23.7 C
Kediri
Sunday, June 26, 2022

Delusi, Riyanto Tersangka Pembacokan di Wates Dirujuk ke RSJ Lawang

KABUPATEN, JP Radar Kediri–Riyanto, 35, tersangka pembacokan yang membuat tiga korban meninggal dunia dan tujuh terluka, dipastikan mengalami gangguan jiwa. Pria asal Dusun Bangunmulyo, Desa Pojok, Wates yang kemarin diperiksa di RS Bhayangkara itu disebut mengalami delusi. Dia pun langsung dirujuk ke RSJ Lawang untuk observasi lebih lanjut.

          Untuk diketahui, Riyanto tiba di RS Bhayangkara sekitar pukul 09.00. Sulung dari dua bersaudara itu langsung diperiksa oleh dr Rony Subagyo SpKJ. Bertemu sekitar 45 menit, dokter spesialis kejiwaan itu sama sekali tidak bisa berkomunikasi. “Diajak bicara diam, disuruh menulus jawaban di kertas juga diam,” kata dokter senior di RS Bhayangkara tersebut. 

        Kondisi itu pula yang membuat Roni yakin jika Riyanto menderita gangguan jiwa. Meski demikian, masih diperlukan observasi lebih lanjut. Karenanya, Roni merujuk pembacok tetangga dan keluarganya itu ke RSJ Lawang.

Baca Juga :  Hukum Penyebar Hoax

          Dalam ilmu kejiwaan, menurut Roni sikap diam Riyanto ini bisa disebut mutism atau bisu mendadak. “Mutism ini merupakan gejala gangguan kejiwaan,” terang Roni sembari menyebut Riyanto diduga tidak mau berbicara karena mengalami halusinasi.

          Seperti diberitakan, menurut penuturan Rike Ameliya, suaminya sempat mengaku mendengar bisikan-bisikan suara sebelum kalap Senin (7/3) lalu. Dia juga mengaku mencium bau amis darah. Pengakuan Riyanto ini menurut Roni juga merupakan gejala halusinasi.

          Sementara itu, hingga kemarin empat korban pembacokan Riyanto masih menjalani perawatan di RSUD SLG. Mereka adalah Kasianto, 50; Tuminah, 60; Siswo, 60; dan Riyanti, 34. “Semua pasien sudah dioperasi,” kata Kasi Keperawatan RSUD SLG Sujiman.

          Kondisi keempat pasien yang sebelumnya mengalami luka parah itu kini mulai membaik. Dia mencontohkan kondisi Kasianto yang sudah bisa duduk. Adapun Tuminah, yang tak lain ibu Riyanto juga kian membaik. Perempuan yang sempat mendapat transfusi darah dua kali itu urung kehilangan jari tengah dan jari kelingkingnya. “Jari yang dibacok itu dilakukan operasi penyambungan dan berhasil,” urai Sujiman.

Baca Juga :  Menpora RI: Jangan Ulang Kebiasaan Lama

          Dari empat pasien tersebut, tiga pasien di antaranya sudah menjalani perawatan di ruangan. Adapun Riyanti, adik Riyanto, yang mengalami luka paling parah, kini juga mulai stabil. Perempuan yang dirawat di Intensive Care Unit (ICU) itu rencananya akan dipindah ke ruang Punai setelah kondisinya benar-benar membaik. 

          Lebih jauh Sujiman menuturkan, meski kondisi empat pasien sudah mulai membaik, kemungkinan mereka masih mengalami trauma. Karena itu pula, hingga kemarin keempatnya belum bisa dimintai keterangan. (ara/ut)

 

- Advertisement -

KABUPATEN, JP Radar Kediri–Riyanto, 35, tersangka pembacokan yang membuat tiga korban meninggal dunia dan tujuh terluka, dipastikan mengalami gangguan jiwa. Pria asal Dusun Bangunmulyo, Desa Pojok, Wates yang kemarin diperiksa di RS Bhayangkara itu disebut mengalami delusi. Dia pun langsung dirujuk ke RSJ Lawang untuk observasi lebih lanjut.

          Untuk diketahui, Riyanto tiba di RS Bhayangkara sekitar pukul 09.00. Sulung dari dua bersaudara itu langsung diperiksa oleh dr Rony Subagyo SpKJ. Bertemu sekitar 45 menit, dokter spesialis kejiwaan itu sama sekali tidak bisa berkomunikasi. “Diajak bicara diam, disuruh menulus jawaban di kertas juga diam,” kata dokter senior di RS Bhayangkara tersebut. 

        Kondisi itu pula yang membuat Roni yakin jika Riyanto menderita gangguan jiwa. Meski demikian, masih diperlukan observasi lebih lanjut. Karenanya, Roni merujuk pembacok tetangga dan keluarganya itu ke RSJ Lawang.

Baca Juga :  Aksi Unik, Mantan Karyawan PT Surya Zig Zag Tuntut Kekurangan Pesangon

          Dalam ilmu kejiwaan, menurut Roni sikap diam Riyanto ini bisa disebut mutism atau bisu mendadak. “Mutism ini merupakan gejala gangguan kejiwaan,” terang Roni sembari menyebut Riyanto diduga tidak mau berbicara karena mengalami halusinasi.

          Seperti diberitakan, menurut penuturan Rike Ameliya, suaminya sempat mengaku mendengar bisikan-bisikan suara sebelum kalap Senin (7/3) lalu. Dia juga mengaku mencium bau amis darah. Pengakuan Riyanto ini menurut Roni juga merupakan gejala halusinasi.

          Sementara itu, hingga kemarin empat korban pembacokan Riyanto masih menjalani perawatan di RSUD SLG. Mereka adalah Kasianto, 50; Tuminah, 60; Siswo, 60; dan Riyanti, 34. “Semua pasien sudah dioperasi,” kata Kasi Keperawatan RSUD SLG Sujiman.

          Kondisi keempat pasien yang sebelumnya mengalami luka parah itu kini mulai membaik. Dia mencontohkan kondisi Kasianto yang sudah bisa duduk. Adapun Tuminah, yang tak lain ibu Riyanto juga kian membaik. Perempuan yang sempat mendapat transfusi darah dua kali itu urung kehilangan jari tengah dan jari kelingkingnya. “Jari yang dibacok itu dilakukan operasi penyambungan dan berhasil,” urai Sujiman.

Baca Juga :  Tewas di Depan Teras Tetangga

          Dari empat pasien tersebut, tiga pasien di antaranya sudah menjalani perawatan di ruangan. Adapun Riyanti, adik Riyanto, yang mengalami luka paling parah, kini juga mulai stabil. Perempuan yang dirawat di Intensive Care Unit (ICU) itu rencananya akan dipindah ke ruang Punai setelah kondisinya benar-benar membaik. 

          Lebih jauh Sujiman menuturkan, meski kondisi empat pasien sudah mulai membaik, kemungkinan mereka masih mengalami trauma. Karena itu pula, hingga kemarin keempatnya belum bisa dimintai keterangan. (ara/ut)

 

Artikel Terkait

Most Read

Megengan Pandemi

Sembadra Karya


Artikel Terbaru

/