23.8 C
Kediri
Thursday, August 11, 2022

Air Bah Surut, Petani Sulami Tanaman

SUKOMORO, JP Radar Nganjuk–Lebih dari seminggu menggenangi area persawahan di Desa Sumengko, Sukomoro, air bah dari aliran sungai Karangrejek surut kemarin. Sejumlah petani yang tanamannya terendam air bah pun melakukan penyulaman agar hasil panenannya tak terganggu. 

Pantauan koran ini kemarin ada belasan petani yang menyulami tanaman padinya usai terendam air bah. Seperti yang dilakukan oleh Yadi, 62. Lelaki asal Dusun/Desa Sumengko itu menyulami tanamannya sejak pukul 12.30. “Ini istirahat dulu. Besok dilanjutkan lagi,” ujar Yadi.

Dengan mengajak anak dan saudaranya, Yadi mengganti tanaman padi berusia 20 hari miliknya yang dinilai jelek. Dia pun menanam bibit di sana dengan usia yang sama. Dari total lahan seluas 90 ru miliknya, hanya sekitar 50 ru saja yang disulam tanamannya. Sebab, di beberapa lokasi masih terdapat genangan.

Baca Juga :  Perubahan Arus Lalin di Jalan A. Yani Nganjuk

Yasno, 58, petani lain yang juga sedang menyulam tanaman padinya menyebut banjir sudah jadi bencana langganan di sana. Puluhan hektare sawah terendam air bah setiap tahunnya.

Banjir di sana menurut Yasno terjadi karena saluran air di persawahan sebelah barat Desa Sumengko memang kecil. Karenanya, begitu debit air sungai Desa Nglaban, Loceret tinggi, otomatis air akan meluber ke sawah. Apalagi, minggu lalu juga ada limpahan air bah dari sungai Bodor.

Mengahadapi bencana tersebut, pria yang sawahnya terendam air bah hingga setinggi 90 sentimeter itu pun hanya bisa pasrah. Dia memilih untuk mencabuti tanaman padinya yang masih berusia belasan hari. “Hari ini (kemarin, Red) disulam lagi agar bisa tumbuh bagus,” tuturnya.

Baca Juga :  Siswa SD Pingsan Dipukul Mama Muda asal Kelurahan Ngadirejo

Berapa kerugian yang dideritanya akibat bencana banjir dua minggu lalu? Yasno enggan menjawabnya. Dia hanya berharap dengan penyulaman kemarin panenan padinya bisa bagus. Sehingga, dia bisa meraup untung untuk menutupi kerugian gagal tanam di awal.

Sementara itu, jika kemarin belasan petani terlihat mulai menyulam tanaman, sebagian lainnya sedang mengeringkan sawahnya. Mereka menyedot genangan air di sawah menggunakan mesin diesel. Air dibuang ke saluran yang ada di dekat petak mereka.

Untuk diketahui, hujan yang mengguyur Kabupaten Nganjuk pada Rabu (6/1) sore membuat beberapa titik saluran air meluap. Dampaknya, selain menggenangi jalanan, juga membuat puluhan hektare sawah mulai dari Kecamatan Pace, Sukomoro, dan Loceret tergenang.

- Advertisement -

SUKOMORO, JP Radar Nganjuk–Lebih dari seminggu menggenangi area persawahan di Desa Sumengko, Sukomoro, air bah dari aliran sungai Karangrejek surut kemarin. Sejumlah petani yang tanamannya terendam air bah pun melakukan penyulaman agar hasil panenannya tak terganggu. 

Pantauan koran ini kemarin ada belasan petani yang menyulami tanaman padinya usai terendam air bah. Seperti yang dilakukan oleh Yadi, 62. Lelaki asal Dusun/Desa Sumengko itu menyulami tanamannya sejak pukul 12.30. “Ini istirahat dulu. Besok dilanjutkan lagi,” ujar Yadi.

Dengan mengajak anak dan saudaranya, Yadi mengganti tanaman padi berusia 20 hari miliknya yang dinilai jelek. Dia pun menanam bibit di sana dengan usia yang sama. Dari total lahan seluas 90 ru miliknya, hanya sekitar 50 ru saja yang disulam tanamannya. Sebab, di beberapa lokasi masih terdapat genangan.

Baca Juga :  Disdik Nganjuk Bahas Skema Pembelajaran Tatap Muka di Pandemi Korona

Yasno, 58, petani lain yang juga sedang menyulam tanaman padinya menyebut banjir sudah jadi bencana langganan di sana. Puluhan hektare sawah terendam air bah setiap tahunnya.

Banjir di sana menurut Yasno terjadi karena saluran air di persawahan sebelah barat Desa Sumengko memang kecil. Karenanya, begitu debit air sungai Desa Nglaban, Loceret tinggi, otomatis air akan meluber ke sawah. Apalagi, minggu lalu juga ada limpahan air bah dari sungai Bodor.

Mengahadapi bencana tersebut, pria yang sawahnya terendam air bah hingga setinggi 90 sentimeter itu pun hanya bisa pasrah. Dia memilih untuk mencabuti tanaman padinya yang masih berusia belasan hari. “Hari ini (kemarin, Red) disulam lagi agar bisa tumbuh bagus,” tuturnya.

Baca Juga :  Kejaksaan Limpahkan Berkas Samsul Ashar ke Pengadilan Tipikor

Berapa kerugian yang dideritanya akibat bencana banjir dua minggu lalu? Yasno enggan menjawabnya. Dia hanya berharap dengan penyulaman kemarin panenan padinya bisa bagus. Sehingga, dia bisa meraup untung untuk menutupi kerugian gagal tanam di awal.

Sementara itu, jika kemarin belasan petani terlihat mulai menyulam tanaman, sebagian lainnya sedang mengeringkan sawahnya. Mereka menyedot genangan air di sawah menggunakan mesin diesel. Air dibuang ke saluran yang ada di dekat petak mereka.

Untuk diketahui, hujan yang mengguyur Kabupaten Nganjuk pada Rabu (6/1) sore membuat beberapa titik saluran air meluap. Dampaknya, selain menggenangi jalanan, juga membuat puluhan hektare sawah mulai dari Kecamatan Pace, Sukomoro, dan Loceret tergenang.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/