24.1 C
Kediri
Monday, August 15, 2022

Pemeriksaan Gotri Terkendala Komunikasi

- Advertisement -

KEDIRI KOTA– Kondisi Tri Satriono alias Gotri, 41, pelaku pembunuhan terhadap Yanti Pusporini, 38, istrinya, berangsur pulih. Hingga kemarin, pria yang diduga berniat bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangan kirinya itu masih dirawat di Ruang Wijaya Kusuma, RS Bhayangkara Kediri.

          Di ruangan berteralis itu, bapak dua anak ini dalam penjagaan ketat polisi. Kendati kondisi kesehatannya mulai membaik, warga Dusun Geneng, Desa Maron, Kecamatan Banyakan ini belum menjalani pemeriksaan penyidik. Makanya, statusnya pun belum ditetapkan sebagai tersangka.

Kasatreskrim Polres Kediri Kota AKP Ridwan Sahara mengatakan, pihaknya terkendala melakukan pemeriksaan. Pasalnya, pelaku pembunuhan itu belum bisa diajak komunikasi.

“Sudah sadar dan kondisinya membaik, tetapi belum bisa diajak berkomunikasi intensif,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Kediri.

- Advertisement -

Lebih lanjut, Ridwan menjelaskan bahwa penyidik tidak akan memaksakan diri untuk menanyai Gotri lebih serius. Pertimbangannya, kondisi mantan tenaga kerja Indonesia (TKI) itu belum pulih seratus persen.

Petugas khawatir, tindakan yang gegabah malah dapat memperburuk kondisi psikologinya dan berdampak pada kondisi fisiknya. Karena itu, Ridwan menegaskan, pihaknya akan menunggu yang bersangkutan sampai sehat. Bahkan hingga dinyatakan boleh keluar dari rumah sakit (RS).

“Kita akan meminta keterangannya jika sudah di kantor polisi,” tegas perwira Polri ini.

Lalu kapan Gotri dinyatakan bisa keluar rumah sakit? Ridwan tak memberi jawaban pasti. Ia hanya menggeleng. “Kita belum terima kabar resmi dari tim medis, ditunggu saja,” tambahnya.

Meski belum ditetapkan sebagai tersangka, kasatreskrim menyatakan, Gotri dalam penjagaan ketat petugas kepolisian. Kamar Wijaya Kusuma yang digunakan untuk merawatnya pun dilengkapi teralis besi. Orang yang ingin menjenguk pun dibatasi. Termasuk anggota keluarganya. Sehingga tidak banyak orang yang keluar masuk kamarnya kecuali tim medis.

Baca Juga :  Nekat Curi Baterai Tower

Hal yang sama disampaikan Weti Lusiana, humas RS Bhayangkara Kediri. Menurutnya, kondisi pasien yang tega menghabisi nyawa istrinya itu sudah jauh lebih baik. Itu bila dibandingkan saat baru masuk ke rumah sakit pada Kamis lalu (10/8). Apalagi sebelumnya Gotri sudah mendapatkan perawatan awal di RS Muhammadiyah Ahmad Dahlan, Ngampel, Mojoroto.

“Kondisinya sudah membaik, tetapi masih belum bisa diajak berkomunikasi lama-lama,” terang Weti kepada wartawan koran ini, kemarin.

 Menurutnya, luka Gotri tidak terlalu dalam meski ada dua sayatan di pergelangan tangan kirinya. Hal ini diketahui dari hasil evaluasi luka yang dilakukan oleh pihak RS Bhayangkara, Jumat lalu (11/8).

Meski demikian, Gotri masih harus banyak beristirahat. “Sudah baikan tetapi masih harus beristirahat untuk pemulihan,” tambahnya.

Weti sendiri sempat menyapa Gotri sesaat setelah dilakukan evaluasi luka. Namun tidak banyak yang disampaikan eks TKI di Malaysia yang baru pulang pada Hari Raya Idul Fitri silam. Bapak dua anak dari Dusun Geneng, Maron, Banyakan ini hanya menjawab satu dua kata saja, kemudian tidur.

“Untuk saat ini dipastikan kondisi fisiknya sudah stabil. Tetapi masih perlu banyak beristirahat,” tuturnya.

Apakah diperlukan perawatan ekstra untuk pemulihannya saat ini? Menurut Weti, tidak ada treatment khusus. Gotri hanya perlu dilakukan perawatan biasa untuk pemulihan. Itu lantaran tidak ada luka lain selain di pergelangan tangannya dan luka tersebut sudah dijahit.

“Tinggal memantau terus kondisinya. Harapannya bisa tetap stabil sampai nanti dinyatakan bisa keluar rumah sakit,” pungkasnya.

Baca Juga :  Terbakar, Kebun Tebu Seluas 4 Hektare Hangus

Seperti diberitakan sebelumnya, warga Dusun Geneng, Desa Maron digegerkan peristiwa penusukkan Rini –panggilan Yanti Pusporini– pada pukul 01.30, Kamis dinihari (10/8). Pelakunya, suaminya sendiri.

Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) itu diduga dipicu perasaan cemburu Gotri terhadap istrinya. Dia curiga pada isi komentar di akun facebook (FB) Rini. Puncaknya, pada Rabu malam (9/8) ketika Rini pulang sekitar pukul 23.30, Gotri menduga sang istri baru bertemu selingkuhannya.

Terbakar cemburu, Gotri gelap mata dan menusukkan pisau ke dada Rini. Kabarnya, Gotri sudah lama curiga dengan akun FB itu sejak masih menjadi TKI di Malaysia. Selama setahun bekerja di Negeri Jiran, ia pulang pada Lebaran 2017 lalu.

Setelah menusuk istrinya, Gotri ditengarai hendak bunuh diri. Dia menyayat urat nadinya. Ada dua sayatan di tangan kiri. Namun begitu, ia terburu diamankan polisi.

Sementara itu, jenazah Rini telah diotopsi di RS Bhayangkara pada Kamis malam (10/8). Hasil sementara diduga dia meninggal karena lima luka tusukan di tubuhnya. Ibu dua anak ini mengembuskan napas terakhir setelah kehabisan darah. Ketika dibawa ke RS, terdapat tiga luka tusukan di tubuh Rini dan dua sayatan di tangannya.

Lima luka senjata tajam (sajam) tersebut adalah tusukan pisau di dada sebelah kanan dan kiri dan punggung kanan. Kemudian, luka dua sayatan terdapat di bawah siku tangan kiri. Tidak ada luka yang menembus dari belakang hingga ke depan. Luka tusukan hanya tembus dari kulit hingga rongga dada. Namun, sampai kemarin polresta masih menanti hasil uji Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jatim untuk memastikan penyebab kematian korban. (dna/ndr)   

- Advertisement -

KEDIRI KOTA– Kondisi Tri Satriono alias Gotri, 41, pelaku pembunuhan terhadap Yanti Pusporini, 38, istrinya, berangsur pulih. Hingga kemarin, pria yang diduga berniat bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangan kirinya itu masih dirawat di Ruang Wijaya Kusuma, RS Bhayangkara Kediri.

          Di ruangan berteralis itu, bapak dua anak ini dalam penjagaan ketat polisi. Kendati kondisi kesehatannya mulai membaik, warga Dusun Geneng, Desa Maron, Kecamatan Banyakan ini belum menjalani pemeriksaan penyidik. Makanya, statusnya pun belum ditetapkan sebagai tersangka.

Kasatreskrim Polres Kediri Kota AKP Ridwan Sahara mengatakan, pihaknya terkendala melakukan pemeriksaan. Pasalnya, pelaku pembunuhan itu belum bisa diajak komunikasi.

“Sudah sadar dan kondisinya membaik, tetapi belum bisa diajak berkomunikasi intensif,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Lebih lanjut, Ridwan menjelaskan bahwa penyidik tidak akan memaksakan diri untuk menanyai Gotri lebih serius. Pertimbangannya, kondisi mantan tenaga kerja Indonesia (TKI) itu belum pulih seratus persen.

Petugas khawatir, tindakan yang gegabah malah dapat memperburuk kondisi psikologinya dan berdampak pada kondisi fisiknya. Karena itu, Ridwan menegaskan, pihaknya akan menunggu yang bersangkutan sampai sehat. Bahkan hingga dinyatakan boleh keluar dari rumah sakit (RS).

“Kita akan meminta keterangannya jika sudah di kantor polisi,” tegas perwira Polri ini.

Lalu kapan Gotri dinyatakan bisa keluar rumah sakit? Ridwan tak memberi jawaban pasti. Ia hanya menggeleng. “Kita belum terima kabar resmi dari tim medis, ditunggu saja,” tambahnya.

Meski belum ditetapkan sebagai tersangka, kasatreskrim menyatakan, Gotri dalam penjagaan ketat petugas kepolisian. Kamar Wijaya Kusuma yang digunakan untuk merawatnya pun dilengkapi teralis besi. Orang yang ingin menjenguk pun dibatasi. Termasuk anggota keluarganya. Sehingga tidak banyak orang yang keluar masuk kamarnya kecuali tim medis.

Baca Juga :  Polres Nganjuk Selidiki Ratusan Dus Migor di Sumberkepuh

Hal yang sama disampaikan Weti Lusiana, humas RS Bhayangkara Kediri. Menurutnya, kondisi pasien yang tega menghabisi nyawa istrinya itu sudah jauh lebih baik. Itu bila dibandingkan saat baru masuk ke rumah sakit pada Kamis lalu (10/8). Apalagi sebelumnya Gotri sudah mendapatkan perawatan awal di RS Muhammadiyah Ahmad Dahlan, Ngampel, Mojoroto.

“Kondisinya sudah membaik, tetapi masih belum bisa diajak berkomunikasi lama-lama,” terang Weti kepada wartawan koran ini, kemarin.

 Menurutnya, luka Gotri tidak terlalu dalam meski ada dua sayatan di pergelangan tangan kirinya. Hal ini diketahui dari hasil evaluasi luka yang dilakukan oleh pihak RS Bhayangkara, Jumat lalu (11/8).

Meski demikian, Gotri masih harus banyak beristirahat. “Sudah baikan tetapi masih harus beristirahat untuk pemulihan,” tambahnya.

Weti sendiri sempat menyapa Gotri sesaat setelah dilakukan evaluasi luka. Namun tidak banyak yang disampaikan eks TKI di Malaysia yang baru pulang pada Hari Raya Idul Fitri silam. Bapak dua anak dari Dusun Geneng, Maron, Banyakan ini hanya menjawab satu dua kata saja, kemudian tidur.

“Untuk saat ini dipastikan kondisi fisiknya sudah stabil. Tetapi masih perlu banyak beristirahat,” tuturnya.

Apakah diperlukan perawatan ekstra untuk pemulihannya saat ini? Menurut Weti, tidak ada treatment khusus. Gotri hanya perlu dilakukan perawatan biasa untuk pemulihan. Itu lantaran tidak ada luka lain selain di pergelangan tangannya dan luka tersebut sudah dijahit.

“Tinggal memantau terus kondisinya. Harapannya bisa tetap stabil sampai nanti dinyatakan bisa keluar rumah sakit,” pungkasnya.

Baca Juga :  Mantan Kades Putren Segera Disidang

Seperti diberitakan sebelumnya, warga Dusun Geneng, Desa Maron digegerkan peristiwa penusukkan Rini –panggilan Yanti Pusporini– pada pukul 01.30, Kamis dinihari (10/8). Pelakunya, suaminya sendiri.

Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) itu diduga dipicu perasaan cemburu Gotri terhadap istrinya. Dia curiga pada isi komentar di akun facebook (FB) Rini. Puncaknya, pada Rabu malam (9/8) ketika Rini pulang sekitar pukul 23.30, Gotri menduga sang istri baru bertemu selingkuhannya.

Terbakar cemburu, Gotri gelap mata dan menusukkan pisau ke dada Rini. Kabarnya, Gotri sudah lama curiga dengan akun FB itu sejak masih menjadi TKI di Malaysia. Selama setahun bekerja di Negeri Jiran, ia pulang pada Lebaran 2017 lalu.

Setelah menusuk istrinya, Gotri ditengarai hendak bunuh diri. Dia menyayat urat nadinya. Ada dua sayatan di tangan kiri. Namun begitu, ia terburu diamankan polisi.

Sementara itu, jenazah Rini telah diotopsi di RS Bhayangkara pada Kamis malam (10/8). Hasil sementara diduga dia meninggal karena lima luka tusukan di tubuhnya. Ibu dua anak ini mengembuskan napas terakhir setelah kehabisan darah. Ketika dibawa ke RS, terdapat tiga luka tusukan di tubuh Rini dan dua sayatan di tangannya.

Lima luka senjata tajam (sajam) tersebut adalah tusukan pisau di dada sebelah kanan dan kiri dan punggung kanan. Kemudian, luka dua sayatan terdapat di bawah siku tangan kiri. Tidak ada luka yang menembus dari belakang hingga ke depan. Luka tusukan hanya tembus dari kulit hingga rongga dada. Namun, sampai kemarin polresta masih menanti hasil uji Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jatim untuk memastikan penyebab kematian korban. (dna/ndr)   

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/