27.2 C
Kediri
Monday, July 4, 2022

Bawa Gadis 15 Tahun Masuk Hotel, Si Predator Jadi Tersangka

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Polisi membawa kasus pencabulan di salah satu hotel di Kabupaten Kediri ke level lebih tinggi. Pria yang berada satu kamar dengan CC-gadis asal Kecamatan Gampengrejo yang masih berusia 15 tahun-ditetapkan sebagai tersangka. Predator anak berinisial ORC, asal Jakarta, itu akan dijerat dengan pasal dalam Undang-Undang Perlindungan Anak. 

“Sudah (tersangka),” kata Kapolres Kediri AKBP Lukman Cahyono ketika ditanya perihal status ORC kemarin (23/8).

Sebenarnya, sempat tersiar kabar bahwa polisi akan merilis kasus ini kemarin. Namun, ternyata rilis ditunda. “Secepatnya (rilis kasusnya), mungkin besok (hari ini, Red),” imbuh Lukman.

Penyidik, menurut kapolres, sudah menemukan titik terang pada pelanggaran  yang dilakukan ORC. Pasal yang akan digunakan adalah pasal dari Undang-Undang RI nomor 17/2016 tentang perlindungan anak. Tepatnya pasal 82 ayat 1 junto pasal 76E. 

Pada pasal ini, ancaman hukumannya tak hanya penjara. Tapi juga ada denda yang nilainya miliaran rupiah. Untuk hukuman penjaranya maksimal adalah 15 tahun penjara. Sedangkan dendanya mencapai Rp 5 miliar.

Bagaimana dengan CC, sang korban? Ketika kasusnya sudah masuk ke penyidikan dan posisi ORC ada di tahanan polisi, gadis ini telah berada di selter dinas sosial (dinsos) sejak Minggu (22/8). 

“Alhamdulillah, sikap anaknya mulai kemarin sore (22/8, Red) sudah kondusif,” aku Kabid Rehabilitasi Sosial Dinsos Kabupaten Kediri Dyah Saktiana.

Baca Juga :  Siswa SMPN Gondang Tewas Terlindas Truk

Sebelum dibawa ke selter, CC menunjukkan sikap perlawanan. Dia rewel dan enggan pergi ke rumah aman itu. Petugas dinsos pun harus lebih dulu membujuk sebelum akhirnya bisa membawanya. 

Selama di selter CC masih bisa dikunjungi oleh orang tuanya. Namun dia tak boleh memegang gawai sama sekali. Gadis belia ini juga harus mengikuti semua kegiatan yang ada di selter.

Sementara itu, tindakan asusila yang dilakukan ORC kepada CC dianggap sebagai pelanggaran hukum berat. Terutama terkait dengan upaya perlindungan anak Indonesia. Karena itu, pemerhati masalah anak meminta agar pelaku dihukum setimpal.

“Untuk pasal nanti akan ditentukan tim penyidik,” kata Heri Nurdianto dari Yayasan Lembaga Perlindungan Anak (YLPA)  Kediri. 

Pria yang duduk di bidang advokasi dan pendampingan anak berhadapah dengan hukum (ABH) ini menegaskan, hukuman untuk pelanggaran perlindungan anak di bawah umur minimal lima tahun penjara. Sedangkan hukuman maksimalnya 15 tahun.

Heri berharap agar proses hukum bisa berlangsung dengan transparan. Agar publik bisa mengakses dan mengetahui pengembangan penanganan kasus.

Dia juga mengatakan, pihaknya punya atensi besar pada masalah seperti ini. Sebab, kasus-kasus seperti ini sebenarnya sudah mulai banyak terjadi.  “Sebenarnya fenomena seperti ini, tujuh sampai delapan tahun ini, marak berbagai kota,” imbuhnya.

Baca Juga :  Kasus Pembunuhan Gadis Bandung di Kediri: Berkas Sudah P-21

Kejadian tersebut pernah terjadi di Kediri Kota pada 2015. Kasusnya melibatkan seorang pengusaha. Heri meyakini banyak kasus sama yang belum terbongkar. 

“Kalau kasus prostitusi anak yang terjadi ini diungkapkan, proses penyelidikannya akan bertambah,” kata Heri.

Diberitakan sebelumnya, CC dan ORC digerebek di sebuah hotel yang berada di Kecamatan Ngasem Jumat (20/8) lalu. Kedua insan yang berbeda usia puluhan tahun ini sudah menjalin hubungan selama lima bulan. Mereka berkenalan melalui media sosial Facebook. Selain diajak jalan-jalan, CC sudah pernah tiga kali mendapatkan transfer uang dari ORC. (ara/fud)

 

 

Menjerat Predator Anak 

Polisi menggunakan pasal dari UU Perlindungan anak. Tepatnya pasal 82 ayat (1) jo pasal 76E UU RI nomor 17 tahun 2016 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti UU No 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. 

Pasal 76E berbunyi bahwa setiap orang dilarang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul.

Pasal 82 perppu 1/2016 setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76E dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 tahun. Juga denda paling banyak Rp 5 miliar. 

- Advertisement -

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Polisi membawa kasus pencabulan di salah satu hotel di Kabupaten Kediri ke level lebih tinggi. Pria yang berada satu kamar dengan CC-gadis asal Kecamatan Gampengrejo yang masih berusia 15 tahun-ditetapkan sebagai tersangka. Predator anak berinisial ORC, asal Jakarta, itu akan dijerat dengan pasal dalam Undang-Undang Perlindungan Anak. 

“Sudah (tersangka),” kata Kapolres Kediri AKBP Lukman Cahyono ketika ditanya perihal status ORC kemarin (23/8).

Sebenarnya, sempat tersiar kabar bahwa polisi akan merilis kasus ini kemarin. Namun, ternyata rilis ditunda. “Secepatnya (rilis kasusnya), mungkin besok (hari ini, Red),” imbuh Lukman.

Penyidik, menurut kapolres, sudah menemukan titik terang pada pelanggaran  yang dilakukan ORC. Pasal yang akan digunakan adalah pasal dari Undang-Undang RI nomor 17/2016 tentang perlindungan anak. Tepatnya pasal 82 ayat 1 junto pasal 76E. 

Pada pasal ini, ancaman hukumannya tak hanya penjara. Tapi juga ada denda yang nilainya miliaran rupiah. Untuk hukuman penjaranya maksimal adalah 15 tahun penjara. Sedangkan dendanya mencapai Rp 5 miliar.

Bagaimana dengan CC, sang korban? Ketika kasusnya sudah masuk ke penyidikan dan posisi ORC ada di tahanan polisi, gadis ini telah berada di selter dinas sosial (dinsos) sejak Minggu (22/8). 

“Alhamdulillah, sikap anaknya mulai kemarin sore (22/8, Red) sudah kondusif,” aku Kabid Rehabilitasi Sosial Dinsos Kabupaten Kediri Dyah Saktiana.

Baca Juga :  Novi Makin Ngotot Minta Keluar Rutan

Sebelum dibawa ke selter, CC menunjukkan sikap perlawanan. Dia rewel dan enggan pergi ke rumah aman itu. Petugas dinsos pun harus lebih dulu membujuk sebelum akhirnya bisa membawanya. 

Selama di selter CC masih bisa dikunjungi oleh orang tuanya. Namun dia tak boleh memegang gawai sama sekali. Gadis belia ini juga harus mengikuti semua kegiatan yang ada di selter.

Sementara itu, tindakan asusila yang dilakukan ORC kepada CC dianggap sebagai pelanggaran hukum berat. Terutama terkait dengan upaya perlindungan anak Indonesia. Karena itu, pemerhati masalah anak meminta agar pelaku dihukum setimpal.

“Untuk pasal nanti akan ditentukan tim penyidik,” kata Heri Nurdianto dari Yayasan Lembaga Perlindungan Anak (YLPA)  Kediri. 

Pria yang duduk di bidang advokasi dan pendampingan anak berhadapah dengan hukum (ABH) ini menegaskan, hukuman untuk pelanggaran perlindungan anak di bawah umur minimal lima tahun penjara. Sedangkan hukuman maksimalnya 15 tahun.

Heri berharap agar proses hukum bisa berlangsung dengan transparan. Agar publik bisa mengakses dan mengetahui pengembangan penanganan kasus.

Dia juga mengatakan, pihaknya punya atensi besar pada masalah seperti ini. Sebab, kasus-kasus seperti ini sebenarnya sudah mulai banyak terjadi.  “Sebenarnya fenomena seperti ini, tujuh sampai delapan tahun ini, marak berbagai kota,” imbuhnya.

Baca Juga :  Ketika Sekolah Jadi Ladang Subur Peredaran Narkoba

Kejadian tersebut pernah terjadi di Kediri Kota pada 2015. Kasusnya melibatkan seorang pengusaha. Heri meyakini banyak kasus sama yang belum terbongkar. 

“Kalau kasus prostitusi anak yang terjadi ini diungkapkan, proses penyelidikannya akan bertambah,” kata Heri.

Diberitakan sebelumnya, CC dan ORC digerebek di sebuah hotel yang berada di Kecamatan Ngasem Jumat (20/8) lalu. Kedua insan yang berbeda usia puluhan tahun ini sudah menjalin hubungan selama lima bulan. Mereka berkenalan melalui media sosial Facebook. Selain diajak jalan-jalan, CC sudah pernah tiga kali mendapatkan transfer uang dari ORC. (ara/fud)

 

 

Menjerat Predator Anak 

Polisi menggunakan pasal dari UU Perlindungan anak. Tepatnya pasal 82 ayat (1) jo pasal 76E UU RI nomor 17 tahun 2016 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti UU No 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. 

Pasal 76E berbunyi bahwa setiap orang dilarang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul.

Pasal 82 perppu 1/2016 setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76E dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 tahun. Juga denda paling banyak Rp 5 miliar. 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/