24.4 C
Kediri
Saturday, October 1, 2022

JPU Tuntut Pemilik Petasan 7 Bulan 

- Advertisement -

NGASEM, JP Radar Kediri– Jaksa penuntut umum (JPU) menuntut Fandi Satriawan,  40, terdakwa kasus ledakan petasan, tujuh bulan penjara. Tuntutan hukuman laki-laki asal Desa Blaru, Kecamatan Badas ini dibacakan dalam persidangan daring di ruang Kartika Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Kediri kemarin.

“Perbuatan terdakwa ini terbukti secara sah telah menguasai amunisi bahan peledak,” terang JPU Ferry Dewantoro di hadapan majelis hakim.

Perbuatan Fandi dianggap telah melanggar pasal 1 ayat 1 UU Darurat RI Nomor 12/1951 tentang mengubah ordonnantie tijdelijke bijzondere strafbepalingen (STBL 1948 Nomor 17) dan Undang-Undang Republik Indonesia dahulu Nomor 8 tahun 1948.

Sebelum membacakan tuntutan, Ferry menjelaskan, apa saja yang menjadi pertimbangan hukumnya. Adapun hal yang memberatkan, perbuatan Fandi meresahkan masyarakat. Sedangkan yang meringankan, Fandi telah melakukan kesepakatan damai dengan korban dan menyesali perbuatannya.

Baca Juga :  Melaju Zig-zag, Mobil Ayla Terguling di Ngasem

Dalam surat dakwaan jaksa disebutkan, kasus terjadi pada 29 April 2022 . Sebelum itu, pada Maret Fandi membeli serbuk petasan seberat dua kilogram (kg), satu kilogram potasium, satu kilogram brone dan sumbu petasan dengan panjang 10 meter melalui toko online.

- Advertisement -

Lalu, pada 27 April 2022 di rumah saksi, Wahyu Dwi Wibowo, di Desa Blaru, Kecamatan Badas, Fandi membuat petasan. Dia mencampur bahan potasium dan brone dengan bubuk belerang yang dibeli dari toko material.

Kemudian, pada Jumat 29 April sekira pukul 16.30 di rumah Wahyu, Fandi mengajak, AS, Wahyu Nur Cahyo, Munawir Afandi, Ardyanto, dan Berlian Arif Maulana membuat petasan. Jumlah yang berhasil dibuat 400 biji.

Baca Juga :  Jadi Saksi, Ibu Korban Mutilasi di Kediri Menangis

Setelah selesai, Berlian yang sedang belajar membuat petasan memicu kecelakaan. Muncul percikan api yang menyebabkan ledakan. Akibatnya, Wahyu, Munawir, Ardyanto tidak dapat keluar dan mengalami luka bakar. Sedangkan  Berlian berhasil menyelamatkan diri.

Dalam kejadian ini, Fendi dan Wahyu terpental hingga tidak sadarkan diri. Ledakan petasan itu membuat bangunan rumah Wahyu mengalami kerusakan.






Reporter: Habibaham Anisa Muktiara
- Advertisement -

NGASEM, JP Radar Kediri– Jaksa penuntut umum (JPU) menuntut Fandi Satriawan,  40, terdakwa kasus ledakan petasan, tujuh bulan penjara. Tuntutan hukuman laki-laki asal Desa Blaru, Kecamatan Badas ini dibacakan dalam persidangan daring di ruang Kartika Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Kediri kemarin.

“Perbuatan terdakwa ini terbukti secara sah telah menguasai amunisi bahan peledak,” terang JPU Ferry Dewantoro di hadapan majelis hakim.

Perbuatan Fandi dianggap telah melanggar pasal 1 ayat 1 UU Darurat RI Nomor 12/1951 tentang mengubah ordonnantie tijdelijke bijzondere strafbepalingen (STBL 1948 Nomor 17) dan Undang-Undang Republik Indonesia dahulu Nomor 8 tahun 1948.

Sebelum membacakan tuntutan, Ferry menjelaskan, apa saja yang menjadi pertimbangan hukumnya. Adapun hal yang memberatkan, perbuatan Fandi meresahkan masyarakat. Sedangkan yang meringankan, Fandi telah melakukan kesepakatan damai dengan korban dan menyesali perbuatannya.

Baca Juga :  Seminggu, Enam Pelajar Alami Kecelakaan

Dalam surat dakwaan jaksa disebutkan, kasus terjadi pada 29 April 2022 . Sebelum itu, pada Maret Fandi membeli serbuk petasan seberat dua kilogram (kg), satu kilogram potasium, satu kilogram brone dan sumbu petasan dengan panjang 10 meter melalui toko online.

Lalu, pada 27 April 2022 di rumah saksi, Wahyu Dwi Wibowo, di Desa Blaru, Kecamatan Badas, Fandi membuat petasan. Dia mencampur bahan potasium dan brone dengan bubuk belerang yang dibeli dari toko material.

Kemudian, pada Jumat 29 April sekira pukul 16.30 di rumah Wahyu, Fandi mengajak, AS, Wahyu Nur Cahyo, Munawir Afandi, Ardyanto, dan Berlian Arif Maulana membuat petasan. Jumlah yang berhasil dibuat 400 biji.

Baca Juga :  Bukti Cukup, Polisi Tetapkan SF Jadi Tersangka Pencabulan Anaknya

Setelah selesai, Berlian yang sedang belajar membuat petasan memicu kecelakaan. Muncul percikan api yang menyebabkan ledakan. Akibatnya, Wahyu, Munawir, Ardyanto tidak dapat keluar dan mengalami luka bakar. Sedangkan  Berlian berhasil menyelamatkan diri.

Dalam kejadian ini, Fendi dan Wahyu terpental hingga tidak sadarkan diri. Ledakan petasan itu membuat bangunan rumah Wahyu mengalami kerusakan.






Reporter: Habibaham Anisa Muktiara

Artikel Terkait

Most Read

Ampas Kopi Itu Bisa Jadi Uang

Megengan Pandemi

Tiga Makam di Puncak Bukit Maskumambang


Artikel Terbaru

/