27.2 C
Kediri
Monday, July 4, 2022

Terdampak Pandemi, Jumlah Gepeng di Kota Angin Meningkat

Selama pandemi Covid-19 tiga bulan terakhir, Satpol PP Nganjuk mengamankan total 34 gelandangan dan pengemis (gepeng) dari berbagai daerah di Kota Angin.

Jumlah tersebut cenderung naik dibanding beberapa bulan sebelumnya yang tidak sampai menyentuh 30 orang. “Kebanyakan pengamen,” ujar Kabid Penegakan Undang-Undang  Satpol PP Nganjuk Sujito.

Puluhan gepeng tersebut terjaring dalam razia sejak Juni lalu. Diakui Sujito, pandemi Covid 19 membuat jumlah pengamen dan pengemis bertambah. Hal tersebut senada dengan pengakuan gepeng yang tertangkap.

Beberapa di antaranya mengaku menjadi pengamen dadakan karena pekerjaan mereka seret selama wabah korona. “Ada yang sebenarnya pemain jaranan. Tanggapan tidak ada, akhirnya ngamen,” terangnya.

Terkait penanganan puluhan gepeng tersebut, Sujito menjelaskan, satpol PP langsung melakukan pendataan dan pembinaan. Selanjutnya, mereka diserahkan ke dinas sosial pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak (dinsos PPPA). Khusus untuk gepeng asal Nganjuk langsung diantarkan pulang.

Baca Juga :  SKB CPNS Kabupaten Nganjuk Akan Digelar Akhir November atau Desember

Lebih jauh Sujito menuturkan, pihaknya sudah memetakan tempat mangkalnya gepeng di Kota Angin. Misalnya, pengamen dan pengemis didapati banyak berkumpul di sejumlah perempatan jalur protokol di Nganjuk.

Adapun gelandangan menetap di sejumlah tempat yang tidak dimanfaatkan. Misalnya, di kompleks terminal lama, GOR Bung Karno, hingga di sejumlah rumah kosong tak terpakai di Kota Nganjuk. “Kami rutin melakukan patroli. Jika ada aduan dari masyarakat juga langsung kami tindak,” urainya.

Kasatpolpp Nganjuk Abdul Wakid menambahkan, selama pandemi Covid-19 ini pihaknya tidak menghentikan patroli. Baik patroli ketertiban umum dan ketentraman masyarakat, hingga patroli dan operasi penegakan perda. “Terus kami lakukan. Tidak ada berhenti,” jelasnya.

Diakui Wakid, selama tiga bulan terakhir memang didapati banyak pengamen dan pengemis asal Nganjuk. Jumlah itu masih ditambah gepeng dari luar Nganjuk yang biasa transit di sini.

Baca Juga :  Pengedar Pil Koplo Dituntut 14 Bulan

Untuk menertibkan mereka, menurut Wakid sering kali anggotanya harus kucing-kucingan. Setelah diangkut petugas, mereka agaknya tak gentar dan kembali mengamen di tempat biasanya.

Agar jumlah gepeng turun, Wakid meminta masyarakat ikut berpartisipasi. Di antaranya, dengan tidak memberi uang kepada pengemis dan pengamen yang beroperasi di perempatan-perempatan. “Ada perda larangannya. Kami minta masyarakat ikut mendukung dengan tidak memberi uang,” pintanya.

 

 

Fenomena Maraknya Gepeng:

-Warga yang kehilangan pekerjaan selama pandemi Covid-19 nekat mengamen

-Kemunculan pengamen dadakan membuat jumlah gepeng yang diamankan satpol PP naik

-Sejak Juni hingga Agustus lalu total ada 34 gepeng yang terjaring razia

-Satpol meminta masyarakat berpartisipasi menekan jumlah gepeng dengan tidak memberi uang

- Advertisement -

Selama pandemi Covid-19 tiga bulan terakhir, Satpol PP Nganjuk mengamankan total 34 gelandangan dan pengemis (gepeng) dari berbagai daerah di Kota Angin.

Jumlah tersebut cenderung naik dibanding beberapa bulan sebelumnya yang tidak sampai menyentuh 30 orang. “Kebanyakan pengamen,” ujar Kabid Penegakan Undang-Undang  Satpol PP Nganjuk Sujito.

Puluhan gepeng tersebut terjaring dalam razia sejak Juni lalu. Diakui Sujito, pandemi Covid 19 membuat jumlah pengamen dan pengemis bertambah. Hal tersebut senada dengan pengakuan gepeng yang tertangkap.

Beberapa di antaranya mengaku menjadi pengamen dadakan karena pekerjaan mereka seret selama wabah korona. “Ada yang sebenarnya pemain jaranan. Tanggapan tidak ada, akhirnya ngamen,” terangnya.

Terkait penanganan puluhan gepeng tersebut, Sujito menjelaskan, satpol PP langsung melakukan pendataan dan pembinaan. Selanjutnya, mereka diserahkan ke dinas sosial pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak (dinsos PPPA). Khusus untuk gepeng asal Nganjuk langsung diantarkan pulang.

Baca Juga :  Diprediksi Hujan Lebat, Nganjuk Waspada Banjir

Lebih jauh Sujito menuturkan, pihaknya sudah memetakan tempat mangkalnya gepeng di Kota Angin. Misalnya, pengamen dan pengemis didapati banyak berkumpul di sejumlah perempatan jalur protokol di Nganjuk.

Adapun gelandangan menetap di sejumlah tempat yang tidak dimanfaatkan. Misalnya, di kompleks terminal lama, GOR Bung Karno, hingga di sejumlah rumah kosong tak terpakai di Kota Nganjuk. “Kami rutin melakukan patroli. Jika ada aduan dari masyarakat juga langsung kami tindak,” urainya.

Kasatpolpp Nganjuk Abdul Wakid menambahkan, selama pandemi Covid-19 ini pihaknya tidak menghentikan patroli. Baik patroli ketertiban umum dan ketentraman masyarakat, hingga patroli dan operasi penegakan perda. “Terus kami lakukan. Tidak ada berhenti,” jelasnya.

Diakui Wakid, selama tiga bulan terakhir memang didapati banyak pengamen dan pengemis asal Nganjuk. Jumlah itu masih ditambah gepeng dari luar Nganjuk yang biasa transit di sini.

Baca Juga :  Camat Bagor Suwandi Meninggal

Untuk menertibkan mereka, menurut Wakid sering kali anggotanya harus kucing-kucingan. Setelah diangkut petugas, mereka agaknya tak gentar dan kembali mengamen di tempat biasanya.

Agar jumlah gepeng turun, Wakid meminta masyarakat ikut berpartisipasi. Di antaranya, dengan tidak memberi uang kepada pengemis dan pengamen yang beroperasi di perempatan-perempatan. “Ada perda larangannya. Kami minta masyarakat ikut mendukung dengan tidak memberi uang,” pintanya.

 

 

Fenomena Maraknya Gepeng:

-Warga yang kehilangan pekerjaan selama pandemi Covid-19 nekat mengamen

-Kemunculan pengamen dadakan membuat jumlah gepeng yang diamankan satpol PP naik

-Sejak Juni hingga Agustus lalu total ada 34 gepeng yang terjaring razia

-Satpol meminta masyarakat berpartisipasi menekan jumlah gepeng dengan tidak memberi uang

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/