22.4 C
Kediri
Saturday, August 20, 2022

Katanya, Mak Mentil Beri Rp 25 Ribu Usai Hubungan Intim

- Advertisement -

KEDIRI – Polisi sepertinya geregetan dengan ulah Dedi Asmawan. Bukan hanya karena tega menghabisi nyawa pacarnya yang sudah nenek-nenek. Tapi juga karena pemuda kuli bangunan ini berupaya kabur saat hendak ditangkap di rumahnya, Rabu (13/2).

Begitu geregetannya polisi, mereka pun memberikan hadiah yang tak akan bisa dilupakan sang pelaku ini. Yaitu pelor panas menembus pergelangan kaki kirinya.

“Dia (Dedi, Red) berusaha kabur ketika polisi hendak menangkapnya. Dia berupaya lari dari pintu belakang,” terang Kasatreskrim Polres Kediri Kota AKP Andy Purnomo.

Menurut Andy, kedua tersangka tergolong licin. Polisi sempat kesulitan melacak jejak mereka. Beberapa informasi tentang tempat-tempat yang biasa dikunjungi pelaku selama ini sebenarnya sudah diintai. Namun, baik Dedi maupun Setiawan sudah merasa mereka diincar polisi. Keduanya tak pernah muncul di lokasi-lokasi tersebut.

Baca Juga :  Separo Anggaran Belanja Operasional di Kediri Habis untuk Gaji Pegawai

“Sampai akhirnya kami bisa mengendus di mana posisi mereka. Kami akhirnya juga berhasil mengetahui alamat rumah kedua pelaku itu,” tambah Andy.

- Advertisement -

Dedi dan Setiawan merupakan tetangga. Jarak rumah keduanya hanya 50 meter di Dusun Kauman, Desa Pagu, Kecamatan Pagu. Karena itu, polisi bisa langsung menangkap keduanya dalam waktu yang tak berselang lama.

Dedi sendiri boleh disebut pemuda tak tahu malu. Dia berpacaran dengan Mak Mentil yang berusia lanjut, enam tahun lamanya. Dan selama itu, sebenarnya Mak Mentil sudah banyak memberikan imbalan materi kepada pemuda  ini. Sayangnya, bagi pemuda ini pemberian Mak Mentil masih kurang. Dia terus meminta. Puncaknya adalah pada malam pembunuhan itu.

Dedi mengaku mengenal Mak Mentil pada 2003. Setelah dua minggu berkenalan keduanya menjalin hubungan kasih. Keduanya juga melakukan hubungan layaknya suami istri.

Baca Juga :  Mahasiswi di Kediri Nyaris Gagal Vaksin Booster

“Setiap habis berhubungan, korban memberi uang kepada tersangka,” terang Andy. Menurut informasi, setiap usai memadu kasih Mak Mentil selalu memberi uang dedi sebanyak Rp 25 ribu.

Tidak hanya itu saja, sehari-hari Dedi juga membantu Mak Mentil mengumpulkan barang bekas. Setiap kali ikut mengumpulkan barang-barang hasil memulung itu Dedi juga diberi upah. Upahnya juga tak sedikit. Mak Mentil memberi Rp 100 ribu atas pekerjaan pelaku itu.

Kepada polisi kedua pelaku mengaku tak merencanakan membunuh Mak Mentil. Mereka hanya kecewa karena permintaan mendapatkan uang tak dipenuhi. “Keduanya mengaku tak tahu perbuatannya itu akhirnya membunuh Mak Mentil. Karena saat itu keduanya mengira Mak Mentil hanya pingsan,” terang Andy.

- Advertisement -

KEDIRI – Polisi sepertinya geregetan dengan ulah Dedi Asmawan. Bukan hanya karena tega menghabisi nyawa pacarnya yang sudah nenek-nenek. Tapi juga karena pemuda kuli bangunan ini berupaya kabur saat hendak ditangkap di rumahnya, Rabu (13/2).

Begitu geregetannya polisi, mereka pun memberikan hadiah yang tak akan bisa dilupakan sang pelaku ini. Yaitu pelor panas menembus pergelangan kaki kirinya.

“Dia (Dedi, Red) berusaha kabur ketika polisi hendak menangkapnya. Dia berupaya lari dari pintu belakang,” terang Kasatreskrim Polres Kediri Kota AKP Andy Purnomo.

Menurut Andy, kedua tersangka tergolong licin. Polisi sempat kesulitan melacak jejak mereka. Beberapa informasi tentang tempat-tempat yang biasa dikunjungi pelaku selama ini sebenarnya sudah diintai. Namun, baik Dedi maupun Setiawan sudah merasa mereka diincar polisi. Keduanya tak pernah muncul di lokasi-lokasi tersebut.

Baca Juga :  Mahasiswi di Kediri Nyaris Gagal Vaksin Booster

“Sampai akhirnya kami bisa mengendus di mana posisi mereka. Kami akhirnya juga berhasil mengetahui alamat rumah kedua pelaku itu,” tambah Andy.

Dedi dan Setiawan merupakan tetangga. Jarak rumah keduanya hanya 50 meter di Dusun Kauman, Desa Pagu, Kecamatan Pagu. Karena itu, polisi bisa langsung menangkap keduanya dalam waktu yang tak berselang lama.

Dedi sendiri boleh disebut pemuda tak tahu malu. Dia berpacaran dengan Mak Mentil yang berusia lanjut, enam tahun lamanya. Dan selama itu, sebenarnya Mak Mentil sudah banyak memberikan imbalan materi kepada pemuda  ini. Sayangnya, bagi pemuda ini pemberian Mak Mentil masih kurang. Dia terus meminta. Puncaknya adalah pada malam pembunuhan itu.

Dedi mengaku mengenal Mak Mentil pada 2003. Setelah dua minggu berkenalan keduanya menjalin hubungan kasih. Keduanya juga melakukan hubungan layaknya suami istri.

Baca Juga :  Berkas Tersangka Penusukan Telah P21

“Setiap habis berhubungan, korban memberi uang kepada tersangka,” terang Andy. Menurut informasi, setiap usai memadu kasih Mak Mentil selalu memberi uang dedi sebanyak Rp 25 ribu.

Tidak hanya itu saja, sehari-hari Dedi juga membantu Mak Mentil mengumpulkan barang bekas. Setiap kali ikut mengumpulkan barang-barang hasil memulung itu Dedi juga diberi upah. Upahnya juga tak sedikit. Mak Mentil memberi Rp 100 ribu atas pekerjaan pelaku itu.

Kepada polisi kedua pelaku mengaku tak merencanakan membunuh Mak Mentil. Mereka hanya kecewa karena permintaan mendapatkan uang tak dipenuhi. “Keduanya mengaku tak tahu perbuatannya itu akhirnya membunuh Mak Mentil. Karena saat itu keduanya mengira Mak Mentil hanya pingsan,” terang Andy.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/