23.7 C
Kediri
Sunday, June 26, 2022

Dua Hari Tenggelam Pemuda asal Puncu Ditemukan di Plemahan

KABUPATEN, JP Radar Kediri–Johan 22, dan Teguh, 21, tak terselamatkan. Dua pemuda asal Puncu itu dipastikan tewas setelah tenggelam di sungai Sumbersoko, Desa Tunglur, Badas pada Minggu (13/2) dini hari lalu. Jenazah keduanya ditemukan mengapung di sungai Badas dan Plemahan kemarin siang.

          Informasi yang dihimpun koran ini menyebutkan, jenazah Teguh ditemukan pertama kali sekitar pukul 07.00. Tubuh pemuda asal Dusun Dinginbagus, Desa Manggis, Puncu itu ditemukan mengapung di sungai yang berjarak sekitar 2,5 kilometer dari lokasi hanyut. “Tubuh korban tersangkut sampah bambu di sungai,” kata Kapolsek Pare i Nyoman Sugita tentang jenazah pemuda yang memakai hoodie warna merah itu.  

          Mendapati jasad yang dicari oleh tim sejak Minggu (13/2) lalu, tim Inafis Polres Kediri bersama dokter puskesmas langsung mengangkatnya. Selang lima jam atau sekitar pukul 12.00, tim menemukan jenazah Johan di sungai Dusun Sekardangan, Desa Sidowarek, Plemahan.

          Saat diangkat ke darat, tim mendapati luka di bagian dahi pemuda asal Desa Satak, Puncu tersebut. “Luka yang mengeluarkan darah itu diduga akibat bebatuan sungai. Semakin ke barat sungainya semakin dalam,” sambung Kanitreskrim Polsek Pare Iptu Sukiman memastikan tidak ada tanda-tanda penganiayaan di tubuhnya.

Baca Juga :  Pulang, Ante Bakmaz Karantina di Australia

          Selebihnya, jenazah pemuda kelahiran tahun 2000 itu juga sudah membiru. Penyebabnya, karena terlalu lama berada di dalam air. Seperti halnya jenazah Teguh, polisi juga membawa jenazah Johan ke RS Kabupaten Kediri (RSKK) untuk dimandikan. Selanjutnya, jenazah dua pemuda itu dipulangkan ke rumah masing-masing.

          Untuk diketahui, meski diketahui hanyut sejak Minggu dini hari lalu, peristiwa tersebut baru dilaporkan ke polisi sekitar pukul 17.00. Tim lantas mulai melakukan pencarian meski hasilnya tak maksimal. Pencarian lantas dilanjutkan kemarin. Tim gabungan melakukan susur sungai untuk mengetahui keberadaan dua pemuda tersebut. Rupanya, keduanya ditemukan di tempat yang berbeda.

          Sebelumnya, dua pemuda asal Puncu itu dilaporkan hanyut setelah motor mereka ditemukan terparkir di dekat jembatan Sungai Sumbersoko, Desa Tunglur, Badas. Dalam kondisi hujan deras, diduga Johan dan Teguh tengah berada di dam sungai.

Baca Juga :  Jembatan Lama Masih Diverifikasi, Untuk Apa?

          Safik, 26, warga sekitar yang berada tak jauh dari lokasi tiba-tiba mendengar suara teriakan dari dam sungai. Dia lantas melakukan pencarian di lokasi. Namun, aliran sungai yang deras membuat tubuh keduanya tak bisa ditemukan.

          Warga hanya menemukan sepeda motor, satu jaket, ponsel, dan KTP milik Teguh. Dari kartu identitas itu pula polisi lantas melacak identitas dua korban. Pelacakan itu diperkuat dengan keterangan keluarga yang menyebut Teguh keluar dari rumah dengan mengendarai sepeda motor.

          Berdasar keterangan keluarga, Johan dan Teguh ini diketahui sering minum jamu atau miras. Meski demikian, tidak ada yang melihat langsung keduanya mabuk di dam sungai. “Diduga keduanya terpeleset saat berada di lokasi,” tandas Sukiman tentang penyebab hanyutnya Teguh dan Johan.

Pantauan koran ini, pengangkatan jenazah Teguh dan Johan jadi perhatian warga. Puluhan orang memadati tepi sungai melihat proses identifikasi yang dilakukan oleh tim inafis dan petugas kesehatan. Mereka baru membubarkan diri setelah jenazah dibawa ke RSKK. (ara/ut)

- Advertisement -

KABUPATEN, JP Radar Kediri–Johan 22, dan Teguh, 21, tak terselamatkan. Dua pemuda asal Puncu itu dipastikan tewas setelah tenggelam di sungai Sumbersoko, Desa Tunglur, Badas pada Minggu (13/2) dini hari lalu. Jenazah keduanya ditemukan mengapung di sungai Badas dan Plemahan kemarin siang.

          Informasi yang dihimpun koran ini menyebutkan, jenazah Teguh ditemukan pertama kali sekitar pukul 07.00. Tubuh pemuda asal Dusun Dinginbagus, Desa Manggis, Puncu itu ditemukan mengapung di sungai yang berjarak sekitar 2,5 kilometer dari lokasi hanyut. “Tubuh korban tersangkut sampah bambu di sungai,” kata Kapolsek Pare i Nyoman Sugita tentang jenazah pemuda yang memakai hoodie warna merah itu.  

          Mendapati jasad yang dicari oleh tim sejak Minggu (13/2) lalu, tim Inafis Polres Kediri bersama dokter puskesmas langsung mengangkatnya. Selang lima jam atau sekitar pukul 12.00, tim menemukan jenazah Johan di sungai Dusun Sekardangan, Desa Sidowarek, Plemahan.

          Saat diangkat ke darat, tim mendapati luka di bagian dahi pemuda asal Desa Satak, Puncu tersebut. “Luka yang mengeluarkan darah itu diduga akibat bebatuan sungai. Semakin ke barat sungainya semakin dalam,” sambung Kanitreskrim Polsek Pare Iptu Sukiman memastikan tidak ada tanda-tanda penganiayaan di tubuhnya.

Baca Juga :  Hoho Hihe dengan Waria, Gagang Sapu Melayang

          Selebihnya, jenazah pemuda kelahiran tahun 2000 itu juga sudah membiru. Penyebabnya, karena terlalu lama berada di dalam air. Seperti halnya jenazah Teguh, polisi juga membawa jenazah Johan ke RS Kabupaten Kediri (RSKK) untuk dimandikan. Selanjutnya, jenazah dua pemuda itu dipulangkan ke rumah masing-masing.

          Untuk diketahui, meski diketahui hanyut sejak Minggu dini hari lalu, peristiwa tersebut baru dilaporkan ke polisi sekitar pukul 17.00. Tim lantas mulai melakukan pencarian meski hasilnya tak maksimal. Pencarian lantas dilanjutkan kemarin. Tim gabungan melakukan susur sungai untuk mengetahui keberadaan dua pemuda tersebut. Rupanya, keduanya ditemukan di tempat yang berbeda.

          Sebelumnya, dua pemuda asal Puncu itu dilaporkan hanyut setelah motor mereka ditemukan terparkir di dekat jembatan Sungai Sumbersoko, Desa Tunglur, Badas. Dalam kondisi hujan deras, diduga Johan dan Teguh tengah berada di dam sungai.

Baca Juga :  Komunikasi yang Baik Bisa Selamatkan Anak dari Kasus Kekerasan

          Safik, 26, warga sekitar yang berada tak jauh dari lokasi tiba-tiba mendengar suara teriakan dari dam sungai. Dia lantas melakukan pencarian di lokasi. Namun, aliran sungai yang deras membuat tubuh keduanya tak bisa ditemukan.

          Warga hanya menemukan sepeda motor, satu jaket, ponsel, dan KTP milik Teguh. Dari kartu identitas itu pula polisi lantas melacak identitas dua korban. Pelacakan itu diperkuat dengan keterangan keluarga yang menyebut Teguh keluar dari rumah dengan mengendarai sepeda motor.

          Berdasar keterangan keluarga, Johan dan Teguh ini diketahui sering minum jamu atau miras. Meski demikian, tidak ada yang melihat langsung keduanya mabuk di dam sungai. “Diduga keduanya terpeleset saat berada di lokasi,” tandas Sukiman tentang penyebab hanyutnya Teguh dan Johan.

Pantauan koran ini, pengangkatan jenazah Teguh dan Johan jadi perhatian warga. Puluhan orang memadati tepi sungai melihat proses identifikasi yang dilakukan oleh tim inafis dan petugas kesehatan. Mereka baru membubarkan diri setelah jenazah dibawa ke RSKK. (ara/ut)

Artikel Terkait

Most Read

Megengan Pandemi

Sembadra Karya


Artikel Terbaru

/