25.5 C
Kediri
Wednesday, July 6, 2022

Keluarga Korban Pembunahan di Badas Minta Hukum Berat Pelaku

KABUPATEN, JP Radar Kediri-Keluarga Ifa Yunani, 33, korban pembunuhan asal Desa Canggu, Badas, meminta polisi mengusut tuntas kaus pembunuhan ibu dua anak itu. Mereka juga mendesak agar Muhamad Wahyudin Mahardika, 21, pelaku pembunuhan, diberi hukuman yang setimpal.

          Hal tersebut diungkapkan oleh Ahmad Yani, 71, ayah Ifa. Ditemui di rumahnya kemarin, dia mengaku tidak terima anaknya terbunuh dengan cara yang keji. “Pelaku harus dihukum setimpal. Sesuai hukum yang berlaku. Jika tidak saya akan protes memperjuangkannya,” kata lansia itu sembari menahan amarah.

          Kematian anak kelima dari tujuh bersaudara itu menurut kakek yang akrab disapa Yani tidak hanya menyisakan duka bagi keluarga. Melainkan, dia juga kasihan dengan nasib dua anak Ifa yang masih duduk di bangku SD.

          Lebih jauh Yani menjelaskan, dua hari pasca-meninggalnya Ifa, pihak keluarga belum mendapat penjelasan secara rinci tentang kronologi kematian putrinya itu. Mereka baru mendapat informasi terbatas dari perangkat desa.

          Beberapa kali menghela napas panjang, Yani mengaku tidak menyangka putrinya akan menjadi korban pembunuhan. Menurutnya, sehari-hari Ifa adalah sosok yang pendiam. Dia juga jarang berbincang dengan orang lain. Pun dengan saudaranya.

Baca Juga :  Imigrasi Melalui Program Immigration Goes To School

          “Saya tidak tahu pekerjaannya apa. Tapi, setiap berangkat kerja selalu berpamitan dan hanya mengiyakan saja,” tutur Yani sambil menyedot perlahan rokok di genggamannya dan memandang anak bungsu Ifa di dekatnya.

          Untuk diketahui, jenazah Ifa Yunani sudah dimakamkan di TPU desa setempat sekitar pukul 19.00 (14/5) lalu. Seperti halnya Yani, kerabat Ifa lainnya juga belum mendapat penjelasan tentang penyebab kematian perempuan yang sudah pisah rumah dengan suaminya itu.

          Seperti dituturkan oleh Juni Ahmad, 35, kakak Ifa. Dia mengaku baru mendapat informasi dari media sosial. Sebelumnya, dia sempat mendapat kabar jika adiknya meninggal kecelakaan. Kepastian adiknya tewas karena dibunuh baru diketahui setelah polisi dan kepala desa datang ke rumahnya.

          Sejak Minggu (15/5) lalu Juni mengaku mendapat informasi jika pelaku pembunuhan sudah tertangkap. Meski demikian, mereka tetap belum mengetahui detail kejadiannya. “Saya ingin pihak kepolisian segera mengadakan reka ulang kejadian,” pintanya agar keluarga mengetahui kronologi pembunuhan Ifa.

          Sementara itu, meninggalnya Ifa secara mengenaskan juga jadi perbincangan tetangganya. Ahmadi Yubaidi, 31, yang sempat melihat Ifa keluar rumah pada Jumat (13/5) siang mengaku terkejut mendengar pembunuhan terhadap tetangganya itu. “Anaknya juga sempat telepon dia (Ifa, Red) tapi tidak ada jawaban,” kenangnya mengamini sifat Ifa yang pendiam dan jarang keluar rumah itu.

Baca Juga :  Dua Gol yang Sangat Berarti bagi Persik Kediri

          Seperti diberitakan, Ifa ditemukan tewas bersimbah darah di Hotel Kediri 1 Pare, sekitar pukul 10.00 (14/5). Dalam pemeriksaan ditemukan luka bekas sayatan di leher serta nadi tangan kiri dan kanan. Setelah menyelidiki berbagai dokumen dan keterangan saksi, polisi menangkap Muhamad Wahyudin Mahardika, 21, di KUA Gudo, Jombang sekitar pukul 20.00 (14/5).

          Pemuda asal Desa/Kecamatan Gudo, Jombang itu mengaku sepakat membayar Rp 1 juta untuk biaya booking selama tiga jam. Dalam pertemuan tersebut, dia juga menyetubuhi Ifa sebanyak empat kali.

          Saat diminta membayar, pemuda yang masih berstatus mahasiswa itu berusaha ingkar. Berpura-pura memijit Ifa, Wahyudin meminta perempuan berambut lurus itu untuk tengkurap. Saat itulah dia menggorok leher perempuan yang dikenalnya lewat Facebook tersebut menggunakan pisau dapur hingga tewas. (c1/ut)  

 

- Advertisement -

KABUPATEN, JP Radar Kediri-Keluarga Ifa Yunani, 33, korban pembunuhan asal Desa Canggu, Badas, meminta polisi mengusut tuntas kaus pembunuhan ibu dua anak itu. Mereka juga mendesak agar Muhamad Wahyudin Mahardika, 21, pelaku pembunuhan, diberi hukuman yang setimpal.

          Hal tersebut diungkapkan oleh Ahmad Yani, 71, ayah Ifa. Ditemui di rumahnya kemarin, dia mengaku tidak terima anaknya terbunuh dengan cara yang keji. “Pelaku harus dihukum setimpal. Sesuai hukum yang berlaku. Jika tidak saya akan protes memperjuangkannya,” kata lansia itu sembari menahan amarah.

          Kematian anak kelima dari tujuh bersaudara itu menurut kakek yang akrab disapa Yani tidak hanya menyisakan duka bagi keluarga. Melainkan, dia juga kasihan dengan nasib dua anak Ifa yang masih duduk di bangku SD.

          Lebih jauh Yani menjelaskan, dua hari pasca-meninggalnya Ifa, pihak keluarga belum mendapat penjelasan secara rinci tentang kronologi kematian putrinya itu. Mereka baru mendapat informasi terbatas dari perangkat desa.

          Beberapa kali menghela napas panjang, Yani mengaku tidak menyangka putrinya akan menjadi korban pembunuhan. Menurutnya, sehari-hari Ifa adalah sosok yang pendiam. Dia juga jarang berbincang dengan orang lain. Pun dengan saudaranya.

Baca Juga :  Bacok Istri dan 2 Tetangga, Warga Gondang Dibawa ke RS Jiwa

          “Saya tidak tahu pekerjaannya apa. Tapi, setiap berangkat kerja selalu berpamitan dan hanya mengiyakan saja,” tutur Yani sambil menyedot perlahan rokok di genggamannya dan memandang anak bungsu Ifa di dekatnya.

          Untuk diketahui, jenazah Ifa Yunani sudah dimakamkan di TPU desa setempat sekitar pukul 19.00 (14/5) lalu. Seperti halnya Yani, kerabat Ifa lainnya juga belum mendapat penjelasan tentang penyebab kematian perempuan yang sudah pisah rumah dengan suaminya itu.

          Seperti dituturkan oleh Juni Ahmad, 35, kakak Ifa. Dia mengaku baru mendapat informasi dari media sosial. Sebelumnya, dia sempat mendapat kabar jika adiknya meninggal kecelakaan. Kepastian adiknya tewas karena dibunuh baru diketahui setelah polisi dan kepala desa datang ke rumahnya.

          Sejak Minggu (15/5) lalu Juni mengaku mendapat informasi jika pelaku pembunuhan sudah tertangkap. Meski demikian, mereka tetap belum mengetahui detail kejadiannya. “Saya ingin pihak kepolisian segera mengadakan reka ulang kejadian,” pintanya agar keluarga mengetahui kronologi pembunuhan Ifa.

          Sementara itu, meninggalnya Ifa secara mengenaskan juga jadi perbincangan tetangganya. Ahmadi Yubaidi, 31, yang sempat melihat Ifa keluar rumah pada Jumat (13/5) siang mengaku terkejut mendengar pembunuhan terhadap tetangganya itu. “Anaknya juga sempat telepon dia (Ifa, Red) tapi tidak ada jawaban,” kenangnya mengamini sifat Ifa yang pendiam dan jarang keluar rumah itu.

Baca Juga :  Blusukan ke Pasar, Borong & Sayuran

          Seperti diberitakan, Ifa ditemukan tewas bersimbah darah di Hotel Kediri 1 Pare, sekitar pukul 10.00 (14/5). Dalam pemeriksaan ditemukan luka bekas sayatan di leher serta nadi tangan kiri dan kanan. Setelah menyelidiki berbagai dokumen dan keterangan saksi, polisi menangkap Muhamad Wahyudin Mahardika, 21, di KUA Gudo, Jombang sekitar pukul 20.00 (14/5).

          Pemuda asal Desa/Kecamatan Gudo, Jombang itu mengaku sepakat membayar Rp 1 juta untuk biaya booking selama tiga jam. Dalam pertemuan tersebut, dia juga menyetubuhi Ifa sebanyak empat kali.

          Saat diminta membayar, pemuda yang masih berstatus mahasiswa itu berusaha ingkar. Berpura-pura memijit Ifa, Wahyudin meminta perempuan berambut lurus itu untuk tengkurap. Saat itulah dia menggorok leher perempuan yang dikenalnya lewat Facebook tersebut menggunakan pisau dapur hingga tewas. (c1/ut)  

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/