25 C
Kediri
Thursday, July 7, 2022

Bunuh Bayi, Mahasiswi asal Ngadiluwih Dituntut 9 Tahun Penjara

NGASEM, JP Radar Kediri– Nia Nur Fadilah, 23, terdakwa kasus pembunuhan bayinya, dituntut sembilan tahun penjara. Perempuan asal Dusun Ngreco, Desa Rembang, Ngadiluwih ini juga disanksi denda Rp 100 juta. Bila tidak bisa membayar, hukumannya ditambah tiga bulan kurungan.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Aji Rahmadi menyatakan, perbuatan Nia melanggar pasal 80 ayat 4 juncto pasal 76c UU Nomor 35/2014 tentang Perlindungan Anak.

Dalam tuntutannya, Aji membacakan pertimbangan yang memberatkan terdakwa. Yakni, akibat perbuatan Nia menyebabkan bayi yang baru dilahirkannya meninggal. Sedangkan yang meringankan, mahasiswi ini bersikap sopan dan berterus terang. “Usia terdakwa masih muda untuk memperbaiki perbuatannya,” ujarnya dalam persidangan di ruang Kartika Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Kediri kemarin.

Baca Juga :  Percobaan Pembunuhan di Xenia: Ririn Ngotot Membela Diri

Setelah pembacaan tuntutan, ketua majelis hakim Bob Rosman memberi kesempatan Nia menanggapi. Dari video zoom di layar komputer ruang Kartika yang terhubung dengan Lapas Kelas IIA Kediri, Nia meminta keringanan hukuman. Alasannya, karena masih ada orang tua untuk dirawat. Selain itu, ia merasa menyesal dengan perbuatannya.

“Bagaimana tanggapan jaksa atas permintaan terdakwa?” tanya Bob pada Aji. Jaksa asal Boyolali, Jawa Tengah ini menyatakan tetap pada tuntutannya.

Selanjutnya, sidang putusan yang akan dipimpin Bob didampingi hakim Adhika B. Prasetyo dan Sri Haryanto dijadwalkan usai Lebaran. “Sidang agenda putusan akan dibacakan setelah hari raya, Rabu (11/5),” tutup Bob.

Kasus pembunuhan bayi itu terjadi 30 September 2021. Kala itu, Bayu, kekasih Nia, mendapat pesan Whatsapp dari Nia yang melahirkan bayinya. Nia mengaku, bayi terbentur ketika dilahirkan sehingga meninggal. Pesan baru dibaca Bayu pukul 08.00. Karena masih jam kerja, ia baru dapat menemui kekasihnya sekitar pukul 10.00.

Baca Juga :  Bincang Jumat Radar Kediri TV bareng Ahmad Zuhri

Pada jam istirahat tersebut, Bayu pulang. Ternyata di rumah sudah ada Nia. Nia mengatakan meletakkan bayinya di kamar mandi. Karena takut Bayu tidak berani masuk kamar mandi. Dia lalu kembali bekerja. Sepulang kerja barulah Bayu minta tolong tetangganya untuk menguburkan bayi. Karena kondisi jenazah yang tidak wajar, kejadian tersebut dilaporkan ke Polsek Ngasem. (ara/ndr)

 

 

 

 

- Advertisement -

NGASEM, JP Radar Kediri– Nia Nur Fadilah, 23, terdakwa kasus pembunuhan bayinya, dituntut sembilan tahun penjara. Perempuan asal Dusun Ngreco, Desa Rembang, Ngadiluwih ini juga disanksi denda Rp 100 juta. Bila tidak bisa membayar, hukumannya ditambah tiga bulan kurungan.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Aji Rahmadi menyatakan, perbuatan Nia melanggar pasal 80 ayat 4 juncto pasal 76c UU Nomor 35/2014 tentang Perlindungan Anak.

Dalam tuntutannya, Aji membacakan pertimbangan yang memberatkan terdakwa. Yakni, akibat perbuatan Nia menyebabkan bayi yang baru dilahirkannya meninggal. Sedangkan yang meringankan, mahasiswi ini bersikap sopan dan berterus terang. “Usia terdakwa masih muda untuk memperbaiki perbuatannya,” ujarnya dalam persidangan di ruang Kartika Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Kediri kemarin.

Baca Juga :  Tilang 12 Pengendara Melanggar Lalu Lintas di Tamanan

Setelah pembacaan tuntutan, ketua majelis hakim Bob Rosman memberi kesempatan Nia menanggapi. Dari video zoom di layar komputer ruang Kartika yang terhubung dengan Lapas Kelas IIA Kediri, Nia meminta keringanan hukuman. Alasannya, karena masih ada orang tua untuk dirawat. Selain itu, ia merasa menyesal dengan perbuatannya.

“Bagaimana tanggapan jaksa atas permintaan terdakwa?” tanya Bob pada Aji. Jaksa asal Boyolali, Jawa Tengah ini menyatakan tetap pada tuntutannya.

Selanjutnya, sidang putusan yang akan dipimpin Bob didampingi hakim Adhika B. Prasetyo dan Sri Haryanto dijadwalkan usai Lebaran. “Sidang agenda putusan akan dibacakan setelah hari raya, Rabu (11/5),” tutup Bob.

Kasus pembunuhan bayi itu terjadi 30 September 2021. Kala itu, Bayu, kekasih Nia, mendapat pesan Whatsapp dari Nia yang melahirkan bayinya. Nia mengaku, bayi terbentur ketika dilahirkan sehingga meninggal. Pesan baru dibaca Bayu pukul 08.00. Karena masih jam kerja, ia baru dapat menemui kekasihnya sekitar pukul 10.00.

Baca Juga :  Persidangan Online di Nganjuk: Lebih Susah Menilai Terdakwa atau Saksi

Pada jam istirahat tersebut, Bayu pulang. Ternyata di rumah sudah ada Nia. Nia mengatakan meletakkan bayinya di kamar mandi. Karena takut Bayu tidak berani masuk kamar mandi. Dia lalu kembali bekerja. Sepulang kerja barulah Bayu minta tolong tetangganya untuk menguburkan bayi. Karena kondisi jenazah yang tidak wajar, kejadian tersebut dilaporkan ke Polsek Ngasem. (ara/ndr)

 

 

 

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/