28.3 C
Kediri
Wednesday, July 6, 2022

Anggota Polsek Kunjang Bunuh Diri?

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Aipda Bambang Sugiartono ditemukan meregang nyawa di kantornya. Sabtu lalu (7/5), polisi yang berdinas di Bintara Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polsek Kunjang itu diduga bunuh diri dengan cara menembakkan senjata api (senpi) di kepalanya.

          Bambang yang masih memakai kaus lengan pendek warna cokelat itu terkapar di kursi penjagaan dengan luka tembak yang mengenai pelipis sebelah kanan. Di dekat jasadnya, ditemukan senpi jenis revolver yang tergeletak di lantai. Diduga, korban mengalami depresi sehingga nekat melakukan tindakan tersebut.

          Sampai berita ini diturunkan, tak satu pun anggota korps Bhayangkara itu yang membenarkan peristiwa tersebut. Saat dikonfirmasi melalui telepon, Kabid Humas Polda Jawa Timur (Jatim) Kombespol Dirmanto hanya mengatakan akan berkoordinasi dengan Kapolres Kediri AKBP Agung Setyo Nugroho.  “Nanti saya komunikasikan dengan kapolres,” tuturnya.

          Begitu pula ketika koran ini mencoba menghubungi Kasi Penerangan Masyarakat (Penmas) Humas Polres Kediri Ipda Affendi Suhut. Dia menyebut Bambang meninggal dunia karena serangan jantung. “Langsung ke kapolsek saja. Infonya karena serangan jantung,” kata Affendi.

Baca Juga :  Polisi Gagalkan Penyelewengan Pupuk Bersubsidi

          Sementara Kapolsek Kunjang Iptu Ashanik belum mengangkat telepon ketika dikonfirmasi. Saat berusaha dihubungi lewat pesan Whatsapp (WA), Ashanik hanya membaca tapi tidak membalas.

          Menurut sumber koran ini, peristiwa berdarah itu terjadi sekitar pukul 18.45. Saat itu, korban sempat menanyakan kepada anggota yang lain dengan kalimat “Ting, apakah nggak salat?”.

          Setelah itu, dua anggota lain langsung mengambil peralatan salat dan berangkat ke Masjid Mujahidin Desa Kapi, Kecamatan Kunjang. Sekitar pukul 19.20, dua anggota kembali ke Mapolsek Kunjang dan sudah mendapati tubuh Bambang tergeletak di kursi.

 “ Pada saat wudu, anggota polsek yang hendak salat di masjid itu sempat mendengar suara letusan seperti suara mercon,” ungkap sumber yang namanya mewanti-wanti untuk dikorankan ini.

          Setelah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), jenazah Bambang langsung dibawa ke Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Kediri. Dari peristiwa itu, ditemukan sejumlah barang bukti. Di antaranya satu pucuk senjata dinas jenis revolver no CP 7483 dan satu proyektil.

Baca Juga :  Ratusan Peserta PPDB di Kediri Terlempar di Tahap Pertama

          Dari keterangan sumber koran ini, korban meninggal dunia karena senpi. Bambang mengalami luka pada pelipis kanan tembus ke kepala sebelah kiri. Diduga, senpi tersebut diambil dari lemari penjagaan yang kuncinya berada di laci meja.

          Lalu, apa yang membuat Bambang bunuh diri? Menurutnya, korban tengah menghadapi  masalah keluarga yang membuatnya depresi. “Mungkin korban tidak kuat dengan tekanan masalah,” ucapnya.

          Terpisah, dokter forensik RS Bhayangkara Kediri dr Tutik Purwanti membenarkan jika ada anggota Polsek Kunjang yang dibawa ke RS pada Sabtu lalu (7/5). Namun pihak RS hanya disuruh melakukan perawatan seperti membersihkan dan memandikan jenazah. “Tidak ada permintaan otopsi. Hanya memandikan setelah itu diantar ke rumah duka,” kata Tutik. (ica/baz)

- Advertisement -

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Aipda Bambang Sugiartono ditemukan meregang nyawa di kantornya. Sabtu lalu (7/5), polisi yang berdinas di Bintara Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polsek Kunjang itu diduga bunuh diri dengan cara menembakkan senjata api (senpi) di kepalanya.

          Bambang yang masih memakai kaus lengan pendek warna cokelat itu terkapar di kursi penjagaan dengan luka tembak yang mengenai pelipis sebelah kanan. Di dekat jasadnya, ditemukan senpi jenis revolver yang tergeletak di lantai. Diduga, korban mengalami depresi sehingga nekat melakukan tindakan tersebut.

          Sampai berita ini diturunkan, tak satu pun anggota korps Bhayangkara itu yang membenarkan peristiwa tersebut. Saat dikonfirmasi melalui telepon, Kabid Humas Polda Jawa Timur (Jatim) Kombespol Dirmanto hanya mengatakan akan berkoordinasi dengan Kapolres Kediri AKBP Agung Setyo Nugroho.  “Nanti saya komunikasikan dengan kapolres,” tuturnya.

          Begitu pula ketika koran ini mencoba menghubungi Kasi Penerangan Masyarakat (Penmas) Humas Polres Kediri Ipda Affendi Suhut. Dia menyebut Bambang meninggal dunia karena serangan jantung. “Langsung ke kapolsek saja. Infonya karena serangan jantung,” kata Affendi.

Baca Juga :  Teras dan Pagar Warga di Tiron dan Banyakan Terancam Terkepras

          Sementara Kapolsek Kunjang Iptu Ashanik belum mengangkat telepon ketika dikonfirmasi. Saat berusaha dihubungi lewat pesan Whatsapp (WA), Ashanik hanya membaca tapi tidak membalas.

          Menurut sumber koran ini, peristiwa berdarah itu terjadi sekitar pukul 18.45. Saat itu, korban sempat menanyakan kepada anggota yang lain dengan kalimat “Ting, apakah nggak salat?”.

          Setelah itu, dua anggota lain langsung mengambil peralatan salat dan berangkat ke Masjid Mujahidin Desa Kapi, Kecamatan Kunjang. Sekitar pukul 19.20, dua anggota kembali ke Mapolsek Kunjang dan sudah mendapati tubuh Bambang tergeletak di kursi.

 “ Pada saat wudu, anggota polsek yang hendak salat di masjid itu sempat mendengar suara letusan seperti suara mercon,” ungkap sumber yang namanya mewanti-wanti untuk dikorankan ini.

          Setelah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), jenazah Bambang langsung dibawa ke Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Kediri. Dari peristiwa itu, ditemukan sejumlah barang bukti. Di antaranya satu pucuk senjata dinas jenis revolver no CP 7483 dan satu proyektil.

Baca Juga :  Nilai IPM Kota Kediri Lampaui Jatim dan Nasional, Ini Datanya

          Dari keterangan sumber koran ini, korban meninggal dunia karena senpi. Bambang mengalami luka pada pelipis kanan tembus ke kepala sebelah kiri. Diduga, senpi tersebut diambil dari lemari penjagaan yang kuncinya berada di laci meja.

          Lalu, apa yang membuat Bambang bunuh diri? Menurutnya, korban tengah menghadapi  masalah keluarga yang membuatnya depresi. “Mungkin korban tidak kuat dengan tekanan masalah,” ucapnya.

          Terpisah, dokter forensik RS Bhayangkara Kediri dr Tutik Purwanti membenarkan jika ada anggota Polsek Kunjang yang dibawa ke RS pada Sabtu lalu (7/5). Namun pihak RS hanya disuruh melakukan perawatan seperti membersihkan dan memandikan jenazah. “Tidak ada permintaan otopsi. Hanya memandikan setelah itu diantar ke rumah duka,” kata Tutik. (ica/baz)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/