut. Sementara, berkas kasus tersebut masih dikembalikan oleh kejaksaan karena dianggap belum lengkap.

Penahanan Suherman terjadi Kamis (17/9). Berjarak dua bulan sejak polisi menetapkan status tersangka padanya. Status tersangka disandang Camat Herman pada Kamis (16/7).

Penahanan itu ditegaskan oleh Kasatreskrim Polres Kediri AKP Gilang Akbar. “Setelah dua bulan dilakukan penyelidikan dan penyidikan dengan mengumpulkan keterangan serta barang bukti, tersangka harus kami tahan,” kata Gilang kemarin.

Dalam proses penahanan itu, polisi juga menerapkan protokol kesehatan (prokes). Yaitu me-rapid test terlebih dulu sang tersangka. Dalam rapid test tersebut Camat Herman diketahui menunjukkan hasil non-reaktif. Karena itulah proses penahanan pun berlanjut.

Menurut polisi penahanan tersebut untuk memudahkan proses penyidikan. Terutama untuk melengkapi berkas yang dibutuhkan.  Berkas-berkas itu yang akan dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Kediri. Pelimpahan berkas itu juga akan disertai dengan penyerahan Suherman ke kejaksaan.

“Setelah menyelesaikan pelengkapan berkas kami akan menyerahkan tersangka ke kejaksaan,” tegas Gilang.

Sebelumnya, polisi memang telah mengirimkan berkas penyidikan kasus ini ke kejaksaan. Namun masih dikembalikan lagi karena dianggap belum lengkap.

“Saat itu berkas masih P-19 (pengembalian berkas perkara untuk dilengkapi, Red). Kami belum tahu apakah sudah lengkap atau belum,” terang Kasi Pidana Umum (Pidum) Kejari Kabupaten Kediri Teguh Sukemi.

Baca Juga :  Menelisik Rumah ‘Ora Umum’ yang Lekat dengan Bisnis Q-Net (7)

Terkait kasus jual beli perangkat ini pihak kejari juga sudah menunjuk jaksa penuntu umum (JPU). Yang ditunjuk adalah jaksa Tommy Marwanto.

Kasus yang menjerat Camat Herman ini  terjadi pada 2016. Saat menjadi camat Kras, Suherman disebut mengumpulkan para kades ke pendapa kecamatan. Dalam kesempatan itu dia menyampaikan bahwa akan berlangsung pegisian perangkat yang kosong. Yaitu di Desa Kras, Desa Jambean, Desa Kanigoro, Desa Pelas, dan Desa Butuh.

Setelah itu dua kades menyetorkan sejumlah uang ke Suherman. Tujuannya untuk memuluskan jalan bagi peserta tes perangkat. Dua kades itu adalah Kades Kanigoro dan Kades Banjaranyar. Menurut polisi kades Kanigoro menyerahkan uang sebanyak Rp 120 juta.

Sedangkan kades Banjaranyar memberikan uang lebih banyak lagi. Yaitu Rp 600 juta. Hanya, uang itu menurut polisi sudah dikembalikan oleh tersangka.

“Masalah muncul ketika calon-calon yang memberi uang itu ternyata tak lulus dalam ujian perangkat desa yang digelar pada 2017 dan 2018 itu. Padahal uang sudah diberikan pada tersangka,” terang Gilang.

Sementara itu, perkembangan menarik juga terjadi dalam kasus dugaan pungli dalam program pendaftaran sistematis tanah lengkap (PTSL) di Desa Bendosari, Kecamatan Kras. Dalam kasus yang juga melibatkan Camat Suherman ini berakhir damai.

“Semua sudah setuju untuk berdamai. Tinggal mengajukan ke intel untuk mencabut laporan,” ujar Jatmiko Budi Prasetyo. Jatmiko adalah penasihat hukum para pelapor kasus tersebut yang menjadi tergugat dalam gugatan perdata yang dilayangkan Suherman dan Muji Damai, dua orang yang sebelumnya menjadi tersangka.

Baca Juga :  Bukan Petirtan Keluarga Raja

Kasus ini berawal setelah lima warga Desa Bendosari melaporkan kasus dugaan pungli dalam program PTSL ke polisi. Berdasarkan laporan itu polisi akhirnya menetapkan Suherman dan Muji, kades Bendosari, menjadi tersangka. Namun keduanya tak terima. Kemudian ganti menggugat para pelapor itu ke  Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri.

Gugatan perdata itu sudah melangsungkan sidang yang ketiga kalinya. Selasa (22/9) adalah sidang terakhir. Seluruh tergugat dan penggugat telah menyatakan damai.  Para tergugat akan mencabut laporannya ke polisi. (luk/fud)

Jejak Kasus Pengantar ke Penjara

–       Maret 2016, Suherman meminta uang ke Kades Kanigoro sebesar Rp 25 juta. Uang tersebut diserahkan secara tunai dan diterima langsung oleh tersangka

–       Juni 2016, Suherman kembali meminta uang ke kades tersebut sebesar Rp 50 juta dengan cara transfer antarbank

–       2017, tersangka kembali meminta uang kepada korban dengan jumlah yang sama yakni Rp 50 juta. Uang tersebut diserahkan secara tunai.

–       Pada tahun yang sama, ada penambahan desa yang menggelar pengisian perangkat. Saat itu Kades Banjaranyar dimintai uang senilai Rp 600 juta

–       Saat ujian perangkat, mereka yang memberikan uang tak lolos. Para kades yang sudah menyetor meminta pengembalian uang.

–       Juli 2020, para kades melapor ke polisi. Suherman ditetapkan sebagai tersangka

–       Kamis (17/9) Suherman telah ditahan di Mapolres Kediri.

 

- Advertisement -

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Perkembangan menarik terjadi dalam kasus jual beli perangkat yang melibatkan Camat Grogol Suherman. Polisi akhirnya melakukan penahanan pada mantan camat Kras tersebut. Sementara, berkas kasus tersebut masih dikembalikan oleh kejaksaan karena dianggap belum lengkap.

Penahanan Suherman terjadi Kamis (17/9). Berjarak dua bulan sejak polisi menetapkan status tersangka padanya. Status tersangka disandang Camat Herman pada Kamis (16/7).

Penahanan itu ditegaskan oleh Kasatreskrim Polres Kediri AKP Gilang Akbar. “Setelah dua bulan dilakukan penyelidikan dan penyidikan dengan mengumpulkan keterangan serta barang bukti, tersangka harus kami tahan,” kata Gilang kemarin.

Dalam proses penahanan itu, polisi juga menerapkan protokol kesehatan (prokes). Yaitu me-rapid test terlebih dulu sang tersangka. Dalam rapid test tersebut Camat Herman diketahui menunjukkan hasil non-reaktif. Karena itulah proses penahanan pun berlanjut.

Menurut polisi penahanan tersebut untuk memudahkan proses penyidikan. Terutama untuk melengkapi berkas yang dibutuhkan.  Berkas-berkas itu yang akan dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Kediri. Pelimpahan berkas itu juga akan disertai dengan penyerahan Suherman ke kejaksaan.

“Setelah menyelesaikan pelengkapan berkas kami akan menyerahkan tersangka ke kejaksaan,” tegas Gilang.

Sebelumnya, polisi memang telah mengirimkan berkas penyidikan kasus ini ke kejaksaan. Namun masih dikembalikan lagi karena dianggap belum lengkap.

“Saat itu berkas masih P-19 (pengembalian berkas perkara untuk dilengkapi, Red). Kami belum tahu apakah sudah lengkap atau belum,” terang Kasi Pidana Umum (Pidum) Kejari Kabupaten Kediri Teguh Sukemi.

Baca Juga :  Disemen, Arca Wanita Jadi Hiasan Taman

Terkait kasus jual beli perangkat ini pihak kejari juga sudah menunjuk jaksa penuntu umum (JPU). Yang ditunjuk adalah jaksa Tommy Marwanto.

Kasus yang menjerat Camat Herman ini  terjadi pada 2016. Saat menjadi camat Kras, Suherman disebut mengumpulkan para kades ke pendapa kecamatan. Dalam kesempatan itu dia menyampaikan bahwa akan berlangsung pegisian perangkat yang kosong. Yaitu di Desa Kras, Desa Jambean, Desa Kanigoro, Desa Pelas, dan Desa Butuh.

Setelah itu dua kades menyetorkan sejumlah uang ke Suherman. Tujuannya untuk memuluskan jalan bagi peserta tes perangkat. Dua kades itu adalah Kades Kanigoro dan Kades Banjaranyar. Menurut polisi kades Kanigoro menyerahkan uang sebanyak Rp 120 juta.

Sedangkan kades Banjaranyar memberikan uang lebih banyak lagi. Yaitu Rp 600 juta. Hanya, uang itu menurut polisi sudah dikembalikan oleh tersangka.

“Masalah muncul ketika calon-calon yang memberi uang itu ternyata tak lulus dalam ujian perangkat desa yang digelar pada 2017 dan 2018 itu. Padahal uang sudah diberikan pada tersangka,” terang Gilang.

Sementara itu, perkembangan menarik juga terjadi dalam kasus dugaan pungli dalam program pendaftaran sistematis tanah lengkap (PTSL) di Desa Bendosari, Kecamatan Kras. Dalam kasus yang juga melibatkan Camat Suherman ini berakhir damai.

“Semua sudah setuju untuk berdamai. Tinggal mengajukan ke intel untuk mencabut laporan,” ujar Jatmiko Budi Prasetyo. Jatmiko adalah penasihat hukum para pelapor kasus tersebut yang menjadi tergugat dalam gugatan perdata yang dilayangkan Suherman dan Muji Damai, dua orang yang sebelumnya menjadi tersangka.

Baca Juga :  Necis tapi Mambu Amis

Kasus ini berawal setelah lima warga Desa Bendosari melaporkan kasus dugaan pungli dalam program PTSL ke polisi. Berdasarkan laporan itu polisi akhirnya menetapkan Suherman dan Muji, kades Bendosari, menjadi tersangka. Namun keduanya tak terima. Kemudian ganti menggugat para pelapor itu ke  Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri.

Gugatan perdata itu sudah melangsungkan sidang yang ketiga kalinya. Selasa (22/9) adalah sidang terakhir. Seluruh tergugat dan penggugat telah menyatakan damai.  Para tergugat akan mencabut laporannya ke polisi. (luk/fud)

Jejak Kasus Pengantar ke Penjara

–       Maret 2016, Suherman meminta uang ke Kades Kanigoro sebesar Rp 25 juta. Uang tersebut diserahkan secara tunai dan diterima langsung oleh tersangka

–       Juni 2016, Suherman kembali meminta uang ke kades tersebut sebesar Rp 50 juta dengan cara transfer antarbank

–       2017, tersangka kembali meminta uang kepada korban dengan jumlah yang sama yakni Rp 50 juta. Uang tersebut diserahkan secara tunai.

–       Pada tahun yang sama, ada penambahan desa yang menggelar pengisian perangkat. Saat itu Kades Banjaranyar dimintai uang senilai Rp 600 juta

–       Saat ujian perangkat, mereka yang memberikan uang tak lolos. Para kades yang sudah menyetor meminta pengembalian uang.

–       Juli 2020, para kades melapor ke polisi. Suherman ditetapkan sebagai tersangka

–       Kamis (17/9) Suherman telah ditahan di Mapolres Kediri.

 

Artikel Terkait

Most Read

Megengan Pandemi

Sembadra Karya


Artikel Terbaru

/