30.2 C
Kediri
Tuesday, August 9, 2022

Polresta Segera Limpahkan Kasus Gotri ke Kejaksaan

KEDIRI KOTA – Kendati kasus penusukan yang mengakibatkan Yanti Pusporini, 38, tewas sudah mendekati titik terang, police line di tempat kejadian perkara (TKP) masih terlintang. Hingga kemarin, polisi masih belum melepasnya.

Rumah Rini–panggilan Yanti Pusporini –di Dusun Geneng, Desa Maron, Kecamatan Banyakan itu pun kosong. Kediaman tersebut ditinggalkan penghuninya sejak Kamis (10/8) silam dan kemarin kondisinya masih sama. Garis polisi tampak melintang di depan pintu samping sampai seluruh rumah.

Kasatreskrim Polres Kediri Kota AKP Ridwan Sahara mengatakan, untuk melepas police line TKP hanya perkara waktu. “Ya memang belum dicopot saja,” terangnya.

Menurut Ridwan, pihaknya telah mengantongi cukup bukti serta saksi untuk membuat terang kasus pembunuhan itu. Kondisi Tri Satriono alias Gotri, 41, suami Rini sekaligus pelaku penusukan, sudah sehat. Mantan tenaga kerja Indonesia (TKI) ini pun sudah dimintai keterangan oleh polisi.

“Bukti dan saksi sudah cukup,” tegas kasatreskrim. Sampai kemarin, pihaknya sedang proses pelengkapan berkas. Nantinya, berkas pemeriksaan akan diajukan ke kejaksaan. “Kalau garis polisi bisa sewaktu-waktu kita copot,” tandasnya.

Baca Juga :  Kisah Kakak-Beradik yang Diajak Ayahnya Mengemis di Kediri

Tetangga sekitar TKP mengatakan, semenjak kejadian tersebut, tidak ada seorang pun yang berani masuk ke rumah itu. “Nggak ada yang berani. Masih diberi garis polisi,” terang Trini, 45, warga Dusun Geneng, Desa Maron ini.

Menurut pantauannya, bercak darah di depan pintu samping rumah tersebut masih ada. Sedangkan menurut keterangan tetangga yang lain, kedua anak Rini dan Gotri, Ri, 17, dan Rs, 11, tinggal bersama Sri Mulyati, neneknya.

Sri merupakan seorang guru kesenian di salah satu SMP di Kota Kediri. Kini ia tinggal dan mengurus kedua cucunya tersebut. Itu mengingat Rini, ibu mereka, telah meninggal dunia. Sedangkan, sang ayah, Tri Satriono, masih berada di sel tahanan Mapolresta Kediri.

Seperti telah diberitakan sebelumnya, Gotri telah mengakui, menusuk istrinya lantaran cekcok. Terjadi pertengkaran dalam rumah tangga. Kamis (10/8) malam sekitar pukul 24.30 peristiwa berdarah itu terjadi. 

Menurut keterangan Gotri kepada polisi, dirinya bertengkar lantaran Rini berteriak minta cerai. Karena emosi, pria yang pernah bekerja setahun di Malaysia ini pun mengancam akan bunuh diri.

Baca Juga :  Usai Curi HP di Banyakan, Residivis asal Banyakan Dibekuk Massa

Dia nekat mengambil pisau dari dapur. Kemudian, mengancam Rini dengan meletakkan senjata tajam terhunus itu di pergelangan tangan kirinya. Satu sayatan benar-benar dilakukan Gotri.

Rini pun langsung mencegah suaminya melakukan tindakan nekat bunuh diri. Ibu dua anak ini menarik tangan kanan suaminya. Namun Gotri tetap saja melakukan hal yang sama dan kembali menyayat tangannya.

Di sayatan kedua, Rini bermaksud mengambil pisau yang dipegang sang suami. Namun Gotri tetap saja melakukannya. Sampai akhirnya, Rini melontarkan kata “matio karepmu (mati saja terserah)”.

Kata itulah yang kemudian menyulut emosi Gotri memuncak. Sontak ia kalap dan menusuk sang istri secara membabi buta. Tak sempat menghindar, Rini pun terkena lima tusukan.

Dengan kondisi tubuh berdarah-darah, dia lalu berlari keluar meminta tolong ke warga sekitar rumahnya. Sementara Gotri lemas dan pingsan di dalam rumah. Akibat, perbuatannya Gotri diancam dengan pasal 44 ayat (3) Undang-Undang Nomor 35/2014 tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Ancaman hukumannya sampai 18 tahun penjara.

 

- Advertisement -

KEDIRI KOTA – Kendati kasus penusukan yang mengakibatkan Yanti Pusporini, 38, tewas sudah mendekati titik terang, police line di tempat kejadian perkara (TKP) masih terlintang. Hingga kemarin, polisi masih belum melepasnya.

Rumah Rini–panggilan Yanti Pusporini –di Dusun Geneng, Desa Maron, Kecamatan Banyakan itu pun kosong. Kediaman tersebut ditinggalkan penghuninya sejak Kamis (10/8) silam dan kemarin kondisinya masih sama. Garis polisi tampak melintang di depan pintu samping sampai seluruh rumah.

Kasatreskrim Polres Kediri Kota AKP Ridwan Sahara mengatakan, untuk melepas police line TKP hanya perkara waktu. “Ya memang belum dicopot saja,” terangnya.

Menurut Ridwan, pihaknya telah mengantongi cukup bukti serta saksi untuk membuat terang kasus pembunuhan itu. Kondisi Tri Satriono alias Gotri, 41, suami Rini sekaligus pelaku penusukan, sudah sehat. Mantan tenaga kerja Indonesia (TKI) ini pun sudah dimintai keterangan oleh polisi.

“Bukti dan saksi sudah cukup,” tegas kasatreskrim. Sampai kemarin, pihaknya sedang proses pelengkapan berkas. Nantinya, berkas pemeriksaan akan diajukan ke kejaksaan. “Kalau garis polisi bisa sewaktu-waktu kita copot,” tandasnya.

Baca Juga :  Limbah B3 di Ngreco Kandat: Bocah Nangis, Terpal Tak Mempan Usir Bau

Tetangga sekitar TKP mengatakan, semenjak kejadian tersebut, tidak ada seorang pun yang berani masuk ke rumah itu. “Nggak ada yang berani. Masih diberi garis polisi,” terang Trini, 45, warga Dusun Geneng, Desa Maron ini.

Menurut pantauannya, bercak darah di depan pintu samping rumah tersebut masih ada. Sedangkan menurut keterangan tetangga yang lain, kedua anak Rini dan Gotri, Ri, 17, dan Rs, 11, tinggal bersama Sri Mulyati, neneknya.

Sri merupakan seorang guru kesenian di salah satu SMP di Kota Kediri. Kini ia tinggal dan mengurus kedua cucunya tersebut. Itu mengingat Rini, ibu mereka, telah meninggal dunia. Sedangkan, sang ayah, Tri Satriono, masih berada di sel tahanan Mapolresta Kediri.

Seperti telah diberitakan sebelumnya, Gotri telah mengakui, menusuk istrinya lantaran cekcok. Terjadi pertengkaran dalam rumah tangga. Kamis (10/8) malam sekitar pukul 24.30 peristiwa berdarah itu terjadi. 

Menurut keterangan Gotri kepada polisi, dirinya bertengkar lantaran Rini berteriak minta cerai. Karena emosi, pria yang pernah bekerja setahun di Malaysia ini pun mengancam akan bunuh diri.

Baca Juga :  Tertangkap Basah Embat Angpao Pengantin

Dia nekat mengambil pisau dari dapur. Kemudian, mengancam Rini dengan meletakkan senjata tajam terhunus itu di pergelangan tangan kirinya. Satu sayatan benar-benar dilakukan Gotri.

Rini pun langsung mencegah suaminya melakukan tindakan nekat bunuh diri. Ibu dua anak ini menarik tangan kanan suaminya. Namun Gotri tetap saja melakukan hal yang sama dan kembali menyayat tangannya.

Di sayatan kedua, Rini bermaksud mengambil pisau yang dipegang sang suami. Namun Gotri tetap saja melakukannya. Sampai akhirnya, Rini melontarkan kata “matio karepmu (mati saja terserah)”.

Kata itulah yang kemudian menyulut emosi Gotri memuncak. Sontak ia kalap dan menusuk sang istri secara membabi buta. Tak sempat menghindar, Rini pun terkena lima tusukan.

Dengan kondisi tubuh berdarah-darah, dia lalu berlari keluar meminta tolong ke warga sekitar rumahnya. Sementara Gotri lemas dan pingsan di dalam rumah. Akibat, perbuatannya Gotri diancam dengan pasal 44 ayat (3) Undang-Undang Nomor 35/2014 tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Ancaman hukumannya sampai 18 tahun penjara.

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/