29.6 C
Kediri
Friday, July 1, 2022

Menantu Rasa Pembantu

Baru menikah dengan Sudrun sebulan, Mbok Ndewor sudah shock berat. Tabiat asli suaminya keluar tanpa tedeng aling-aling. Sifatnya yang sok merintah dan semaunya sendiri keluar. Ditambah lagi emosinya gampang memuncak. Mudah marah-marah.

Padahal, semua kelakuan buruk itu tak pernah terlihat selama pacaran. Dan, masa pacaran mereka tak sebentar. Masa penjajakan itu mereka lewati selama tiga tahun, peh!

Sikap otoriter Sudrun bukan tanpa sebab. Kebiasaan hidupnya yang selalu dimanja oleh orang tuanya menjadi faktor pendukung. Selama ini, apapun yang diminta Sudrun selalu keturutan. Sifat itu merembet ke istrinya. Selalu nyuruh-nyuruh dengan kasar.

“Nang ngarepe bojoku, aku iki jiaan kayak pembantu,” gerutu Mbok Ndewor.

Perempuan 25 tahun ini kemudian menceritakan, suatu saat Sudrun memintanya mengambilkan minuman. Permintaan itu sudah dituruti, eh, tetap saja suaminya itu marah-marah.

“Kalau lama sedikit saja aku sudah diumpat gak karuan,” keluhnya.

Sering pula dia disuruh membeli pulsa. Padahal, saat itu sudah malam hari.

Baca Juga :  Dewan Desak Pemkot Kediri Selesaikan Lahan Semampir

“Padahal dia nggak nyapo-nyapo. Kok mentalae wong wedok dikon metu bengi-bengi,” lanjut Mbok Ndewor.

Ironisnya, kedua mertuanya tak bereaksi melihat sikap anaknya yang kebangeten. Padahal, sejak menikah Mbok Ndewor sudah diajak Sudrun tinggal di PMI, alias pondok mertua indah, he he he. Sebaliknya, karena hidup dekat mamanya, Sudrun kian bermanja-manja ria saja. Berbeda sikap kepada istrinya yang sering main bentak.

Sampai suatu waktu, kesabaran Mbok Ndewor sudah habis-bis. Tak tersisa lagi untuk suami (yang bukan) tercinta itu. Tak sekadar menyuruh, suaminya juga melakukan kekerasan dalam rumah tangga alias kadeerte.

“Aku dilempar gelas dan dipukuli hanya karena nggak mau mengambilkan dia minum. Hayo, apa gak gendeng wong lanang kayak gitu,” kata Mbok Ndewor dengan nada tinggi.

Kejadian itulah yang membulatkannya menempuh jalan pungkasan. Njaluk pegat! “Mumpung aku durung duwe anak. Tinimbang mengko anakku dadi sasaran kegilaan dia,” terusnya.

Baca Juga :  Kejari Kota Kediri Dalami Pengalihan Pengadaan Barang ke Supplier

Beda Mbok Ndewor, beda lagi Sudrun. Warga Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri itu ogah ditinggal istrinya. Alasannya, dia sudah cintrong sekonyong koder. “Wong pacaranku wae telung tahun, pas kuliah bareng. Mosok saiki kudu pegatan?” kilahnya.

Sudrun justru menyalahkan Mbok Ndewor. Ditudingnya istrinya itu hanya cari-cari alasan dengan menuduhnya gampang mara tangan.

“Dia minta pegat bukan merga aku manja atau tukang suruh. Paling deke wis gak seneng dan pingin nikah ambek wong liya,” tudingnya.

Sudrun berdalih, selama menikah dia tak pernah menyuruh-nyuruh. Justru istrinya itu yang menawarkan diri. Sampai-sampai, pembantu rumah tak diberdayakan.

“Ada istri yang mau disuruh-suruh, buat apalagi pembantu?” ucap pegawai bank swasta di Kota Kediri ini.

Peh, ruwet kalau begini. Soal siapa yang benar, tanya saja pada rumput yang bergoyang, eh, tunggu saja putusan pengadilan. (ica/fud)

- Advertisement -

Baru menikah dengan Sudrun sebulan, Mbok Ndewor sudah shock berat. Tabiat asli suaminya keluar tanpa tedeng aling-aling. Sifatnya yang sok merintah dan semaunya sendiri keluar. Ditambah lagi emosinya gampang memuncak. Mudah marah-marah.

Padahal, semua kelakuan buruk itu tak pernah terlihat selama pacaran. Dan, masa pacaran mereka tak sebentar. Masa penjajakan itu mereka lewati selama tiga tahun, peh!

Sikap otoriter Sudrun bukan tanpa sebab. Kebiasaan hidupnya yang selalu dimanja oleh orang tuanya menjadi faktor pendukung. Selama ini, apapun yang diminta Sudrun selalu keturutan. Sifat itu merembet ke istrinya. Selalu nyuruh-nyuruh dengan kasar.

“Nang ngarepe bojoku, aku iki jiaan kayak pembantu,” gerutu Mbok Ndewor.

Perempuan 25 tahun ini kemudian menceritakan, suatu saat Sudrun memintanya mengambilkan minuman. Permintaan itu sudah dituruti, eh, tetap saja suaminya itu marah-marah.

“Kalau lama sedikit saja aku sudah diumpat gak karuan,” keluhnya.

Sering pula dia disuruh membeli pulsa. Padahal, saat itu sudah malam hari.

Baca Juga :  Ketika Ibu-ibu di Kelurahan Ngronggo Gandrung dengan Gamelan

“Padahal dia nggak nyapo-nyapo. Kok mentalae wong wedok dikon metu bengi-bengi,” lanjut Mbok Ndewor.

Ironisnya, kedua mertuanya tak bereaksi melihat sikap anaknya yang kebangeten. Padahal, sejak menikah Mbok Ndewor sudah diajak Sudrun tinggal di PMI, alias pondok mertua indah, he he he. Sebaliknya, karena hidup dekat mamanya, Sudrun kian bermanja-manja ria saja. Berbeda sikap kepada istrinya yang sering main bentak.

Sampai suatu waktu, kesabaran Mbok Ndewor sudah habis-bis. Tak tersisa lagi untuk suami (yang bukan) tercinta itu. Tak sekadar menyuruh, suaminya juga melakukan kekerasan dalam rumah tangga alias kadeerte.

“Aku dilempar gelas dan dipukuli hanya karena nggak mau mengambilkan dia minum. Hayo, apa gak gendeng wong lanang kayak gitu,” kata Mbok Ndewor dengan nada tinggi.

Kejadian itulah yang membulatkannya menempuh jalan pungkasan. Njaluk pegat! “Mumpung aku durung duwe anak. Tinimbang mengko anakku dadi sasaran kegilaan dia,” terusnya.

Baca Juga :  Tungku Oven Bocor, Pabrik Piner Hangus Terbakar

Beda Mbok Ndewor, beda lagi Sudrun. Warga Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri itu ogah ditinggal istrinya. Alasannya, dia sudah cintrong sekonyong koder. “Wong pacaranku wae telung tahun, pas kuliah bareng. Mosok saiki kudu pegatan?” kilahnya.

Sudrun justru menyalahkan Mbok Ndewor. Ditudingnya istrinya itu hanya cari-cari alasan dengan menuduhnya gampang mara tangan.

“Dia minta pegat bukan merga aku manja atau tukang suruh. Paling deke wis gak seneng dan pingin nikah ambek wong liya,” tudingnya.

Sudrun berdalih, selama menikah dia tak pernah menyuruh-nyuruh. Justru istrinya itu yang menawarkan diri. Sampai-sampai, pembantu rumah tak diberdayakan.

“Ada istri yang mau disuruh-suruh, buat apalagi pembantu?” ucap pegawai bank swasta di Kota Kediri ini.

Peh, ruwet kalau begini. Soal siapa yang benar, tanya saja pada rumput yang bergoyang, eh, tunggu saja putusan pengadilan. (ica/fud)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/